Bumi tersakiti oleh Manusia
Jombang, pcnujombang.or.id – Bumi bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga bagian dari kehidupan itu sendiri. Ia bernafas, memberi makan, menumbuhkan, dan memelihara segala yang ada di dalamnya. Namun hari ini, bumi tampak letih. Tanah kehilangan kesuburannya, udara kian tercemar, sawah menjadi perumahan, dan berbagai eksploitasi alam yang kian ugal-ugalan.
Kerusakan lingkungan di Indonesia semakin parah. Praktik pembuangan sampah plastik semakin massif, penambangan ilegal, dan aktivitas industri yang merusak ekosistem menjadi penyebab krisis lingkungan. Krisis ekologi yang kita hadapi bukan sekadar persoalan teknis, tapi juga krisis moral dan spiritual. Manusia sudah kehilangan rasa cinta dan hormat terhadap alam.
Alam sebagai Pasangan : Relasi Cinta dan Tanggung Jawab
Dalam filosofi ekologis dan spiritual, alam seharusnya diperlakukan seperti istri yang dicintai. Hubungan itu dilandasi kasih, tanggung jawab, dan keseimbangan. Manusia menanam, alam menumbuhkan. Manusia menjaga, alam memberi hasil. Sebagai khalifah, manusia mempunyai tanggung jawab moral dalam melestarikan dan merawat alam ini dengan sebaik-baiknya. Bukan sebaliknya, justru merusak alam tanpa berpikir panjang.
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini adalah seruan lembut agar manusia menjaga bumi dengan cinta, bukan keserakahan. Dalam hubungan suci itu, manusia tidak merasa berkuasa, tetapi bersyukur. Ia memahami bahwa bumi adalah titipan, bukan milik pribadi. Maka merawat alam adalah bentuk ibadah — wujud nyata cinta kepada Sang Pencipta.
Alam sebagai Prostitute: Nafsu Menggantikan Cinta
Sebaliknya, ketika manusia memperlakukan alam semata-mata untuk kepentingan ekonomi dan nafsu kekuasaan, maka relasi itu berubah menjadi kering dan transaksional. Alam ibarat pelacur — simbol dari sesuatu yang digunakan tanpa cinta, tanpa tanggung jawab, hanya demi kenikmatan sesaat.
Dalam hubungan ini tidak ada kasih, hanya eksploitasi. Manusia hanya datang ketika butuh, lalu pergi setelah puas. Sebagai manusia, pasti membutuhkan alam untuk mencukupi kebutuhannya. Bahkan semua yang kita pakai sehari-hari, semuanya dari Alam. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, rumah, perhiasan, kendaraan dan berbagai alat dan kebutuhan kita.
Krisis ekologi modern, lahir dari relasi semacam ini. Ketika manusia mengganti cinta dengan nafsu, bumi perlahan kehilangan daya hidupnya. Dan ironisnya, manusia pun kehilangan jati dirinya.
Sudah saatnya manusia menata ulang cara pandangnya terhadap bumi. Kita perlu membangun spiritualitas ekologis — kesadaran bahwa alam adalah pasangan eksistensial manusia. Dalam tradisi Islam, manusia disebut khalifah fil ardh — penjaga bumi, bukan penguasa semena-mena.
Dalam Kaidah Fiqhiyyah :
دَرْءُ المَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ المَصَالِحِ”
Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada meraih kemaslahatan.
Kemajuan teknologi dan ekonomi tidak boleh mengorbankan keseimbangan ekologi. Ketika proyek pembangunan menyebabkan kerusakan lingkungan besar, maka harus dicegah, meskipun tampak menguntungkan secara materi.
Pesantren menjadi pelopor eco-pesantren
Pesantren dan lembaga keagamaan bisa menjadi pelopor perubahan ini. Gerakan eco-pesantren, green dakwah, dan pendidikan lingkungan berbasis nilai-nilai keislaman dapat menumbuhkan kesadaran bahwa mencintai alam adalah bagian dari ibadah.
Salah satu pesantren di Jombang yang memiliki kepedulian terhadap alam adalah Pesantren Mambaul Hikam Jatirejo Diwek. Hj. Ika Maftuhah Mustiqowati, adalah sosok yang mampu mengangkat pesantren sebagai pelopor cinta lingkungan. Selain itu, pengajian Fikih Bi’ah (Fikih Lingkungan) juga menjadi kajian wajib bagi santri.
Gerakan ini mampu memberikan kesadaran mendalam bagi santri, agar memahami hubungan manusia dengan alam. Bahkan dari Gerakan cinta lingkungan ini, Berbagai Produk dari olahan alam menjadi salah satu sumber ekonomi dan kemandirian pesantren.
Saatnya kita belajar mencintai alam, alam sudah memberikan banyak kepada kita, lantas apa yang sudah kita lakukan terhadap alam ini ?
