Jombang, pcnujombang.or.id – Penyelenggaraan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Zona III PCNU Jombang secara resmi dibuka oleh Rois Syuriah PCNU Jombang, KH. Achmad Hasan. Pelaksanaanya di Pondok Pesantren Jannaturroichan Peterongan Jombang pada hari senin (9/6/2025). Beliau memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan Lajnah Bahtsul Masail (LBM) ini.
Ada sekitar 70 peserta dari perwakilan masing-masing MWC NU dan beberapa pondok pesantren yang mengikuti kegiatan ini. Tampak hadir sebagai Mushohhih pada pelaksanaan LBM ini yakni KH. Mukhlis dan KH. Syaikhu. Fokus LBM ini membahas masalah-masalah Waqiiyyah.
KH. Yunus Roichan sendiri menyambut hangat kegiatan ini. “Saya sangat senang sekali rumah saya Menjadi tempat Bahtsul Masail, Semoga dalam Majelis Ilmu ini serta kehadiran para kiai dan musyawirin di pesantren kami membawa berkah, amiin,” ungkapnya.
Selanjutnya, KH. Ahmad Hasan, Rois Syuriah PCNU Jombang, menyampaikan terima kasih kepada shohibul ma’had, KH. Yunus Roichan, yang telah memfasilitasi terselenggaranya Bahtsul Masail ini.
Sinergi Kiai Sepuh dan Kiai Muda
KH. KH. Hasan juga mengapresiasi para kiai yang secara langsung mendampingi para kiai muda dalam proses bahtsul masail untuk menjawab berbagai persoalan waqiiyyah yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut KH. Hasan, para kiai muda memiliki potensi besar dalam mengembangkan pemikiran Islam khususnya dalam bidang Fiqh. “Anak-anak muda ini pikirannya masih sangat potensial untuk terus berkembang. Mereka membawa semangat dan energi baru dalam menggali hukum-hukum Islam,” ujarnya.
Pentingnya Pemanfaatan Teknologi
Beliau juga menyoroti bagaimana teknologi telah memudahkan proses bahtsul masail. “Dulu kami harus membawa banyak kitab. Sekarang, para peserta cukup menggunakan alat yang ringkas (laptop atau tablet). Teknologi benar-benar memudahkan kita dalam mengakses referensi dan mempercepat kajian,” ujarnya.
KH. Hasan juga mendorong para santri dan kiai muda untuk menguasai keterampilan digital sebagai bagian dari proses tafaqquh fiddin. “Kita harus menggunakan teknologi untuk mendukung kepentingan agama, terutama dalam kajian fiqh. Jika kita memanfaatkannya dengan baik, teknologi akan menjadi alat yang sangat membantu,” tegasnya.
Masyarakat sekitar juga menyambut kegiatan LBM Zona III ini dengan antusias. Keaktifan kiai-kiai muda dalam berdiskusi dan kemahiran mereka dalam teknologi menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus menunjukkan bahwa pesantren mampu menjaga tradisi sambil terus berinovasi mengikuti zaman.
