Jombang, pcnujombang.or.id – Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa spiritual yang menakjubkan. Peristiwa ini justru menjadi fondasi utama kurikulum pendidikan Islam. Dari perjalanan langit itulah Rasulullah SAW membawa pulang “silabus kehidupan” paling mendasar bagi umat manusia: shalat. Ia tidak hadir hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai sistem pendidikan yang membentuk manusia secara utuh—akalnya tercerahkan, jiwanya tenang, dan perilakunya berakhlak.
Shalat tidak berdiri sebagai kewajiban formal belaka. Ia berfungsi sebagai kurikulum hidup, pedoman harian yang Allah rancang langsung untuk menata kehidupan manusia agar memiliki ketenangan batin, kelurusan akhlak, dan kejelasan arah hidup.
Shalat sebagai Kurikulum Ilahiah dalam Pendidikan Islam
Berbeda dengan kurikulum buatan manusia yang terus berganti mengikuti kebijakan dan zaman mulai dari Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, hingga kurikulum cinta. Shalat hadir sebagai kurikulum ilahiah yang melampaui zaman. Ia tidak tunduk pada tren, karena ia menyentuh hakikat manusia itu sendiri.
Jika kurikulum sekolah mengatur apa yang harus dipelajari manusia dalam rentang waktu tertentu, maka shalat mengatur bagaimana manusia menjalani hidupnya sepanjang hayat. Di dalam shalat, manusia belajar disiplin waktu; setiap takbir mengajarkan pentingnya keteraturan hidup.
Shalat juga menumbuhkan kesadaran diri, mengajak manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk kembali mengenali dirinya dan Tuhannya. Dalam sujud, shalat menanamkan kerendahan hati, mengajarkan bahwa setinggi apa pun jabatan dan prestasi manusia, ia tetap seorang hamba.
Implementasi Kurikulum Shalat dalam Kehidupan
Dalam perspektif pendidikan Islam, shalat tidak cukup sebagai teori atau hafalan. Ia harus dihidupkan dan diimplementasikan dalam seluruh dimensi kehidupan peserta didik. Implementasi itu berlangsung dalam tiga ranah utama yang saling terhubung; tarbiyah ruhiyyah, nafsiyyah, Akhlaqiyyah.
Pertama adalah ranah spiritual (tarbiyah ruhiyyah). Melalui shalat, manusia membangun hubungan vertikal yang intim dengan Allah. Setiap gerakan dan bacaan shalat menanamkan kesadaran bahwa hidup selalu berada dalam pengawasan-Nya (muraqabah).
Dari kesadaran inilah lahir ketenangan batin dan orientasi hidup yang tidak semata duniawi, tetapi juga ukhrawi. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya mengetahui tata cara shalat, tetapi merasakan shalat sebagai kebutuhan jiwa, sebagai ruang perjumpaan batin yang menenangkan dan menguatkan makna hidup.
Kedua adalah ranah psikologis (tarbiyah nafsiyyah). Di tengah kehidupan modern yang sarat tekanan, kompetisi, dan kelelahan emosional, shalat hadir sebagai penyangga kesehatan mental. Ia melatih pengendalian emosi, menguatkan daya tahan batin, serta menyediakan ruang refleksi diri yang jujur dan mendalam.
Dalam keheningan shalat, manusia belajar menata ulang perasaan, menerima keterbatasan, dan menemukan keseimbangan hidup. Karena itu, shalat dalam pendidikan Islam berfungsi bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan mental health berbasis spiritualitas.
Ketiga adalah ranah sosial dan akhlak (tarbiyah akhlaqiyyah). Implementasi shalat sejati tidak berhenti di sajadah. Ia harus tampak nyata dalam perilaku sehari-hari. Shalat yang benar melahirkan kejujuran dalam ucapan dan tindakan, menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, serta membentuk sikap tanggung jawab dan amanah.
Allah Swt menegaskan bahwa, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan kurikulum shalat dari perubahan akhlak dan kualitas hidup, bukan semata dari keteraturan ritual.
Kurikulum Jiwa di Tengah Krisis Mental
Hari ini, dunia menghadapi krisis kesehatan mental yang nyata. Stres, kecemasan, dan kelelahan emosional menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Ironisnya, kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin.
Di sinilah shalat tampil sebagai kurikulum jiwa. Lima kali dalam sehari, manusia kembali pada pusat kehidupannya: Allah. Shalat menyediakan ruang aman untuk mengadu, berserah, dan menata ulang emosi.
Ia mengajarkan manusia berhenti sejenak dari kesibukan, meluruskan niat, dan menata kembali arah hidup. Tidak berlebihan jika shalat disebut sebagai terapi spiritual paling konsisten dalam sejarah manusia.
Isra’ Mi‘raj menegaskan satu pesan penting: perubahan besar dalam masyarakat selalu berawal dari pembinaan spiritual individu. Ketika manusia menegakkan shalat secara sadar dan reflektif, ia tidak hanya membentuk pribadi saleh, tetapi juga melahirkan masyarakat beradab dan peradaban yang bermakna.
