Dakwah Lewat Drama

Selamat datang, kami ucapkan para hadirin yang budiman silakan duduk menikmati hiburan, hiburan kami dari para santri semoga kita di rahmati illahi.

Begitulah bunyi lirik lagu pembuka dengan musik merdu terdengar menggema di gedung kesenian Jombang dalam sebuah pertunjukan gambus misri berlakon Yarmuk karya gabungan antara santri dan pelajar madrasah Alhikam Jatirejo Diwek Jombang.

Saat ini, rasanya sangat jarang sekali kita temui pentas drama dari para santri khususnya di wilayah Jombang, yang sekarang lebih gandrung pada seni beladiri dan konten kreatif daripada seni peran atau drama. Padahal banyak seni pertunjukan yang lahir dari kota santri Jombang semisal ludruk, besutan bahkan ada yang benar benar muncul dari kalangan santri yaitu seni pertunjukan gambus misri yang dipopulerkan oleh alm. Asfandi ayah dari pelawak alm. Asmuni.

Gambus misri adalah perpaduan antara masrohiyah (seni peran di timur tengah) dan pertunjukan ludruk yang kala itu lebih dulu ada di Jombang, dalam gambus misri biasanya cerita yang diangkat berunsur agama, dan diselingi dengan sedikit banyolan atau canda didalamnya.

Gambus misri sudah lama redup eksistensinya, namun Mutiara Hikam -sebuah kelompok teater santri yang terbentuk sejak tahun 2015- kembali megangkat seni pertunjukan drama ini sebagai wadah dakwah islam sekaligus hiburan bagi masyarakat dari kalangan para santri. Kelompok teater ini diprakarsai oleh Ibu Hj. Maftuhah Mustiqowati selaku kepala madrasah Alhikam dan dibantu oleh mbak Nur Azizah sebagai pelatih teater di Mutiara Hikam.

Sebagaimana namanya, Mutiara Hikam seakan sukses memunculkan kembali gambus misri ke permukaan setelah lama mengendap didasar lautan hiburan Indonesia. Sejak lahirnya, kelompok teater mutiara hikam konsisten mengusung gambus misri dalam setiap pertunjukan dramanya dan telah banyak karya yang telah mereka pentaskan diantaranya berjudul Berandal Lokajaya (2016), Abu Nawas (2019), Laksama Keumalahayati (2020), Sampah Masyarakat (2022) dan yang dipentaskan tahun ini berjudul Yarmuk.

Semua ceritanya berbasis pengetahuan dan sejarah agama islam, sebagimana gambus misri dulu berkembang dilingkungan santri dan masyarakat. Bila dulu sunan kalijaga masyhur dengan mengakulturasi budaya wayang dengan cerita dan lakon islami maka mutiara hikam juga punya tujuan yang sama yakni berdakwah melalui drama, agar apa yang disampaikan lebih mengena dan tervisualisasi.

Kembali lagi pada tujuan utama yakni berdakwah lewat drama, sebuah bentuk dakwah yang sudah sangat jarang dipakai ditengah gempuran konten youtube, tiktok dan lain sebagainya. Bila melihat animo penonton dalam pementasan drama dengan lakon Yarmuk pada saat tulisan ini dibuat, rasanya masyarakat Jombang sangat antusias dan rindu dengan adanya pertunjukan drama apalagi dari kalangan para santri.

Bukan hanya masyarakat yang antusias akan kembalinya gambus misri sebagai media hiburan, NU sebagai organisasi juga turut andil dengan munculnya kelompok teater mutiara hikam yang mengusung gambus misri sebagai sarana dakwah para santri di masyarakat. Karena ibu Hj. Maftuhah Mustiqowati kepala madrasah Alhikam adalah salah satu pengurus di lembaga pendidikan ma’arif PCNU Jombang.

Semangat untuk kelompok mutiara hikam dalam berdakwah dan semoga selalu terus istiqomah dalam berkarya serta bisa menjadi contoh baik untuk kalangan santri di Jombang khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pada akhirnya penulis tutup tulisan ini dengan lirik khas gambus misri yang dibawakan oleh mutiara hikam dalam pentas lakon Yarmuk.

Wahai penonton dan handai tolan
Ini hari yang paling bahagia
Kami persembahkan hiburan untuk semua mari bersama berdendang suka cita
Semoga semua menjadi lebih berkah

Jombang, 11 November 2024
Diterbitkan Oleh : Media Center – LTN PCNU Jombang
Penulis : Musta’in Sayyidul Kawnain, Lc.
Editor :
Musta’in Sayyidul Kawnain, Lc.

Exit mobile version