Mojowarno, pcnujombang.or.id – Nur Sholeh. Nama itu melekat pada sosok yang akrab disapa Gus Nur atau Cak Nur oleh warga sekitar.
Sosok yang penuh kesederhanaan ini tinggal bersama empat anaknya di Dusun Gedangan, Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Mungkin, Cak Nur bukan siapa-siapa di mata sebagian orang, sebab profesinya hanyalah sebagai perajin genteng. Profesi itu ia jalani selama bertahun-tahun, bersama mendiang sang istri.
Bapak empat anak ini telah pensiun sebagai perajin genteng sejak setahun lalu. Faktor usia dan kondisi kesehatan memaksanya untuk berhenti.
Aktif Mengikuti Kegiatan NU
Meskipun disibukkan dengan kegiatan sebagai perajin genteng, Cak Nur hampir selalu memiliki waktu untuk mengikuti kegiatan Nahdlatul Ulama (NU).
Sepanjang tidak ada uzur syar’i, ia selalu hadir pada pengajian rutin setiap Selasa malam Rabu yang digelar Pengurus Ranting NU Desa Gedangan.
Dirinya hadir tidak hanya untuk memimpin tahlil maupun istigasah. Tak jarang, ia menyampaikan ceramah dan memimpin doa, atau menjadi jamaah biasa yang mengikuti pengajian.
Di tengah kesibukannya, Cak Nur juga rutin mengikuti pengajian Thariqah Cukir (Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah) setiap hari Senin.
Selain itu, ia juga merupakan jamaah tetap pada pengajian Thariqah Cukir yang digelar setiap Sabtu di Masjid Desa Gedangan.
Istikamah Salat Berjamaah
Cak Nur adalah sosok yang hampir selalu diminta untuk memimpin tahlil saat warga menggelar hajatan, baik di lingkungan sekitar maupun di lingkungan yang cukup jauh dari rumahnya.
Di mata masyarakat sekitar, Cak Nur adalah sosok sederhana dan tidak neko-neko. Istilah lainnya, “Wong Temen” (orang yang jujur/bersungguh-sungguh).
Di mata keluarga, ia merupakan sosok yang tegas dan konsisten dalam membimbing dan membina anak-anaknya.
Dalam kesehariannya, Cak Nur tidak pernah mau melepaskan kesempatan untuk melaksanakan salat berjamaah.
“Dalam kondisi apa pun, baik itu hujan deras atau sakit, Bapak selalu ke musala. Ada orang atau tidak di musala, tetap berangkat,” ungkap Taufiq Umar, anak kedua Cak Nur.
“Kecuali karena kondisi sakit dan tidak kuat berangkat, baru mau salat di rumah. Itu pun masih mencari-cari anaknya untuk salat berjamaah,” lanjutnya.
Berpulang Saat Acara Muslimatan
Jumat (14/11/2025) siang, Cak Nur menghadiri acara Muslimatan di Musala Darussalam, tak jauh dari rumahnya.
Kegiatan itu diikuti ratusan jemaah Muslimat NU Ranting Gedangan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Seperti biasa, acara Muslimatan tersebut diawali dengan pembacaan tahlil. Cak Nur didapuk untuk memimpin tahlil.
Namun, di luar kebiasaannya, Cak Nur saat itu mengawali acara tahlilan dengan menyampaikan ceramah singkat. Padahal, sebelum-sebelumnya, ia langsung memimpin tahlil tanpa ceramah terlebih dulu.
Dalam ceramahnya, Bapak empat anak itu mengungkapkan pentingnya mencari ilmu bagi setiap orang. Ia juga menyebut bahwa mengikuti pengajian merupakan bagian dari usaha mencari ilmu.
Mengakhiri ceramahnya, Cak Nur juga menyampaikan permintaan maaf. Ia juga sempat menjelaskan pentingnya sikap saling memaafkan antar sesama.
Cak Nur kemudian memimpin tahlil, diawali dengan pembacaan wasilah. Namun, setelah itu, ia terdiam. Suaranya tak terdengar lagi. Allah Swt. telah memanggilnya. Di hadapan ratusan jemaah Muslimat NU, beliau berpulang.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…
Selamat Jalan, Cak Nur Sholeh…
