Eksistensi NU dan Makna ‘Wani Ngalah’ dalam Peringatan Harlah ke-102

Jombang, Nahdlatul Ulama (NU) memperingati hari lahirnya yang ke-102 dengan mengusung tema “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat.” Sejak berdiri pada 16 Rajab 1446 H, NU menjadi organisasi Islam yang konsisten dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah “An-Nahdliyah” serta mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keberadaannya terus relevan dalam upaya mewujudkan Indonesia yang damai dan sejahtera.

Peringatan Harlah ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin. Tema yang diangkat mengandung pesan kuat bahwa NU harus terus bekerja bersama umat dengan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan demikian, NU dapat terus menjadi lokomotif perubahan positif bagi bangsa.

Wani Ngalah: Filosofi Keikhlasan dan Kebersamaan

Dalam perjalanan panjangnya, NU selalu menanamkan prinsip “Wani Ngalah,” yang bermakna keberanian untuk mengalah demi kemaslahatan umat. Secara etimologi, “ngalah” berasal dari dua kata, “Nga” yang berarti menuju atau kembali, dan “Lah” yang berarti Allah. Dengan demikian, “ngalah” bermakna kembali dan menuju kepada Allah dalam setiap keputusan dan tindakan.

Konsep ini sangat relevan dalam kehidupan sosial. Di lingkungan keluarga, misalnya, jika tidak ada yang mau mengalah, konflik dapat berujung pada perpecahan yang merugikan anak-anak. Dalam lingkup yang lebih besar, seperti organisasi dan kepemimpinan, sikap egois tanpa prinsip tabayyun (klarifikasi) hanya akan menimbulkan perpecahan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Prinsip “Wani Ngalah” juga mencerminkan sikap progresif dalam organisasi. Seorang kader NU sejatinya harus berani mengorbankan tenaga, pikiran, dan materi demi keberlanjutan perjuangan NU. Tidak ada peran yang terlalu kecil, bahkan tugas seperti membersihkan masjid sekalipun adalah bentuk nyata dari keberanian untuk mengalah demi kepentingan bersama.

Menguatkan Solidaritas dan Ukhuwah Nahdliyah

Sebagai organisasi besar, NU memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga soliditas internalnya. Konflik kepentingan sering kali menjadi batu sandungan dalam perjalanan organisasi. Oleh karena itu, prinsip “Wani Ngalah” menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi untuk menciptakan keseimbangan dan kedamaian dalam setiap dinamika yang terjadi.

Harlah NU ke-102 ini menjadi ajang refleksi bagi setiap kader NU agar lebih mengedepankan persatuan dan ukhuwah Nahdliyah. Dengan meninggalkan ego dan mengutamakan kepentingan umat, NU dapat terus berkembang sebagai organisasi Islam terbesar yang mampu memberikan maslahat bagi Indonesia. Prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, tasamuh (toleransi), dan tawazun (keseimbangan) yang selalu diajarkan oleh para pendiri NU.

Di tengah tantangan zaman, semangat “Wani Ngalah” harus terus digaungkan, tidak hanya dalam lingkup organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan berbangsa. Dengan mengedepankan kebersamaan dan keikhlasan, NU akan semakin kuat dalam mengawal persatuan dan kemajuan Indonesia.

Exit mobile version