Refleksi angka 81 dan 35: Dari Kemerdekaan Menuju Khidmat

JOMBANG, pcnujombang.or.id – Tahun ini Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan. Beberapa hari kemudian, tak berselang lama pada bulan yang sama, Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Muktamar merupakan forum musyawarah tertinggi NU untuk merumuskan arah perjuangan organisasi, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen terhadap kemaslahatan bangsa.

Dua momentum tersebut hadir dalam bulan yang sama. Kemerdekaan mengingatkan bangsa Indonesia tentang perjalanan panjang menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Sementara Muktamar mengajak warga NU untuk melihat kembali perjalanan organisasi dan menentukan arah khidmat ke depan.

Sekilas, keduanya berbeda. Kemerdekaan berbicara tentang perjalanan sebuah bangsa, sedangkan Muktamar berbicara tentang perjalanan sebuah jam’iyah. Namun keduanya bertemu pada satu pertanyaan: bagaimana sebuah perjalanan panjang diterjemahkan menjadi pengabdian (Khidmat) ?

Angka 81 dari angka 9 yang berlipat

Ada permainan angka yang menarik untuk direnungkan. 81 = 9 × 9. Angka sembilan memiliki resonansi kuat dalam simbolisme NU, terutama melalui sembilan bintang dalam lambang NU. Tentu, ini bukan sebuah penafsiran, melainkan pembacaan secara filosofis: nilai yang baik tidak cukup dipertahankan, tetapi harus dilipatgandakan.

Jika 81 tahun kemerdekaan adalah perjalanan bangsa, maka pertanyaannya bukan sekadar “sudahkah kita merdeka?” Melainkan, “untuk apa kemerdekaan itu kita gunakan?”

Jika 81 = 9 × 9, kita dapat menjadikannya sebagai simbol untuk terus melipatgandakan nilai-nilai luhur: pesantren menebarkannya kepada masyarakat, ulama mewariskannya kepada generasi muda, dan NU mengabdikan nilai-nilai tersebut untuk Indonesia.

Sebab penjajahan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk penguasaan wilayah. Ia dapat hadir melalui ketergantungan, konsumerisme, disinformasi, bahkan algoritma yang perlahan menentukan apa yang kita lihat, pikirkan, dan percayai. Karena itu, kemerdekaan membutuhkan kedewasaan berpikir dan tanggung jawab moral.

Baca Juga  Jelang Muktamar ke-35, PCNU Jombang Terbitkan Instruksi Sukseskan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

Muktamar ke-35: Transformasi Kemerdekaan Menuju Khidmat

Di sisi lain, Muktamar ke-35 dapat menjadi ruang untuk memperbarui makna khidmat. Angka 35 secara sederhana berjumlah 8, sementara 17 juga berjumlah 8 dan Agustus merupakan bulan kedelapan. Permainan angka ini bukan untuk mencari ramalan atau angka kesukaan presiden ke-8, melainkan untuk menemukan jembatan refleksi: kemerdekaan dan Muktamar sama-sama menandai perjalanan menuju kedewasaan.

Dari ruang-ruang pesantren, para ulama dan santri ikut merawat kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan, perjuangan, dan pengabdian. Kini, dari tempat yang sama, di Tambakberas, NU kembali menyusun langkah untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah. PBNU menetapkan Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 pada 7 Juli 2026.

Muktamar bukan sekadar pergantian kepemimpinan atau penyusunan program. Ia adalah kesempatan untuk bertanya: ke mana NU hendak membawa khidmatnya di tengah perubahan zaman?

Ada hubungan yang indah antara kemerdekaan dan khidmat.

Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada manusia untuk menentukan jalan hidupnya. Khidmat mengajarkan bahwa kebebasan itu tidak boleh berhenti pada kepentingan diri sendiri.

Orang merdeka bukan orang yang bebas melakukan apa saja. Orang merdeka adalah orang yang mampu menggunakan kebebasannya untuk menghadirkan kebaikan. Kemerdekaan bangsa dan khidmat keumatan akhirnya bertemu pada satu titik: kemaslahatan manusia.

Sebagai Pemimpin harus mampu menghadirkan kemaslahatan bersama sebagaimana kaidah dalam fikih :

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berorientasi pada kemaslahatan.”

Ini sangat relevan dengan Muktamar NU. Muktamar bukan sekadar memilih pemimpin, tetapi menentukan arah kebijakan organisasi agar seluruh keputusan dan gerak NU menghasilkan maslahah bagi umat dan bangsa.

Karena itu, 81 tahun Indonesia merdeka dan Muktamar NU ke-35 dapat kita lihat sebagai satu rangkaian refleksi. Kemerdekaan memberi bangsa ini ruang untuk menentukan masa depan, sedangkan khidmat mengarahkan kebebasan itu agar menghasilkan kemaslahatan.

Baca Juga  Memperingati Hari Santri, Sumpah Pemuda, dan Hari Pahlawan: MWCNU Jogoroto Gelar Jalan Sehat

81 tahun merdeka. 35 kali bermuktamar. Saatnya bukan sekadar menghitung usia dan jumlah, tetapi mengukur seberapa jauh kemerdekaan dan khidmat telah menghadirkan kemaslahatan.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang tidak melahirkan kemaslahatan akan kehilangan maknanya, sementara khidmat yang tidak berpijak pada kemerdekaan manusia akan kehilangan arah. Maka kemerdekaan adalah kesempatan, sedangkan khidmat adalah cara mengisinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *