LTN PCNU Jombang Hadirkan Kampung Literasi di Tengah Gelaran Muktamar ke-35 NU

JOMBANG, pcnujombang.or.id — Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berpusat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi ruang permusyawaratan tertinggi warga Nahdlatul Ulama. Momentum tersebut juga menjadi panggung bagi berbagai elemen Nahdliyin untuk menunjukkan kontribusi melalui kerja-kerja sosial, intelektual, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu kontribusi tersebut hadir dari Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Jombang. Lembaga yang bergerak di bidang literasi dan publikasi ini mengambil peran melalui sejumlah program yang menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan kebutuhan masyarakat di tengah perhelatan Muktamar.

Kampung Literasi

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Kampung Literasi Gang Aufa. Berada tepat di sebelah barat kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, RT 01 Desa Tambakrejo, Kampung Literasi dihadirkan sebagai ruang publik yang mempertemukan buku, gagasan, seni, budaya, dan ekonomi kerakyatan.

Kawasan tersebut disulap menjadi ruang literasi terbuka dengan menghadirkan bazar ribuan koleksi buku dari belasan penerbit nasional. Masyarakat, peserta Muktamar, santri, dan pengunjung dapat mengakses berbagai bacaan sekaligus mengikuti diskusi dan kegiatan kebudayaan.

“Literasi tidak harus selalu berada di dalam ruang kelas atau gedung formal. Di tengah Muktamar, ruang publik juga dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, pengetahuan, dan masyarakat,” ujar Nina

Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, 26–31 Agustus 2026. Sebanyak 16 relawan dilibatkan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan secara bergantian mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

Musholla Menjadi Ruang Bertemunya Gagasan

Semangat literasi di Kampung Literasi Gang Aufa tidak berhenti pada aktivitas jual beli buku. Musholla H. Djoenoes yang berada di kawasan tersebut turut difungsikan sebagai ruang diskusi dan bedah gagasan.

Baca Juga  Daftar Juara Lomba Baca Kitab Putri Tingkat MI pada Ajang Santri Fest 2024

Di ruang sederhana itu, akademisi, penulis, dan aktivis pergerakan dipertemukan untuk membicarakan berbagai isu keislaman, kebangsaan, kepesantrenan, dan perkembangan masyarakat.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa literasi dalam tradisi Nahdlatul Ulama tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membaca teks. Literasi juga menjadi jalan untuk membaca perubahan zaman, memahami persoalan masyarakat, dan merumuskan gagasan yang dapat memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Kampung Literasi dengan demikian menjadi semacam “ruang antara” yang mempertemukan tradisi membaca dengan tradisi bermusyawarah yang selama ini menjadi bagian penting dari kultur pesantren dan NU.

Ketika Literasi Menghidupkan Ekonomi Warga

Menariknya, geliat Kampung Literasi juga berdampak langsung terhadap masyarakat sekitar. Belasan pelaku UMKM di sepanjang Gang Aufa turut mengambil bagian dengan menyajikan beragam kuliner khas Jombang.

Kehadiran para pelaku usaha lokal membuat kawasan tersebut tidak hanya menjadi tujuan bagi pencinta buku, tetapi juga ruang interaksi ekonomi masyarakat.

Pengunjung yang datang untuk membeli buku maupun mengikuti diskusi dapat sekaligus menikmati kuliner lokal. Dengan demikian, aktivitas literasi berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi warga.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat dirancang secara inklusif. Buku dan gagasan tidak berdiri sendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.

Kampung Literasi Gang Aufa menjadi salah satu contoh bagaimana momentum besar NU dapat memberi ruang tumbuh bagi masyarakat. Buku menghadirkan pengetahuan, diskusi melahirkan gagasan, seni merawat kebudayaan, media mengabadikan peristiwa, sementara UMKM menggerakkan ekonomi warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *