Menyalakan Kembali Jejak Para Masyayikh, LTN PCNU Jombang Luncurkan Buku “21 Masyayikh NU Jombang”

JOMBANG, pcnujombang.or.id — Ada banyak cara untuk menghormati seorang kiai. Mengingat nasihatnya, meneruskan perjuangannya, atau mengamalkan ilmu yang pernah diajarkannya. Tetapi ada satu cara lain yang tidak kalah penting: menuliskan kisahnya agar keteladanannya tidak hilang ditelan zaman.

Semangat itulah yang terasa dalam peluncuran dan bedah buku 21 Masyayikh NU Jombang yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Jombang di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3, Tambakberas, Jombang, Ahad (30/8/2026).

Peluncuran dan bedah buku ini juga bersamaan dengan 3 buku lainnya. Ada buku Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH A. Hamid Chasbullah, Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq, dan KH. Abdul Wahab Chasbullah Sang Murobbi

Di tengah hiruk-pikuk Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di kawasan Tambakberas, buku tersebut hadir seperti sebuah jeda untuk menengok kembali ke belakang. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menemukan kembali akar yang membuat NU tetap tumbuh dan bertahan hingga hari ini.

Empat Karya, Empat Jejak Keilmuan

Dalam kegiatan tersebut, terdapat empat karya yang diluncurkan dan dibedah.

Pertama, buku Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH A. Hamid Chasbullah. Karya ini mengangkat kisah keteladanan dan amalan KH A. Hamid Chasbullah, salah seorang ulama yang memiliki jejak penting dalam tradisi keilmuan pesantren di Jombang.

“Sosok Kiai Hamid dalam haliyahnya perlu kita contoh dalam kehidupan kita sehari-hari terutama dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama” ujar Kiai Aunur Rofiq

Kedua, buku 21 Masyayikh NU Jombang, karya yang disusun LTN NU Jombang. Buku ini menghimpun kisah dan keteladanan 21 masyayikh NU Jombang sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan para ulama sekaligus menjaga mata rantai sejarah Nahdlatul Ulama di daerah yang dikenal sebagai salah satu basis pesantren tersebut.

Ketiga, kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, yang dalam kegiatan tersebut dikaji melalui perspektif dan penjelasan Mukti Ali Qusyairi, Lc., MA.

“Buku ini hadir untuk memudahkan para pembaca dalam memahami istilah-istilah dalam dunia tasawuf seperti maqamat, thoriqah, zuhud, wirai dan lain sebagainya” ujar Kiai Mukti

Keempat, buku KH. Abdul Wahab Chasbullah Sang Murobbi karya KH. Abdul Latif Malik, Lc., M.Pd. Karya ini menghadirkan sosok KH Abdul Wahab Chasbullah bukan hanya sebagai tokoh NU, tetapi juga sebagai figur pendidik (Murabbi) sekaligus pembimbing umat.

Baca Juga  Menjelang Muktamar NU, LTN PCNU Jombang Rilis Buku 21 Masyayikh NU Jombang

“Buku Mbah Wahab ini berbeda dengan yang lainnya. Banyak buku tentang Mbah Wahab sebagai Muallim, Muharrik, namun jarang sekali yang mengangkat beliau sebagai pendidik atau Murobbi” ujar Gus Lathif

Keempat karya tersebut memperlihatkan spektrum literasi yang cukup luas: mulai dari biografi ulama lokal, sejarah tokoh NU, khazanah tasawuf, hingga keteladanan dalam pendidikan.

21 Masyayikh NU Jombang: Agar Jejak Tidak Hilang

Bagi LTN PCNU Jombang, buku 21 Masyayikh NU Jombang memiliki arti lebih dari sekadar sebuah buku biografi. Buku ini merekam kisah 21 masyayikh NU Jombang—para ulama yang dengan ilmu, ketekunan, dakwah, dan pengabdiannya telah memberikan warna dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di Jombang.

Ahmad Fatoni dalam pemaparannya menyampaikan bahwa di dalam buku 21 masyayikh ini tersimpan kisah perjalanan para ulama yang menjadi bagian dari denyut kehidupan NU di Jombang.

“Mereka adalah para masyayikh yang mengajarkan ilmu, membimbing santri, mendidik masyarakat, serta turut merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.”ujar Fatoni

Menulis kisah mereka menjadi penting karena sejarah NU tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh yang namanya dikenal secara nasional.

Di tingkat lokal, terdapat banyak kiai yang bekerja dalam keheningan, mendirikan lembaga pendidikan, mengajar santri, membimbing masyarakat, dan menjaga tradisi keislaman dari generasi ke generasi.

Dr. Anang juga menyampaikan bahwa buku ini merupakan kompilasi dari beberapa kontributor yang ikut sayembara menulis pada hari santri yang lalu.

“ini adalah buku anthology pertama yang nantinya akan ada kelanjutannya. Masih banyak masyayikh NU yang belum tercover pada buku ini, maka kami memerlukan banyak kontribusi dari para penulis”, ujar Anang

Launching di Tengah Muktamar

Peluncuran buku di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 pada 30 Agustus 2026 memiliki makna yang semakin kuat karena berlangsung bersamaan dengan Muktamar ke-35 NU.

Muktamar merupakan momentum ketika NU berbicara tentang masa depan. Arah organisasi dibahas, gagasan dipertukarkan, dan berbagai persoalan umat dirumuskan.

Di tengah pembicaraan tentang masa depan itulah LTN PCNU Jombang menghadirkan kembali kisah masa lalu. Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang melupakan sejarahnya. Justru sejarah menjadi kompas agar langkah ke depan tidak kehilangan arah.

Baca Juga  Seminar Pelajar Hebat, Ketua LKKNU Jombang Ajak Generasi Muda Jauhi Narkoba

Para masyayikh yang ditulis dalam buku tersebut adalah bagian dari mata rantai panjang perjuangan NU. Apa yang mereka bangun dahulu menjadi fondasi bagi generasi hari ini. Dan apa yang dilakukan generasi hari ini pada akhirnya akan menjadi sejarah bagi generasi mendatang.

Maka, buku ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang 21 masyayikh. Ia berbicara tentang rantai perjuangan.

Menulis adalah Cara Merawat Amanah

Bagi LTN PCNU Jombang, penerbitan buku ini juga menunjukkan bahwa gerakan literasi memiliki posisi penting dalam kehidupan Nahdliyin.

Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berarti kemampuan untuk membaca sejarah, memahami perubahan, dan menjaga pengetahuan agar tidak terputus.

Ketika sejarah para ulama ditulis, sesungguhnya kita sedang menyelamatkan sebagian ingatan umat.

Ketika pemikiran mereka didokumentasikan, kita sedang membuka ruang bagi generasi baru untuk berdialog dengan warisan intelektual pendahulunya.

Dan ketika keteladanan mereka dibaca kembali, kita sedang menghidupkan nilai yang mungkin mulai terlupakan.

Karena itu, buku 21 Masyayikh NU Jombang dapat dibaca sebagai bentuk khidmah melalui tulisan.

Jika dahulu para kiai berkhidmah melalui pengajian, pendidikan, pesantren, dan perjuangan sosial, maka hari ini khidmah itu dapat diteruskan melalui pena, buku, media, dan teknologi.

Dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Tambakberas, pada momentum Muktamar ke-35 NU, buku ini membawa pesan sederhana tetapi mendalam: masa depan NU tidak boleh dibangun dengan melupakan masa lalunya.

Jejak para masyayikh adalah akar. Generasi hari ini adalah batangnya. Dan generasi mendatang adalah cabang-cabang yang akan membawa NU semakin jauh.

Karena itu, mengenang para masyayikh bukan berarti berhenti di masa lalu. Mengenang mereka adalah cara untuk memastikan cahaya perjuangan mereka tetap menerangi jalan menuju masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *