Merefleksikan Tawadhu’ di Tengah Kehidupan Pesantren

Pada sebuah bagian kecil dari adab di kitab Irsyād al-‘Ibād, tepatnya tentang tawadhu’. Ada satu kisah yang membuat pikiran berhenti sejenak, merenung panjang. 

Di situ disebutkan bagaimana Umar bin Khattab—amirul mukminin, pemimpin umat Islam—pernah terlihat sendiri memanggul kendi air di atas pundaknya.

Saat ditanya mengapa beliau, seorang khalifah, melakukan pekerjaan seperti itu, Umar menjawab: “Aku ingin menundukkan diriku, agar tidak merasa punya kedudukan dan keistimewaan.”

Sikap ini begitu dalam. Simbol bahwa kemuliaan tidak datang dari jabatan atau kehormatan di mata manusia, tapi dari kerendahan hati di hadapan Allah.

Dalam kitab itu juga disebutkan nasihat mulia dari Ibrahim bin Syaiban:

الشرف في التواضع، والعز في التقوى، والحرية في القناعة

“Kemuliaan itu ada dalam tawadhu’, kehormatan dalam ketakwaan, dan kebebasan dalam qana’ah (rasa cukup).”

Bagi santri, mungkin bab ini layaknya cermin. Ia tidak hanya berbicara kepada santri tentang pentingnya adab kepada guru, tapi juga berbicara kepada para kiai, ustadz, dan bahkan kepada para putra kiai. 

Bahwa di atas kehormatan yang diberikan orang lain, ada kewajiban batiniah yang jauh lebih berat: menjaga tawadhu’.

Kita tidak boleh menutup mata, hari ini fenomena feodalisme, sebagaimana yang dituduhkan, di sebagian pesantren makin terasa. 

Hormat dan takzim yang seharusnya lahir dari ketulusan santri, terkadang justru berubah menjadi budaya yang dipaksakan. 

Gus-gus muda kadang lebih sibuk menjaga gengsi keturunan daripada menjaga ketulusan adab. Tuntutan penghormatan berlebihan terhadap dzurriyah pesantren, kadang malah mengaburkan ruh ketawadhuan yang menjadi inti pendidikan itu sendiri.

Bab ini -tawadhu’- rasanya perlu sering-sering diajarkan pada kita semua, bukan hanya kepada santri, tetapi juga kepada para guru, Gus, para putra kiai, dan bahkan kepada para kiai sendiri. 

Agar kita semua sadar: adab bukan hanya tugas santri kepada guru, tapi juga tugas guru kepada ilmunya. Tawadhu’ bukan sekadar sikap manis di depan orang, tapi watak batin yang lahir dari rasa takut kepada Allah.

Kalimat lain dalam kitab itu juga mengingatkan:

من أكل مع خادمه، وركب الحمار في الأسواق، وجالس المساكين، برئ من الكبر

“Barang siapa yang makan bersama pelayannya, menunggang keledai di pasar, dan duduk bersama orang-orang miskin, maka ia bebas dari kesombongan.”

Betapa banyak kiai dan ulama besar dahulu yang hidup seperti ini: sederhana, membaur dengan masyarakat biasa, tidak menjaga jarak seakan mereka makhluk suci.

Hari ini, sebagian dari kita malah bangga dengan protokoler, iring-iringan, dan penghormatan berlebihan. Ini bahaya laten yang harus terus kita ingatkan, pertama-tama pada diri kita sendiri.

Catatan kecil ini sebagai pengingat. Bahwa kalau pesantren ingin tetap menjadi benteng adab, maka ruh ketawadhuan harus dijaga. Bukan sekadar diajarkan kepada santri, tapi diteladankan oleh para guru dan pengasuhnya.

Karena sebagaimana santri wajib menghormati gurunya, guru pun wajib menjaga dirinya agar tidak menjadi sebab kesombongan. Ilmu yang kita bawa adalah amanah, bukan mahkota.

Semoga Allah menjaga pesantren-pesantren kita dari penyakit hati yang tersembunyi, dan menjadikan kita semua ahli ilmu yang sungguh-sungguh tawadhu’, sebagaimana nasihat para salafus shalih.

Wallahu a’lam.

Penulis: MuhairiEditor: Mustain
Exit mobile version