Jombang, pcnujombang.or.id – Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk mempererat tali silaturahmi dan saling memaafkan.
Dalam Islam, memaafkan bukan hanya sekadar tindakan moral, tetapi juga bagian dari ajaran syariat yang berdampak besar terhadap hubungan sosial dan spiritual seseorang.
Makna Memaafkan dalam Al-Qur’an
Islam sangat menekankan pentingnya memaafkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40)
Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan bukan hanya tindakan mulia, tetapi juga mendapatkan pahala besar di sisi Allah. Islam mengajarkan agar setiap individu tetap berbuat baik kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang pernah berbuat buruk kepada kita.
Keteladanan Rasulullah dalam Memaafkan
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal memaafkan. Dalam berbagai peristiwa, beliau menunjukkan sikap pemaaf yang luar biasa, termasuk saat menghadapi perlakuan buruk dari kaum Quraisy.
Ketika menaklukkan Makkah, Rasulullah SAW tidak membalas dendam kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Sebaliknya, beliau memberikan pengampunan yang luas, menunjukkan bahwa kasih sayang dan pemaafan lebih utama daripada balas dendam.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sikap memaafkan dapat menghapus dosa dan mendekatkan seseorang kepada rahmat Allah. Konsep ini berkaitan erat dengan taubat serta sifat kasih sayang yang diajarkan dalam Islam.
Memaafkan sebagai Jalan Kedamaian dan Keharmonisan
Dalam kaidah fiqhiyyah disebutkan: “Mencegah keburukan lebih utama daripada meraih kemaslahatan” (Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih). Hal ini mengandung makna bahwa dengan memaafkan, seseorang dapat mencegah dampak buruk dari perselisihan yang berkepanjangan.
Sikap ini sangat penting untuk menjaga persatuan dan keharmonisan dalam masyarakat.Pada momen Idul Fitri ini, umat Islam diajak untuk melepaskan diri dari amarah dan dendam yang hanya akan menyulitkan diri sendiri dalam menerima dan memaafkan kesalahan orang lain. Justru, kemarahan dan dendam hanya akan merugikan diri sendiri.
Dengan memiliki sikap pemaaf, seseorang tidak hanya memperoleh kedamaian batin, tetapi juga turut menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Mari jadikan memaafkan sebagai bagian dari keseharian kita, agar kehidupan yang penuh keberkahan dan ketenangan dapat terwujud.
