Jombang, pcnujombang.or.id – Dalam Islam, pemaafan bukan sekadar tindakan membebaskan seseorang dari kesalahan, tetapi juga sebuah jalan menuju ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya memaafkan dengan berbagai tingkatan.
Tingkatan Memaafkan dalam Islam
Level I : Menahan Amarah (Kabhu al-Ghadzab)
Tingkat pertama dalam pemaafan adalah kemampuan untuk menahan amarah. Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda :
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Sementara, Jakfar bin Muhammad berkata:
الْغَضَبُ مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ
“Marah adalah kunci dari setiap keburukan.”
Menahan amarah adalah langkah awal untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang menjadi ciri orang bertakwa.
Pada level ini, seseorang mau memaafkan apabila orang yang mendzaliminya juga terkena hukuman dan balasan yang seimbang. Selain itu, dia masih menuntut orang lain untuk minta maaf dan mengakui kesalahannya.
Pada level ini juga ada dorongan untuk memaafkan bukan karena dirinya sendiri. Namun, dari dorongan masyarakat dan tuntutan hukum. Sehingga pada level ini, pemaafan masih belum ikhlas karena bukan atas dorongan pribadi. Namun, masih menuntut keadilan dan balasan bagi seseorang.
Level II : Memaafkan Kesalahan (Al-‘Afwu)
Level selanjutnya adalah memaafkan tanpa menyimpan dendam. Dalam Islam, memaafkan lebih utama daripada membalas. Allah SWT berfirman:
وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ…
“……Tetapi jika kamu memaafkan, berlapang dada, dan mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. At-Taghabun: 14)
Memaafkan berarti tidak lagi menyimpan kebencian terhadap orang yang bersalah kepada kita. Ini adalah langkah menuju kebersihan hati.
Pada level ini, seseorang mulai ada kesadaran untuk memaafkan. Karena dituntut dalam Islam untuk saling memaafkan sebagai perbuatan yang terpuji dan membawa manfaat.
Pada level ini juga, seseorang bisa memaafkan, apabila ada kesadaran setiap manusia dan kelompok mempunyai pendapat dan pandangan sendiri. Sehingga, pemaafan ini demi mewujudkan keharmonisan dan kedamaian di masyarakat.
Level III : Membalas Keburukan dengan Kebaikan (Al-Iḥsān)
Tingkatan tertinggi dalam pemaafan adalah tidak hanya menahan amarah dan memaafkan, tetapi juga berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita. Dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :
وَأَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ
“Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jelek terhadap dirimu.” (Shahih At-Targhib, no. 2467)
Dalam kehidupan Rasulullah SAW, beliau tidak hanya memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya, tetapi juga membalas keburukan mereka dengan kebaikan. Misalnya, saat beliau memaafkan penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu, bahkan mendoakan mereka agar mendapat hidayah.
Pada level ini, adalah level tertinggi. Seseorang memaafkan karena kasih sayang yang membuka ruang rekonsiliasi dan menutup pintu balas dendam. Sehingga pemaafan pada level ini adalah pemaafan tanpa syarat. Dari sini, muncul kesadaran juga untuk berbuat baik kepada siapapun termasuk kepada orang yang berbuat jelek kepada kita.
Dengan demikian, Pemaafan dalam Islam memiliki tiga tingkatan: menahan amarah, memaafkan, dan membalas dengan kebaikan. Semakin tinggi level pemaafan seseorang, semakin dekat ia dengan sifat yang dicintai Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita latih diri untuk memaafkan, sebagaimana Allah Maha Pengampun terhadap hamba-Nya
