LBM PCNU Jombang Sukses Gelar Musabaqah Qiraatul Kutub di Pesantren Darul Ulum

JOMBANG – Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (LBM PCNU) Jombang sukses menyelenggarakan Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) di Mushala Asrama Al Husna, Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Ahad (25/10/2026).

Kegiatan yang diikuti 21 peserta ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 sekaligus upaya memperkuat tradisi keilmuan pesantren melalui kajian kitab kuning.

Musabaqah ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi membaca kitab kuning, tetapi juga menjadi ruang bagi para santri untuk mengasah kemampuan keilmuan, menumbuhkan kecintaan terhadap turats (khazanah keilmuan Islam klasik), serta memperkuat semangat belajar sebagai bekal menjadi generasi penerus ulama.

Acara dibuka langsung oleh KH. Rahmatul Akbar, Pengasuh Pesantren Ar Risalah Darul Ulum sekaligus Bendahara PCNU Jombang. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa bangga dan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Beliau berharap MQK dapat menjadi agenda rutin tahunan yang terus berkembang.“Saya sangat senang dan bangga atas terlaksananya kegiatan ini. Syukur kalau bisa setiap tahun diselenggarakan MQK ini,” ungkapnya.

Gus Bang Rahmatul Akbar: Jangan Berhenti Belajar untuk Menjadi Alim

Dalam kesempatan tersebut, Gus Bang Rahmatul Akbar juga memberikan motivasi kepada para peserta agar senantiasa tekun menuntut ilmu dan tidak mudah berpuas diri dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

Menurutnya, salah satu ciri orang yang benar-benar berilmu adalah kesediaannya untuk terus belajar. Sebaliknya, orang yang merasa sudah pintar hingga tidak lagi mau belajar justru menunjukkan keterbatasan dalam memahami ilmu.

Untuk memperkuat pesannya, ia mengutip syair Arab yang menggambarkan kedudukan orang berilmu dan pentingnya proses belajar sepanjang hayat.

العَالِمُ كَبِيْرٌ وَإِنْ كَانَ حَدَثًاوَالْجَاهِلُ صَغِيْرٌ وَإِنْ كَانَ شَيْخًا

Artinya:“Orang yang berilmu itu besar kedudukannya meskipun masih muda, sedangkan orang yang bodoh itu kecil kedudukannya meskipun telah lanjut usia.”Ia juga mengingatkan para santri melalui syair berikut:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًاوَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ

Artinya:“Belajarlah, sebab seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu. Orang yang berilmu tidaklah sama dengan orang yang tidak berilmu.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa kedalaman ilmu tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses belajar yang panjang, ketekunan, dan kerendahan hati. Karena itu, para santri diharapkan terus mengembangkan kemampuan diri, terbuka terhadap proses pembelajaran, serta menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memperbaiki kualitas diri dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Melalui MQK, LBM PCNU Jombang berupaya menanamkan kesadaran bahwa tradisi membaca dan memahami kitab kuning merupakan bagian penting dari identitas intelektual pesantren yang harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Delegasi Pesantren Pacul Gowang Raih Juara

Setelah melalui rangkaian perlombaan, panitia menetapkan tiga peserta terbaik sebagai juara MQK. Delegasi Pondok Pesantren Pacul Gowang, Jombang, berhasil meraih juara pertama. Sementara itu, juara kedua diraih delegasi Pondok Pesantren Jannatur Roihan, Peterongan, Jombang, dan juara ketiga diraih delegasi Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Penyerahan hadiah kepada para juara dilakukan oleh Agus H. Ahmad Muharam Dimyathi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kemampuan, kesungguhan, dan semangat para peserta dalam mengikuti kompetisi.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Agus H. Mustain Dzul Azmi. Suasana khidmat menandai berakhirnya kegiatan yang diharapkan membawa semangat baru bagi penguatan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren.

Ketua LBM PCNU Jombang, Agus Mahbub Jazuli, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, khususnya keluarga besar Pondok Pesantren Darul Ulum yang telah memfasilitasi pelaksanaan musabaqah.

Ia berharap kegiatan MQK tidak berhenti sebagai perlombaan semata, tetapi mampu menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk menghidupkan tradisi kajian kitab kuning, memperkuat kecintaan santri terhadap ilmu, dan melahirkan generasi yang memiliki kedalaman pengetahuan serta keluhuran akhlak.

Penyelenggaraan MQK ini sekaligus menegaskan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat pewarisan khazanah keilmuan Islam, tetapi juga ruang pembentukan karakter santri yang tekun belajar, rendah hati, dan siap mengabdikan ilmunya bagi kemaslahatan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *