Khutbah Jumat: Menjaga Hati dan Diri

Oleh: Dr. Dhikrul Hakim, M.Pd.I (Ketua LTMNU PCNU Jombang)

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ تَفَرَّدَ بالْبَقََاءِ، وَاْلقِدَمِ، وَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِاْلإِيْجَادِ مِنَ اْلعَدَمِ، وَاتَّبَعَ ذَلِكَ بِنِعْمَةِ اْلاِمْدَادِ مِنْ خَزَائِنِ اْلجُوْدِ وَاْلكَرَمِ، وَاكْمَلْهَا اَلَّتِيْ هِيَ أَعْظَمُ النِّعَمِ، وَجَعَلَنَا خَيْرًا اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ اْلأُمَمِ. فَسُبْحَانَهُ لَا نُحْصِي ثَنَاهُ، وَكَمْ يُسْرٍ وَاْلهَمِّ، وَعَلَّمَ بِاْلقَلَمِ عَلَّمَ اْلاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوْ الْفَضْلِ وَالنَّعَمِ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَدِيْنِ اْلحَقِّ وَأَلْزَمَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ سَبِيْلَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ… أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.

Setelah memuji kepada Allah Swt, bershalawat kepada Baginda Nabi Agung Muhammad Saw, keluarga, serta sahabatnya, izinkan saya untuk berwasiat kepada hadirin semua, khususnya pada diri saya sendiri. Marilah kita selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt, dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Yakni mengerjakan apa yang diperintahkan, serta menjauhi apa yang dilarang, kapan pun dan dimana pun, dalam keadaan bagaimana pun, senang maupun susah, gembira ataupun sedih. Karena dengan kita bertakwa, Allah Swt pasti akan menjamin kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat, juga memberikan jalan keluar atas setiap masalah yang kita hadapi.

Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.

Segala puji bagi Allah Swt yang telah mentakdirkan kita sebagai umat terbaik di antara umat-umat yang lain. Sebagai seorang muslim yang baik seharusnya kita tak sewenang-wenang saat Allah Swt memberi kejayaan, karena Allah Swt mampu memutar balik segala keadaan. Kita harus tetap tekun beribadah dalam keadaan apapun, jangan sampai harta dunia melemahkan kualitas ibadah yang kita lakukan, Allah Swt berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)

Kita semestinya menilai dan berpikir harta dunia sifatnya adalah pendukung semata untuk taat beribadah. Ulama telah sepakat bahwa tuntutan-tuntutan syariat tak akan gugur dari seorang mukallaf (akil balig) kecuali kematian dan gila. Termasuk beribadah shalat Selagi masih berakal, maka kewajiban shalat tetap ada, baik dengan duduk, tidur miring, tidur terlentang atau bahkan isyarat dengan kepala. Allah Swt berfirman:

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

Artinya:  Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. Al-Nisa’: 103)

Jangan sampai pekerjaanmu mengganggu shalatmu. Dalam sebuah Hadits disebutkan:

مَنْ لَقِيَ اللَّه وَهُوَ مُضِيْعٌ لِلصَّلَاَةِ لَمْ يَعْبَأْ اللَّه بِشَيْءٍ مِنْ حَسَنَاتِهِ

Artinya: Barang siapa bertemu Allah sementara ia menyianyiakan shalat, maka Allah tidak memperdulikan kebaikan-kebaikannya.

Dalam riwayat lain disebutkan:

 لاَ دِيْنَ لِمَنْ لَا صَلَاةَ لَهُ ، إِنَّمَا مَوْضِعُ الصَّلاَةِ مِنَ الدِّيْنِ كَمَوْضِعِ الرَأْسِ مِنَ الجَسَدِ

artinya: Tidak ada agama tanpa shalat. Posisi shalat dalam agama seperti kepala dalam jasad. Imam Hasan al-Bahsri, dikutip dalam kitab Tabsiroh, karya Ibnul Jauzi, berkata:

إِذَا هَانَتْ عَلَيْكَ صَلَاتُكَ فَمَا الَّذِيْ يَعِزُّ عَلَيْكَ

Artinya: Jika urusan shalatmu sudah kau anggap sepele, maka apa yang sebenarnya kau anggap penting.
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.

Ketahuilah, untuk bisa bersyukur dengan sempurna pada Allah Swt adalah dengan menjahui durhaka pada Allah Swt. Ketahuilah pula bahwa sumber kemaksiatan ada tiga: kibru, hasad, hirshu. Kibr adalah sumber kedurhakaan Iblis, tepatnya di saat Iblis menyombongkan diri pada Nabi Adam As tatkala Allah Swt memerintahnya sujud pada Nabi Adam As. Dalam menceritakan Iblis, Allah Swt berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Artinya: Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Sehingga Iblis dianggap patut untuk dikata nista dan tertolak dari rahmat serta mendapatkan kebinasaan yang abadi. Takutlah engkau memiliki sifat kibr. Kibr adalah dosa pertama yang dilakukan untuk mendurhakai Allah Swt di langit. Orang yang sombong adalah orang yang tak tunduk pada sesuatu yang haq dan ahlul haq. Ibnu Mas’ud Ra berkata: “Sungguh dosa terbesar di sisi-Nya adalah ketika seseorang dinasehati, “takutlah kamu pada Allah”, tetapi dia malah menjawab, “urus saja dirimu sendiri!”. Dalam Hadist Qudsiy disampaikan: “Kibr dan keagungan adalah pakaianku, barang siapa yang melepaskanya dari-Ku niscaya akan Kumasukkan dia ke neraka.” Kalau saja kita merenungkan apa yang ada di dalam tubuh ini, niscaya kita tak akan pernah bisa untuk merasa sombong.

Wahai orang yang diciptakan dari debu, dan yang akan tertelan oleh debu, janganlah kau sombong. Sadarilah, karena esok kau pasti akan hancur dimakan bumi. Di saat kau merasa kuat untuk menzalimi orang lain, lihatlah kekuatan Allah Swt Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa masih jauh sekali di atasmu. Sumber maksiat yang kedua adalah hasad. Ini adalah cikal bakal maksiat Qabil, putra Nabi Adam As sekira tertulis dalam Al-Quran:

اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ تَبُوْۤاَ بِاِثْمِيْ وَاِثْمِكَ فَتَكُوْنَ مِنْ اَصْحٰبِ النَّارِۚ وَذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الظّٰلِمِيْنَۚ(*) فَطَوَّعَتْ لَهٗ نَفْسُهٗ قَتْلَ اَخِيْهِ فَقَتَلَهٗ فَاَصْبَحَ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ(*) فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِۗ قَالَ يٰوَيْلَتٰٓى اَعَجَزْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَاُوَارِيَ سَوْءَةَ اَخِيْۚ فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَۛ

Artinya: “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata Qabil: “Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS. Al-Maidah: 29-31)

Tidaklah seseorang dibunuh tanpa bersalah kecuali yang membunuh akan menanggung darahnya, karena dialah yang memulai pembunuhan. Seseorang yang menolong untuk membunuh muslim walau hanya sebatas untaian kata niscaya Allah akan menulisakan di antara kedua matanya, “terputus dari rahmat Allah”. Di sisi Allah Swt kemuliaan seorang mukmin jauh lebih agung daripada kemuliaan Ka’bah. Apabila seseorang merobohkan Ka’bah dan membakarnya, dosanya tak akan melebihi dosa orang yang menggusarkan atau menakut-nakuti orang Islam. Kalau begitu, bagaimana bila melakukan tipu daya? Bagaimana bila melakukan kezaliman? Bagaimana dengan menghianatinya? Bukankah akan jauh lebih besar?
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.

Sumber maksiat yang terakhir adalah hirshu, yaitu bangga dunia. Ini merupakan cikal bakal maksiat Nabi Adam As di saat beliau makan buah dari pohon terlarang itu. Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Adam As dan Hawa As di saat makan buah tersebut, baju dan perhiasan mereka tiba-tiba berterbangan ke atas, lalu malaikat Jibril pun datang menghampiri dan melepas mahkota yang mereka kenakan, dan dipanggillah  Mereka oleh Allah Swt, “Wahai Nabi Adam, keluarlah engkau dari singgasana-Ku. Yang durhaka pada-Ku sungguh tak pantas bersama-Ku”. Ketahuilah, semua ini karena menyukai syahwat duniawi. Takutlah engkau, wahai muslim, pada kegemaranmu mencari dunia dan Terlena karenanya sampai-sampai kau melalaikan hak-hak Allah, shalat tak tepat waktu, terlambat shalat Jum’at, terlambat berjamaah, terlambat mendatangi majlis ilmu atau sampai-sampai bisa membuatmu melakukan keharaman seperti menipu, berkhianat, tipu  daya, berniaga tanpa kejujuran, memakan harta orang lain dan lain sebagainya. Oleh karenanya bersyukurlah kamu pada Allah Swt dengan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala sumber kemaksiatan yang ada, sehingga menjadi pribadi muslim yang sempurna untuk  meraih ridloNya.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُوْلُ، وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِي المُهْتَدُوْنَ: وَإِذَا قُرِئَ اْلقُرْاَنٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ اقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وِلِوَالِدِيْكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالهُدَى وَدِيْنِ الحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ  أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً، وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْالرَّحِيمُ

Penulis: Dhikrul HakimEditor: Mustain
Exit mobile version