Kehangatan Lailatul Ijtima MWCNU Diwek di Bulan Rajab yang Penuh Berkah

Suasana guyub tampak jelas dengan hadirnya jajaran pengurus MWCNU, pengurus ranting, badan otonom (Banom), hingga lembaga-lembaga di bawah naungan NU.

Diwek, pcnujombang.or.id – Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Diwek kembali menghidupkan tradisi spiritual melalui agenda rutin Lailatul Ijtima’, Selasa (13/1/2026) malam.

Bertempat di Masjid Al-Marghibani, Desa Bulurejo, acara ini berlangsung khidmat dengan kehadiran ratusan jemaah yang memadati lokasi.

Suasana guyub tampak jelas dengan hadirnya jajaran pengurus MWCNU, pengurus ranting, badan otonom (Banom), hingga lembaga-lembaga di bawah naungan NU. Turut hadir pula para tokoh masyarakat dan warga setempat yang antusias mengikuti rangkaian acara.

Beberapa tokoh kunci yang tampak hadir di antaranya Ketua MWCNU Diwek KH. Hamdi Soleh, Ketua Ranting NU Bulurejo KH. Abdul Rohman, Kepala Desa Bulurejo Ainur Rofiq, serta perwakilan dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU.

Rangkaian Acara dan Apresiasi
Kegiatan dimulai selepas salat Isya berjamaah, dibuka dengan pembacaan tahlil dan istighosah yang berlangsung khusyuk, kemudian dilanjutkan dengan selawat Nabi Muhammad SAW sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah.

Dalam sambutannya, Ketua Ranting NU Bulurejo, KH. Abdul Rohman, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Terutama masyarakat Bulurejo yang telah membantu menyediakan tempat serta mendukung penuh terselenggaranya kegiatan Lailatul Ijtima’ sehingga dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Beliau juga memuji kekompakan pengurus ranting NU se-Kecamatan Diwek yang senantiasa aktif berpartisipasi. “Semoga membawa berkah bagi kita semua,” imbuhnya.

Merawat Tradisi dan Sanad Keilmuan
Pada kesempatan yang sama, Ketua MWCNU Diwek, KH. Hamdi Soleh, memberikan pesan menyentuh tentang pentingnya menjaga identitas santri. Beliau mengajak warga NU untuk terus memaknai dan merawat tradisi yang diwariskan para masyayikh.

“Kita lahir dan dibesarkan di NU, maka tradisi ini harus kita rawat dan jaga bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan berharga sejak era KH. Hasyim Asy’ari.

“Dan terus dilestarikan hingga sekarang sebagai sarana konsolidasi organisasi, penguatan sanad keilmuan dan pemersatu warga Nahdliyin,” tambah beliau.

Mengingat saat ini bertepatan dengan bulan Rajab, momentum ini dirasa memiliki nilai spiritual yang lebih mendalam. “Sehingga momentum ini patut disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kebersamaan kita,” lanjutnya.

Penguatan Akhlak dalam Bermasyarakat
Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh Wakil Ketua PCNU Jombang, KH. Nurul Fuad. Dalam tausiyahnya, beliau mengutip mutiara hikmah dari kitab At-Tibyān karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Beliau menekankan pentingnya membiasakan dan menjaga amal-amal kebaikan,” jelasnya.

Kiai Nurul Fuad juga mengingatkan bahwa tradisi seperti Lailatul Ijtima’ adalah instrumen penting untuk memupuk semangat kebaikan di tengah masyarakat.

“Terutama dalam memperkuat akhlak serta menjaga keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.

Acara yang berlangsung tertib ini kemudian ditutup dengan doa bersama, membawa harapan akan keberkahan bagi seluruh jemaah yang hadir.

Kontributor: Azlan Adam (Pengurus LTN MWCNU Diwek)

Editor: Moh. Syafi'i
Exit mobile version