Jombang, pcnujombang.or.id – Setiap tahun, bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan gegap gempita. Malam tirakatan, Upacara, perlombaan, hingga karnaval budaya menjadi tradisi yang menyemarakkan bulan Agustus. Namun, di balik semangat perayaan itu, kita perlu melakukan refleksi kemerdekaan agar kita menjadi manusia merdeka. lantas, apakah kita sudah benar-benar merdeka, atau hanya sebatas merdeka secara formal?
Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan yang sejati lahir ketika kita mampu menjadi manusia merdeka—tidak diperbudak oleh ketakutan, kebodohan, dan ketergantungan.
Manusia Merdeka: Manusia yang tidak apatis
Di tengah arus deras informasi digital, sikap apatis dan ikut-ikutan menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan. Banyak orang diam ketika ketidakadilan terjadi, atau hanya mengikuti tren tanpa tahu arah. Kegaduhan beberapa minggu ini di media sosial, maraknya bendera one piece, membuat sebagian masyarakat ada yang apatis, ada juga yang ikut-ikutan berkomentar.
Fahrudin Faiz pernah menyampaikan bahwa :
“jangan jadi manusia apatis, jangan jadi manusia yang ikut arus, namun jadilah manusia merdeka. Karena orang apatis dan orang yang hanya ikut arus, sejatinya dia tidak melakukan apapun yakni pasif.”
Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Sebagian orang sibuk mengikuti isu viral, ikut-ikutan berkomentar, atau sekadar share tanpa memahami konteks. Sebagian lain justru memilih diam, seolah tidak peduli pada situasi sekitar. Inilah wajah masyarakat yang jiwanya belum merdeka.
Manusia Merdeka: Jiwa yang Bebas
Menjadi manusia merdeka berarti berani berpikir kritis, mengambil sikap, dan peduli terhadap sesama. Jiwa merdeka tidak larut hanya karena arus mayoritas, tidak mudah tunduk pada tekanan, dan tidak pasrah pada keadaan.
Benar adanya ungkapan beliau: “kalau jiwa kita tidak merdeka, maka situasi apapun tidak akan efektif.” Pembangunan, kebijakan, atau fasilitas sehebat apapun tidak akan membawa hasil bila masyarakatnya pasif. Sebaliknya, bangsa yang dihuni manusia-manusia merdeka mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Inspirasi Makna Merdeka dari Bendera
Jika kita menengok ke dunia fiksi populer, anime One Piece menghadirkan bendera Jolly Roger sebagai simbol kebebasan dan tekad. Bagi Luffy dan krunya, bendera itu bukan sekadar kain, melainkan lambang jiwa merdeka yang siap berlayar meski penuh bahaya.
Begitu pula dengan kita. Bendera merah putih yang dikibarkan setiap 17 Agustus bukan hanya simbol kemerdekaan politik, tetapi juga harus menjadi bendera jiwa yang mengingatkan bahwa kita harus merdeka dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Karena hanya dengan jiwa merdeka, bangsa ini bisa benar-benar berdiri tegak.
Inspirasi Manusia Merdeka dari para Pendiri Bangsa
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah berkata:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Merdeka hanyalah sebuah jembatan. Tujuan akhir kita adalah masyarakat adil dan makmur.”
Pesan ini mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih bermakna—dan itu hanya mungkin jika rakyatnya berjiwa merdeka. Maka, Inilah tugas kita hari ini, menjadikan jiwa merdeka sebagai jembatan menuju cita-cita bangsa.
Sementara itu, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan pentingnya kebebasan individu. Beliau berkata:
“Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Kalimat ini adalah cerminan jiwa merdeka yakni manusia yang tidak terikat oleh sekat sempit, tetapi berani memberi manfaat universal.
Landasan menjadi manusia merdeka
Dalam khazanah fiqh, ada kaidah penting yang menegaskan:
“مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ”
sesuatu yang menjadi syarat tegaknya kewajiban, maka ia juga wajib.
Kemerdekaan bangsa adalah sebuah kewajiban. Dan syarat tegaknya kemerdekaan itu adalah adanya manusia-manusia yang berjiwa merdeka. Artinya, membebaskan diri dari apatisme dan sikap ikut arus adalah kewajiban, bukan sekadar pilihan.
Kunci menjadi Manusia Merdeka
Kata kuncinya menjadi manusia merdeka adalah manusia yang kritis, tidak apatis, dan punya orientasi pada kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, Hari Kemerdekaan bukan hanya momen perayaan, tetapi juga saat terbaik untuk merefleksikan diri: apakah kita hanya penonton, pengikut arus, atau benar-benar manusia merdeka?
Bangsa ini tidak butuh generasi yang apatis atau hanya ikut tren sesaat. Bangsa ini butuh manusia-manusia merdeka, yang berpikir kritis, berani bersikap, peduli, dan memberi arti bagi lingkungannya. Karena kemerdekaan sejati adalah ketika kita berani memilih jalan yang benar, meski tidak populer. “Karena hanya manusia merdeka yang mampu menjaga dan menghidupkan kemerdekaan bangsa.”
