JOMBANG, pcnujombang.or.id – Setiap Agustus kita selalu merayakan kemerdekaan. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan perjuangan para pahlawan dikenang. Tahun ini kita memperingati HUT ke 81 RI, dan ditengah perayaan ini, ada pertanyaan yang patut kita ajukan: apakah manusia hari ini benar-benar merdeka?
Kita memang tidak lagi hidup di bawah penjajahan kolonial. Tetapi di era digital, muncul bentuk penjajahan yang jauh lebih halus. Ia tidak menggunakan senjata, melainkan algoritma.
Setiap hari kita merasa bebas memilih apa yang ingin ditonton, dibaca, dibeli, dan dibicarakan. Padahal, apa yang muncul di layar kita telah dipelajari dan diarahkan berdasarkan kebiasaan, kesukaan, bahkan kelemahan kita.
Kita merasa memilih, tetapi pilihan kita perlahan dibentuk. Kita merasa mencari informasi, padahal informasi tertentu justru mencari perhatian kita.
Ketika Algoritma Mengendalikan Pilihan
Algoritma bekerja dengan membaca perilaku manusia. Apa yang kita sukai, berapa lama kita menonton, apa yang membuat kita berhenti menggulir, semuanya menjadi data untuk menentukan apa yang akan muncul berikutnya.
Di sinilah persoalan kemerdekaan menjadi penting.
Jika setiap hari perhatian kita diarahkan oleh algoritma, keinginan dibentuk oleh iklan, dan pandangan dipengaruhi arus media sosial, sejauh mana kita masih menjadi manusia yang bebas?
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah sesuatu benar-benar kita inginkan, atau kita sedang diarahkan untuk menginginkannya?
Manusia Merdeka dalam Perspektif Islam
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak dan tanggung jawab. Kebebasan manusia bukan kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dalam perspektif tauhid, manusia hanya menempatkan Allah sebagai Tuhan. Karena itu, ia tidak semestinya menjadi hamba harta, jabatan, popularitas, hawa nafsu, maupun teknologi.
Makna la ilaha illallah memiliki dimensi pembebasan yang mendalam: membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
Al-Ghazali mengingatkan pentingnya mengendalikan hawa nafsu. Sebab manusia yang tidak mampu mengendalikan keinginannya pada hakikatnya belum sepenuhnya merdeka. Ia mungkin bebas melakukan apa saja, tetapi dirinya dikendalikan oleh dorongan yang tidak mampu ia kuasai.
Dalam konteks hari ini, persoalan tersebut semakin nyata. Seseorang bisa merasa bebas menggunakan media sosial, tetapi tidak mampu berhenti dari layar. Ia bebas memilih konten, tetapi terus mengejar apa yang sedang viral. Ia bebas berbicara, tetapi harga dirinya bergantung pada likes dan komentar.
Kebebasan tanpa kemampuan mengendalikan diri dapat berubah menjadi bentuk perbudakan baru.
Memerdekakan Diri di Era Digital
Karena itu, menjadi manusia merdeka di era digital bukan berarti meninggalkan teknologi. Justru kita harus mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak olehnya.
Manusia merdeka adalah mereka yang mampu mengendalikan perhatian, menyaring informasi, mengendalikan hawa nafsu, dan menentukan pilihan berdasarkan nilai yang diyakininya.
Ia berani berhenti menggulir layar.
Berani tidak mengikuti sesuatu hanya karena viral.
Berani berbeda ketika mayoritas terseret arus.
Dan berani menggunakan teknologi sebagai alat untuk kebaikan, bukan menjadikannya sebagai penguasa kehidupan.
Kemerdekaan akhirnya bukan hanya terbebas dari penjajahan bangsa lain. Dalam Islam, kemerdekaan juga berarti terbebas dari penghambaan kepada selain Allah dan mampu menggunakan kebebasan untuk memilih kebenaran serta kebaikan.
Maka, di tengah perayaan kemerdekaan, pertanyaan penting bagi manusia hari ini bukan hanya: “Sudahkah bangsa kita merdeka?”
Tetapi juga:
“Sudahkah kita merdeka dari sesuatu yang setiap hari mengendalikan pikiran, waktu, perhatian, dan keinginan kita?”
Sebab di era digital, rantai penjajahan mungkin tidak lagi terlihat di tangan.
Ia bisa berada di dalam genggaman kita sendiri.














