Gus Yahya menekankan bahwa pesantren harus mampu menemukan solusi atas dinamika masyarakat yang mempengaruhi kehidupan pesantren dan NU.
Jombang, pcnujombang.or.id – Pesantren tidak hanya perlu memiliki sanad yang terhubung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi juga harus mampu bertransformasi untuk menghadapi dinamika kehidupan saat ini.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menyerukan agar pesantren saat ini bertransformasi menjadi lembaga yang siap menghadapi tantangan zaman.
Dalam pembukaan Nasyrus Sanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng pada Sabtu (12/6/2025), Gus Yahya menekankan bahwa pesantren harus mampu menemukan solusi atas dinamika masyarakat yang mempengaruhi kehidupan pesantren dan NU.
Menurutnya, transformasi menjadi hal tak terelakkan bagi pesantren untuk bertahan. “Perubahan pasti terjadi. Tugas kita adalah bagaimana pesantren dan jam’iyah dapat bertahan di tengah perubahan apa pun,” ujarnya.
Gus Yahya juga menyoroti dampak kemajuan teknologi yang mempercepat arus perubahan, sehingga transformasi bagi pesantren sangat diperlukan. “Hanya yang mampu beradaptasi yang dapat bertahan,” tegasnya.
Namun, Gus Yahya menekankan bahwa transformasi harus dilakukan tanpa mengorbankan jati diri dan identitas pesantren serta NU. “Kita harus mampu beradaptasi tanpa mengorbankan jati diri dan identitas,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menghadiri acara pembukaan Nasyrus Sanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng Sabtu (12/7/2025).
Usai pembukaan, Gus Yahya menyampaikan kuliah umum yang diikuti para peserta dan para kiai dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan Nasyrus Sanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren tersebut digelar Rabithah Ma’hid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Nasyrus Sanad adalah sebuah metode atau cara untuk mempelajari dan memahami ilmu-ilmu agama Islam, khususnya dalam bidang hadits dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Nasyrus Sanad biasanya dilakukan di pesantren atau madrasah, bertujuan untuk memahami jalur periwayatan hadits, mengetahui keabsahan hadits, serta mengembangkan kemampuan analisis dan kritis terhadap hadits.
