Kajian Ilmu Qirā’āt: KH. Ahmad Dzul Hilmi Ghozali Kupas Sejarah dan Hikmahnya

Jombang, pcnujombang.or.id – PC JQH NU Jombang terus menghidupkan kembali kecintaan terhadap khazanah ilmu Qirā’āt, sebuah disiplin ilmu Al-Qur’an yang belakangan mulai jarang mendapat tempat di hati masyarakat. Melalui kajian rutin ini, para Qari’ dan Qariah terus didorong untuk memperdalam kembali ilmu qiraat sebagai bagian penting dari tradisi keilmuan Islam

Menggerakkan Kembali Antusiasme Ilmu Qirā’āt

PC JQH NU Jombang menggelar kajian perdana di Masjid Baiturrahman, kompleks Pemkab Jombang, pada Sabtu, 6 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen lembaga untuk membangkitkan kembali kajian-kajian keilmuan Al-Qur’an, khususnya di bidang Qirā’āt yang kini semakin langka.

Sejumlah pengurus PW JQH NU Jawa Timur hadir langsung untuk memberikan dukungan. Para peserta yang mengikuti kajian ini berasal dari berbagai unsur, mulai dari santri, pelajar, hingga pegiat Al-Qur’an yang rindu memperdalam kembali ilmu bacaan bersanad ini.

Pesan Ketua PC JQH NU Jombang: Kajian Langka yang Sangat Bernilai

Ketua PC JQH NU Jombang, Dr. KH. Wafiyul Ahdi, menegaskan bahwa kajian ilmu Qirā’āt semacam ini sangat langka, maka perlu support dari semua masyarakat khususnya masyarakat Jombang. Ia juga menyampaikan bahwa :

“Kita harus bersyukur, Jombang masih memiliki potensi para santri yang memiliki kemampuan dalam qirā’āt sab‘ah. Ini anugerah sekaligus modal besar yang harus terus dirawat,” ujarnya.

Beliau menegaskan perlunya mengadakan kajian Qirā’āt secara rutin agar tradisi keilmuan Al-Qur’an tetap hidup dan terus menjadi ciri khas masyarakat Jombang.

KH. Ahmad Dzul Hilmi: Sanad Keilmuan dari Suriah hingga Jombang

Kajian ini menghadirkan pemateri utama KH. Ahmad Dzul Hilmi Ghazali, Rois Majlis Ilmi PW JQHNU Jawa Timur. Beliau merupakan murid dari ulama besar Qirā’āt asal Suriah, Syaikh Abdul Ghoffar bin Abdul Fattah Ad-Duruby, yang juga guru dari mufassir ternama Syaikh Ali Ash-Shobuni.

Dengan sanad yang bersambung kuat tersebut, KH. Dzul Hilmi menempati posisi istimewa dalam tradisi studi Qirā’āt dan aktif menjaga keilmuan bacaan Al-Qur’an secara bersanad, sehingga banyak kalangan mengenalnya sebagai ulama yang konsisten dalam bidang in

Pentingnya Belajar Sejarah Ilmu Qirā’āt

Dalam paparannya, KH. Dzul Hilmi mengajak peserta menelusuri sejarah perkembangan ilmu Qirā’āt sejak masa Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, hingga proses kodifikasi qirā’āt sab‘iyyah (tujuh qiraat).

Beliau menegaskan bahwa kesinambungan sanad, ketelitian para perawi, dan akurasi riwayat menjadi pilar utama kokohnya bacaan Al-Qur’an hingga hari ini.

Hikmah Sab‘atu Ahruf: Keluasan Makna Al-Qur’an

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian jamaah adalah penjelasan mengenai hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan sab‘atu ahruf. KH. Dzul Hilmi memaparkan tiga hikmah utama:

  1. Memudahkan umat dalam membaca Al-Qur’an, menyesuaikan ragam dialek masyarakat Arab.
  2. Memberikan wawasan kebahasaan, sehingga pembaca dapat memahami nuansa makna secara lebih kaya.
  3. Membuka keluasan penafsiran, agar umat Islam dapat menangkap pesan-pesan Al-Qur’an secara lebih dalam dan kontekstual.

Harapan ke Depan: Menghidupkan Nuansa Qurani di Jombang

Acara terkahir, Doa berasama sambil menyampaikan harapan agar kajian ilmu Qirā’āt semakin massif terlaksana di berbagai pesantren dan kampus di Jombang. Pemerintah daerah, para kiai, dan para ustadz juga menegaskan pentingnya dukungan mereka untuk menciptakan suasana Qurani di tengah masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga membuka ruang baru bagi generasi muda untuk kembali mencintai dan mempelajari ilmu Qirā’āt, sehingga keberlangsungan sanad dan tradisi ulama tetap terjaga dari masa ke masa.

Exit mobile version