Gali Spirit Keteladanan, LTN MWCNU Diwek Luncurkan Buku Cahaya Sang Kiai

Kegiatan literasi yang membedah biografi tokoh lokal ini berlangsung meriah dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.

Diwek, pcnujombang.or.id – Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) MWCNU Diwek sukses menggelar peluncuran dan bedah buku berjudul Cahaya Sang Kiai di Aula Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Minggu (15/2/2026).

Kegiatan literasi yang membedah biografi tokoh lokal ini berlangsung meriah dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah.

Hadir sebagai pemateri utama adalah Farhan Rafi selaku penulis buku. Sementara itu, Dr. Wasid Mansyur (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya) dan Mukani (Dosen STAI Darussalam Nganjuk) hadir sebagai narasumber pembanding.

Ketua panitia, Rifatuz Zuhro, menjelaskan bahwa buku ini merupakan antologi karya dari 23 penulis. “Isinya tentang kiprah perjuangan dan pengabdian dari 33 kiai kampung dan ibu nyai,” ujarnya.

Rifatuz menambahkan, pihaknya telah menyebar sekitar 120 undangan. “Baik kepada keturunan para kiai kampung, para ketua ranting dan badan otonom NU yang ada,” imbuhnya.

Antusiasme peserta pun cukup tinggi. “Ada dzuriyah kiai kampung yang ditulis bisa hadir dari Yogyakarta dan Jember,” katanya. “Termasuk peserta undangan dari Nganjuk, Kediri dan Mojokerto,” tuturnya.

Apresiasi mendalam disampaikan oleh Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Hj. Nur Laili Rahmah. “Kita bisa banyak belajar teladan dari para kiai kampung dan ibu nyai yang ada ditulis dalam buku ini,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan KH Hamdi Soleh, Ketua MWCNU Diwek. Ia mengaku bangga dengan pendokumentasian sejarah lokal ini. “Setua ini saya ikuti organisasi NU, baru kali ini kiprah para kiai kampung ditulis menjadi buku,” ujarnya.

Saat menyampaikan materi, Farhan Rafi menuturkan liku-liku proses kreatif dalam menyusun buku tersebut. “Kadang kita kendor saat menulis karena data belum lengkap, tapi itu jadi tantangan,” ujarnya.

Dia mengakui memang butuh motivasi kuat agar penulisan buku bisa selesai sesuai target. “Agar kita bisa membaca berbagai kisah keteladanan para tokoh yang ditulis,” imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Wasid Mansyur menilai bahwa menulis banyak tokoh dengan melibatkan banyak penulis menjadi tantangan tersendiri. “Karena tiap penulis tidak sama kemampuan dalam menulis,” ujarnya.

Namun, ia sangat mengapresiasi penerbitan buku ini. “Menjadi awal embrio penulisan para tokoh lainnya ke depan, ini harus dikawal,” tegasnya.

Dari sudut pandang pembanding lain, apa yang dilakukan Farhan Rafi dan kawan-kawan menurut Mukani menjadi catatan penting atas sosok kiai kampung yang jauh dari sorotan media. “Karena mereka mengabdi tidak butuh publikasi,” imbuhnya.

Mukani menegaskan, berbagai teladan diperoleh saat membaca kisah tokoh-tokoh NU terdahulu. “Mulai dari nilai toleransi, cinta ilmu, solidaritas, keikhlasan sampai pantang menyerah,” pungkasnya. (har)

Kontribusi dari Hari Prasetia, Pengurus LTN MWCNU Diwek

Editor: Moh. Syafi'i
Exit mobile version