Doa dan Dzikir dari Pendopo Jombang: Menyatukan Iman dan Cinta Tanah Air di HUT ke-80 RI

Jombang, pcnujombang.or.id – Malam itu, pendopo Kabupaten Jombang tidak hanya diterangi cahaya lampu, tapi juga oleh lantunan dzikir yang mengalun khusyuk dari ratusan jamaah.

Doa-doa mengalir, tangan-tangan menengadah, dan hati-hati terpaut dalam kesadaran kolektif, bahwa kemerdekaan bukan hanya sejarah, tapi juga amanah yang terus harus dijaga.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Jombang menggelar Dzikir dan Doa Kemerdekaan, Kamis (28/8/2025) malam di Pendopo Kabupaten.

Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dihadiri oleh para tokoh thariqah, ulama, serta jajaran pemerintahan daerah, termasuk Wakil Bupati Jombang.

Salmanudin Yazid menyampaikan bahwa dzikir dan doa bersama ini adalah bentuk syukur dan ikhtiar spiritual dalam mengisi kemerdekaan.

“Acara malam ini spesial karena pendopo ini adalah milik rakyat, dan malam ini dibuka oleh Abah Bupati. Saya berharap ini bisa menjadi acara tahunan dengan partisipasi ribuan orang. Karena terus terang, hari ini Jombang sangat membutuhkan doa agar menjadi daerah yang berkah dan bermanfaat,” ujar Gus Wabup sapaan akrabnya.

Ia juga menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti saat proklamasi dikumandangkan. Perjuangan kini harus diisi dengan nilai-nilai religius, cinta tanah air, dan kesadaran spiritual.

“Para pahlawan dan ulama dulu berjuang tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan doa dan iman. Maka dzikir malam ini adalah bagian dari perjuangan kita. Semoga Jombang senantiasa mendapat limpahan rahmat dan keberkahan dari Allah SWT,” tambahnya.

Sementara, KH. Abdul Kholiq Hasan, Rais Idarah Syubiyah JATMAN Kabupaten Jombang, menekankan bahwa sinergi antara ulama dan umara memiliki kekuatan luar biasa dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

“Kalau dua elemen bersatu umara dan ulama berdoa bersama, insyaallah masalah-masalah akan terselesaikan. Tugas kita sebagai orang thariqah adalah berdzikir terus menerus. Apapun masalahnya, istighfar adalah jalan keluarnya,” katanya.

Ia berharap JATMAN bisa terus berkembang dan hadir di seluruh kecamatan di Kabupaten Jombang sebagai rumah spiritual bagi masyarakat.

KH Fathul Huda, Rais Idaroh Wustha JATMAN Jawa Timur, yang turut memberi sambutan juga mengajak jamaah untuk menata niat sebagai fondasi setiap amal.

“Yang harus kita tata pertama adalah niat. Karena niat menentukan nilai amal, kualitas ibadah, dan menjadi penentu tercapainya tujuan. Kalau kita berkhidmat di JATMAN, niatnya adalah mengabdi kepada Nahdlatul Ulama,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa keberkahan hidup dan ilmu terletak pada pengabdian yang tulus. “Kalau ingin ilmu berkah dan bermanfaat, maka niat dan khidmat adalah kuncinya,” tegasnya.

Penulis: Kevin NizarEditor: Miftakhul Jannah
Exit mobile version