Artikel Ini ditulis oleh Dr. Hj. Mamik Rosita, M.Pd.I., Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang.
Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia mengenang sosok perempuan luar biasa, Raden Ajeng Kartini. Bukan sekadar tokoh emansipasi, Kartini adalah simbol keberanian berpikir, kegigihan belajar, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemajuan perempuan di tengah keterbatasan zamannya.
Yang patut kita renungkan lebih dalam, Kartini telah menunjukkan semangat belajar yang luar biasa sejak usia yang sangat muda di tengah sistem sosial yang membatasi perempuan, bahkan sebelum ia benar-benar memiliki kebebasan menentukan hidupnya sendiri.
Pada masa itu, akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas. Namun Kartini tidak menunggu kesempatan datang; ia menciptakan ruang belajarnya sendiri.
Sejarah Pena: Kekuatan Korespondensi Kartini
Tahukah rekan-rekan pendidik? Perjuangan Kartini tidak dimulai dari mimbar-mimbar besar, melainkan dari sebuah meja kayu di dalam pingitan. Beliau melawan gelapnya kebodohan dengan ujung pena.
- Tahun 1899 (Awal Pergerakan): Di usia yang baru 20 tahun, Kartini memulai korespondensinya dengan Estella “Stella” Zeehandelaar, seorang pegawai pos dan aktivis feminis di Belanda. Surat pertama ini menjadi tonggak sejarah di mana Kartini secara terbuka menyatakan kegelisahannya: “Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern yang berani…”
- Tahun 1900 – 1904 (Puncak Pemikiran): Selama periode ini, Kartini aktif bertukar pikiran dengan Rosa Abendanon (istri J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda). Dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, terkumpul kurang lebih 115 surat yang menjadi saksi bisu betapa kritisnya pemikiran Kartini tentang pendidikan, poligami, dan martabat bangsa.
- 7 September 1904 (Surat Terakhir): Hanya beberapa hari sebelum beliau wafat (13 September 1904), Kartini menulis surat terakhirnya kepada Nyonya Abendanon. Surat-surat inilah yang kemudian dibukukan menjadi “Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada tahun 1911.
Tradisi pingitan memang membatasi geraknya secara fisik, tetapi tidak pernah mampu membatasi pikirannya. Di usia belasan tahun, saat sebagian besar perempuan seusianya hanya dipersiapkan untuk peran domestik, Kartini justru telah bergulat dengan gagasan-gagasan besar. Ia membaca buku dan surat kabar berbahasa Belanda sesuatu yang pada masa itu hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu dan dari situlah cakrawala berpikirnya meluas melampaui zamannya.
Lebih dari itu, Kartini membangun jaringan intelektual melalui korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Ini bukan hal sederhana. Di usia muda, dalam kondisi terkungkung, ia mampu berdialog setara dengan pemikir dari dunia luar. Artinya, semangat belajarnya tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kegelisahan intelektual dan keberanian untuk mempertanyakan keadaan.
Di sinilah letak kehebatan Kartini: ia tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan, tetapi sebagai pemantik. Ia memahami bahwa ilmu adalah jalan pembebasan. Bahwa membaca adalah cara melampaui ruang. Bahwa menulis adalah cara mengabadikan gagasan.
Hari ini, refleksi itu menjadi sangat relevan bagi perempuan Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia. Jika Kartini di usia muda, dalam keterbatasan ruang dan akses, mampu memiliki semangat belajar yang begitu berkobar, maka sesungguhnya perempuan NU hari ini memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berkembang.

Apa Pelajaran bagi Kita (Perempuan Ma’arif & PAI)?
Jika Kartini di tahun 1899 saja sudah mampu menjangkau dunia luar dan mempengaruhi kebijakan pendidikan lewat surat-suratnya, maka kita di tahun 2026 tidak punya alasan untuk diam.
- Literasi adalah Senjata: Kartini membaca majalah De Locomotief dan buku-buku berat untuk membuka cakrawala. Kita pun harus menjadi pendidik yang haus akan ilmu.
- Membangun Jaringan (Networking): Korespondensi Kartini adalah bentuk networking masa lalu. Sebagai Ketua LP Ma’arif dan Pokjawas, saya mengajak kita semua untuk terus berkolaborasi, bertukar ide, dan tidak menjadi “katak dalam tempurung”.
- Mandiri Secara Intelektual: Meskipun dipingit, mental Kartini tidak pernah terpenjara. Inilah kemandirian sejati yang harus dimiliki setiap perempuan pendidik: Mandiri dalam berpikir dan berani memberikan dampak positif di mana pun kita ditugaskan.
Perempuan NU adalah penjaga nilai, sekaligus agen perubahan. Berakar pada nilai keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah, namun harus terus tumbuh sebagai insan pembelajar yang adaptif terhadap zaman. Tantangan hari ini bukan lagi keterbatasan akses, tetapi konsistensi dan kemauan untuk terus belajar.
Semangat literasi yang diwariskan Kartini harus kita hidupkan kembali bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai gerakan nyata. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi kebutuhan. Menulis bukan sekadar ekspresi, tetapi kontribusi. Berdiskusi bukan sekadar wacana, tetapi jalan membangun peradaban.
Belajar dari Kartini, kita memahami satu hal penting: api semangat tidak ditentukan oleh usia, ruang, atau keadaan, tetapi oleh kesadaran dan kemauan. Maka, tidak ada alasan bagi perempuan NU untuk berhenti bertumbuh. Justru di tengah tantangan zaman, perempuan NU harus tampil sebagai pelopor dalam pendidikan, dalam literasi, dan dalam membangun generasi yang berilmu dan berakhlak.
Momentum Hari Kartini ini harus menjadi titik kebangkitan bahwa setiap perempuan NU memiliki potensi besar untuk menjadi “Kartini-Kartini baru” di zamannya. Perempuan yang berpikir maju, berilmu luas, dan berani membawa perubahan.
Mari kita lanjutkan perjuangan Kartini dengan pena yang terus menulis, dengan pikiran yang terus belajar, dan dengan langkah yang terus bergerak.
Selamat Hari Kartini. Perempuan NU, saatnya bangkit, belajar, dan menjadi cahaya peradaban.
Penulis: Dr. Hj. Mamik Rosita, M.Pd.I., / Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang















