Jombang, pcnujombang.or.id – Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti keberangkatan ratusan warga Nahdliyin dari Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Ngrandulor dalam agenda besar ziarah makam waliullah di Jawa dan Madura. Tepat pukul 06.00 WIB, Sabtu (7/2/2026), iring-iringan tiga armada bus mulai bergerak membawa rombongan yang terdiri atas lebih dari 100 jemaah.
Kegiatan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan ini mengambil momentum istimewa di bulan Sya’ban—atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai bulan Ruwah. Waktu ini diyakini penuh keberkahan untuk mendoakan para leluhur serta kekasih Allah.
Memperkuat Sanad Spiritual
Kegiatan religi yang menjadi agenda rutin organisasi ini dipimpin langsung oleh Ustadz Syamsul, selaku ketua panitia yang juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Ranting NU Ngrandulor. Dalam keterangannya, Ustaz Syamsul menyampaikan bahwa perjalanan ini telah dipersiapkan dengan matang agar jemaah dapat beribadah dengan tenang dan nyaman.
Beliau menekankan bahwa ziarah adalah sarana menyambung sanad spiritual kepada para kekasih Allah sekaligus pengingat perjuangan dakwah Islam di Nusantara.
”Tujuan utama kita adalah tabarrukan atau mencari keberkahan. Kami berharap perjalanan ini membawa ketenangan batin, sehingga kita semua siap memasuki bulan Ramadan dengan hati yang lebih jernih,” ungkap beliau.
Soliditas Pengurus dan Jemaah
Kehadiran pimpinan struktural secara lengkap, mulai dari jajaran Syuriah hingga Tanfidziyah NU Ranting Ngrandulor, memberikan wibawa tersendiri sekaligus menegaskan kesolidan pengurus dalam mengawal amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Ketua Tanfidziyah NU Ranting Ngrandulor turut memberikan apresiasi atas kekompakan warga yang luar biasa. Beliau menyatakan bahwa ziarah wali bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wadah strategis untuk mempererat silaturahmi dan hubungan emosional antarwarga. Menurutnya, kekuatan jam’iyah NU terletak pada kerukunan jemaahnya. Melalui kegiatan inilah, nilai kebersamaan serta khidmah kepada ulama terus dirawat dan diwariskan.
Simbol Penguatan Sosial
Lebih dari sekadar perjalanan religi, ziarah ini menjadi bukti nyata bagaimana budaya NU mampu menyatukan aspek spiritualitas dengan penguatan sosial. Sepanjang perjalanan, gema tahlil dan selawat yang dipimpin oleh para masyayikh Syuriah menciptakan suasana batin yang sejuk.
Tradisi ziarah di bulan Ruwah ini juga menjadi momen untuk saling memaafkan antarwarga sebelum menunaikan ibadah puasa. Melalui wasilah doa di makam para waliullah, jemaah NU Ranting Ngrandulor diharapkan kembali dengan membawa keberkahan dan semangat baru untuk terus menebar manfaat di tengah masyarakat.














