Rahasia Berpuasa Ramadhan

Gus Muhammad Izzuddin, Lc, M.Pd.I salah satu pengasuh asrama ardales Darul Ulum menjelaskan tentang hikmah atau rahasia puasa pada safari ramadhan MWCNU Peterongan di Sumberagung. 

Ia menyampaikan bahwa segala sesuatu yang diwajibkan oleh Allah pada hambanya pasti memiliki “Asrôr” atau yang disebut juga dengan istilah “al-Hikmah” atau “Falsafah”.

Menurutnya walaupun kita sebagai manusia tidak diwajibkan untuk mengetahui semua hikmah dari apa yang diwajibkan Allah pada hambanya, namun mengetahui hal tersebut dapat membuat kita semakin sepenuhnya dalam menjalankan agama (beribadah) dan tidak terkesan hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja.

Allah taala berfirman dalam Alquran mengenai hikmah yang berbunyi:

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.”

Maka dari itu mempelajari hikmah dari ibadah seperti puasa yang diwajibkan pada kita saat ini, sungguh bukanlah hal yang merugikan. 

Banyak ulama yang menuliskan tentang hikmah ibadah semisal al-Imâm al-Ghazali yang menulis dalam kitabnya “Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn” bab bab dengan redaksi “Asrôr al-Thahârah, Asrôr al-Shalât, Asrôr al-Zakât, Asrôr al-Shaum, Asrôr al-Hajj dan lain sebagainya.

Saat dibulan ramadhan, semua umat islam diwajibkan berpuasa. Lantas, apakah kita tahu bahwasanya puasa merupakan ibadah yang sangat luar biasa untuk kepentingan diri kita sendiri di dunia dan akhirat, serta juga untuk sosial kemasyarakatan.

Puasa merupakan ibadah yang didalam al-Quran disebut secara terang terangan oleh Allah sebagai ibadah yang telah diwajibkan dan dijalankan oleh umat terdahulu sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Baca Juga  MWC NU Megaluh Siap Gelar Safari Ramadhan di 13 Ranting NU

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Jika kita membaca sejarah para nabi dan rasul dengan seksama, maka banyak riwayat yang menjelaskan, misalnya saja Nabi Adam A.s. berpuasa 3 hari setiap bulannya.

Nabi Nuh A.s. berpuasa selama satu tahun penuh (shaum al-Dahr) kecuali dihari al-Fithr dan al-Adhâ.

Nabi Ibrâhîm A.s. berpuasa salama 3 hari dalam setiap bulannya, Nabi Dâwûd A.s. berpuasa sehari dan berbuka sehari dan seterusnya.

Kita harus mengenali dulu bagaimana kita dalam menjalani puasa? Dan apa yang terjadi saat kita menjalankan ibadah puasa? 

Dengan begitu, saat kita menjalankan ibadah puasa, setidaknya kita kan menemukan dan menegakkan 4 hal sekaligus berupa nilai-nilai puasa.

Empat hal tersebut ialah:

1) Kita sedang menegakkan nilai-nilai NORMATIF. Artinya kita menjalankan ibadah puasa berarti kita menjalankan aturan-aturan serta kewajiban dari Allah S.w.t. untuk kita. Karena Allah S.w.t. lah yang mewajibkan ibadah puasa tersebut.

2) Kita sedang menegakkan nilai-nilai PURIFIKATIF (pembersihan/ penyucian diri). Artinya kita membersihkan kotoran-kotoran batiniyah diri kita, hawa nafsu dan ambisi buruk kita. Sebab puncak tujuan ibadah puasa adalah takwa. 

Maka dari itu orang yang bertakwa kepada Allah S.w.t. (al-Muttaqîn) batinnya bersih. Orang yang batinnya bersih maka secara otomatis suluruh anggota tubuhnya sukarela untuk menjalankan perintah-perintah Allah S.w.t. serta menjauhi larangan-larangan-Nya.

3) Kita sedang menegakkan nilai-nilai PREVENTIF (pencegahan). Ibadah puasa berfungsi sebagai rem dari laju kita sepanjang hari dan tahun. 

Kita ibarat orang yang sedang berlari, maka saat bulan Ramadhan ini saatnya kita mengendalikan diri kita, kita rem sebentar.

Ibadah puasa merupakan benteng bagi kita manusia, sebagaimana sabda baginda Rasulullah Muhammad S.a.w. :

Baca Juga  Gus Azmi Ajak Nahdiyiin Giat Kejar Lailatul Qadar Pada Safari Ramadhan MWCNU Peterongan Ke-12

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah merupakan sebuah benteng”

Kita tahu saat kita tidak sedang berpuasa maka kita buka selebar-lebarnya hasrat dan keinginan kita, apapun hal (baik dan buruk) bisa masuk pada diri kita. 

Maka dari itu puasa berfungsi untuk membentengi kita, mencegah kita dari hal-hal yang sulit kita hindari saat kita tidak sedang menjalankan puasa. 

Oleh karenanya banyak ulama menyarankan saat kita menghadapi hal-hal yang berat nan sulit, sedang sedih/gundah maka berpuasa bisa dijadikan solusinya.

4) Kita sedang menegakkan nilai-nilai PRESERVATIF (memelihara, mejaga, melindungi). Rasulullah Muhammad S.a.w. bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُوْمُوْا تَصِحُّو

“Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.”

Maka, puasa merupakan rem yang berfungsi menjaga manusia agar tubuh dan fisiknya tidak terlalu capek, lelah sebab bekerja terus-menerus mulai pagi hingga malam hari. 

Puasa juga memelihara kita untuk menjadi manusia dan pribadi yang sehat jasmani, rohani, mental dan spiritual.

Begitulah materi hikmah puasa yang disampaikan oleh Gus Izuddin ketika mengisi tausyiah ramadhan pada safari ramadhan MWCNU Peterongan di Sumberagung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *