Jombang, pcnujombang.or.id, – Krisis terbesar umat Islam hari ini bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis keyakinan dan akhlak. Banyak orang beragama, tetapi rapuh imannya; banyak yang berilmu, tetapi miskin adab. Di tengah situasi ini, peristiwa Isra’ Mi‘raj hadir bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan model pendidikan profetik yang relevan untuk menjawab kegersangan spiritual dan degradasi moral.
Peristiwa Isra’ Mi‘raj bukan sekadar kisah perjalanan agung Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Lebih dari itu, Isra’ Mi‘raj adalah peristiwa pendidikan ilahiyah yang meletakkan fondasi relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan peradaban
Dalam konteks pendidikan Islam, Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa proses pembentukan manusia seutuhnya tidak hanya bertumpu pada aspek intelektual, tetapi juga spiritual, moral, dan sosial. Isra’ Mi‘raj adalah proses pendidikan iman dan akhlak yang Allah berikan langsung kepada Rasulullah ﷺ pada saat umat berada dalam tekanan dan kebingungan arah.
Krisis Keyakinan: Ketika Iman Kehilangan Kedalaman
Krisis keyakinan hari ini tampak pada gejala beragama secara formalistik. Iman sering direduksi menjadi identitas, bukan kesadaran. Banyak yang mudah ragu, sinis terhadap nilai agama, bahkan menjadikan agama sekadar simbol sosial.
Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa iman harus dibangun melalui pengalaman spiritual yang otentik, bukan sekadar doktrin verbal. Rasulullah ﷺ “dipanggil” oleh Allah setelah mengalami kelelahan batin yang luar biasa. Artinya, iman justru diteguhkan saat manusia berada di titik terendahnya.
Perintah shalat yang turun dalam peristiwa Mi‘raj adalah sarana pendidikan iman paling konkret. Shalat mendidik manusia untuk menghadirkan Allah dalam hidupnya secara terus-menerus, sehingga keyakinan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman.
Perintah shalat yang turun langsung dalam peristiwa Mi‘raj menjadi bukti bahwa ibadah bukan sekadar ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs). Shalat mendidik manusia untuk disiplin, khusyuk, dan selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap gerak kehidupan.
Krisis Akhlak: Ilmu Tanpa Adab dan Kekuasaan Tanpa Moral
Krisis akhlak ditandai oleh normalisasi kebohongan, kekerasan simbolik di ruang publik, dan hilangnya rasa malu. Ironisnya, semua itu sering dilakukan oleh orang-orang berpendidikan dan beragama.
Isra’ Mi‘raj menegaskan bahwa puncak pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan akhlak dan ketundukan. Rasulullah ﷺ, manusia paling mulia, justru diperjalankan dalam posisi sebagai ‘abd (hamba), bukan sebagai raja atau penguasa.
Ini adalah kritik mendalam terhadap model pendidikan yang hanya mengejar prestasi, ranking, dan pengakuan sosial, tetapi abai membentuk karakter. Pendidikan Isra’ Mi‘raj mendidik manusia agar semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya.
Shalat sebagai Kurikulum Akhlak
Dalam perspektif pendidikan, shalat adalah kurikulum akhlak harian. Ia melatih kejujuran (niat), disiplin (waktu), kesetaraan (berjamaah), dan pengendalian diri (khusyuk). Krisis akhlak terjadi karena shalat kehilangan fungsi edukatifnya dan terjebak dalam rutinitas mekanis.
Allah Swt dalam Firmannya menegaskan bahwa :
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Isra’ Mi‘raj mengingatkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan proses internalisasi nilai. Ketika shalat hidup, akhlak akan tumbuh. Sebaliknya, ketika shalat ditinggalkan atau dikerjakan tanpa kesadaran, krisis moral menjadi keniscayaan.
Pendidikan Ketahanan Iman di Tengah Ujian Zaman
Isra’ Mi‘raj terjadi setelah ‘ām al-ḥuzn, masa paling gelap dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa pendidikan iman tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari ujian yang diolah dengan kesadaran ilahiyah.
Di era digital, generasi muda menghadapi banjir informasi, relativisme nilai, dan krisis keteladanan. Pendidikan Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa iman harus dipupuk melalui kedekatan spiritual, keteladanan moral, dan pendampingan, bukan sekadar ceramah normatif.
Reorientasi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam hari ini perlu kembali menjadikan Isra’ Mi‘raj sebagai inspirasi kurikulum nilai. Sekolah, pesantren, dan keluarga harus berani menggeser orientasi dari sekadar pintar menuju beriman dan berakhlak.
Krisis keyakinan tidak bisa disembuhkan dengan hafalan semata, dan krisis akhlak tidak bisa ditangani dengan hukuman belaka. Keduanya membutuhkan pendidikan ruhani yang konsisten dan bermakna.
Isra’ Mi‘raj adalah pesan langit untuk bumi yang sedang kehilangan arah. Ia mendidik manusia agar tidak sekadar cerdas, tetapi juga yakin; tidak hanya taat, tetapi juga berakhlak. Jika pendidikan hari ini gagal membentuk iman dan akhlak, maka Isra’ Mi‘raj mengingatkan kita: naiklah setinggi ilmu, tetapi jangan lupa bersujud sedalam iman.














