Jombang, pcnujombang.or.id — Napak tilas Nahdlatul Ulama tidak sekadar mengajak warga NU berjalan menyusuri rute sejarah. Kegiatan ini menghidupkan laku batin, menyambung ingatan kolektif dengan jalan sunyi para muassis. Saat kaki melangkah di jalan lama, nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, dan pengabdian ikut menyertai setiap tapak.
Antusiasme para Dzurriyyah, Masyayikh, panitia, dan ribuan para peserta pada Napak Tilas ini sungguh luar biasa. Penulis merasakan denyut semangat, khidmat, mahabbah, dan perjuangan pada momen ini. Kolaborasi dengan semua elemen baik dari ulama, umara, masyarakat dari berbagai lapisan turut serta mengikuti dengan khidmat rangkaian napak tilas NU ini.
Gerimis, Cermin Perjalanan Sejarah dan Dakwah NU
Gerimis yang mengiringi perjalanan—napak teles—memberi makna simbolik yang dalam. Para peserta Napak Tilas berjalan kaki di malam hari, di bawah hujan ringan yang membasahi jalan. Situasi ini bukan sekadar kebetulan cuaca, melainkan cermin perjalanan sejarah NU: tidak selalu terang, tidak selalu kering, tetapi terus dijalani dengan penuh istiqamah.
Pepatah alon-alon waton kelakon menemukan relevansinya dalam napak teles. Perjalanan ini tidak mengejar cepat sampai, tetapi menekankan makna sampai dengan selamat dan bernilai. Gerimis mengajarkan bagaimana jalan licin dan basah menuntut kehati-hatian dan kesabaran. Sementara, tubuh yang dingin melatih keteguhan jiwa dan semangat untuk meneruskan perjalanan.
Gerimis tidak menghalangi langkah, justru menjernihkan niat. Air yang membasahi jalan seolah mencuci kesombongan, sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan ulama selalu dekat dengan doa dan air mata. Sejak awal, dakwah NU tidak hadir sebagai badai yang memaksa, melainkan seperti hujan gerimis—perlahan, meresap, dan menghidupkan.

Jalan Kaki sebagai Tirakat Perjuangan
Tradisi pesantren memandang berjalan kaki sebagai bentuk tirakat. Laku ini mendidik tubuh agar tunduk dan menempa jiwa agar sabar. Para kiai pendiri NU membangun peradaban bukan dari ruang nyaman, melainkan dari perjalanan panjang yang penuh riyadhah dan kesederhanaan.
Jalan kaki dalam napak tilas NU juga menegaskan tirakat sebagai fondasi perjuangan jam’iyyah ini. Sejak awal berdirinya, NU tumbuh dari laku prihatin para kiai dan santri yang menjadikan kesederhanaan sebagai jalan pengabdian.
Berjalan kaki bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan latihan menundukkan ego, menata niat, dan memperkuat ketahanan batin. Tirakat ini mengajarkan bahwa perjuangan NU tidak dibangun dengan kemewahan dan kemudahan, tetapi dengan kesungguhan, kesabaran, dan kesediaan menempuh jalan panjang demi menjaga agama, merawat tradisi, dan mengabdi kepada umat serta bangsa.
Napak Tilas sebagai Wujud Kesetiaan pada Nilai
Napak tilas NU juga mengingatkan bahwa jam’iyyah ini lahir dari pesantren, tumbuh dari kesahajaan, dan berdiri di atas adab. Perjalanan menuju Tebuireng bukan sekadar rute fisik, tetapi ikhtiar kembali ke asal—menyambung ruh keilmuan dan akhlak Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Napak tilas dan napak teles akhirnya menyatu menjadi satu pesan penting: sejarah NU tidak cukup untuk dikenang, tetapi harus dijalani. Dengan kaki yang melangkah, hati yang tawadu’, dan kesediaan menempuh jalan panjang demi kemaslahatan umat dan keutuhan bangsa.
Di titik inilah “napak teles” menemukan maknanya. Basah bukan tanda kelemahan, tetapi bukti kehadiran sepenuh hati. Lelah bukan alasan berhenti, melainkan ruang untuk belajar ikhlas. NU mampu bertahan hampir satu abad karena warganya bersedia terus berjalan, meski jalan licin dan malam belum sepenuhnya terang.
Gerimis mungkin telah reda, namun laku itu membekas. Jejak kaki boleh hilang, tetapi jejak falsafah akan terus menuntun NU melangkah ke masa depan tanpa kehilangan arah asalnya—menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan kebangsaan.














