JOMBANG — Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, KH. Fahmi Amrulloh Hadziq (Gus Fahmi), mengajak seluruh pengurus dan warga NU untuk menyikapi perbedaan pandangan dengan penuh adab dan kebijaksanaan, termasuk dinamika menjelang pelaksanaan Muktamar.
Pesan tersebut disampaikan Gus Fahmi dalam sambutannya pada acara Lailatul Ijtima’ Zona IV yang meliputi wilayah MWC NU Mojowarno, Bareng, Ngoro, dan Wonosalam.
Kegiatan ini berlangsung di Masjid YABMP Desa Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, pada Jumat (24/7/2026) malam.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Pengurus Cabang NU Jombang, baik jajaran Syuriyah maupun Tanfidziyah, serta pengurus dan warga NU se-Zona IV.
Meneladani Imam Syafi’i
Dalam tausiyahnya, Gus Fahmi menekankan bahwa perbedaan pendapat atau hukum dalam tradisi NU adalah hal yang wajar dan bukan alasan untuk saling berselisih.
Ia mencontohkan keagungan adab Imam Syafi’i saat berziarah ke makam Imam Hanafi.
“Umpama beda hukum gak masalah. Nalika Imam Syafi’i ziarah ten kubah-e Imam Hanafi, Subuh-an yo gak qunut kok. Ketika ditanya santrinya, Imam Syafi’i menjawab beliau meninggalkan qunut demi menghormati Imam Hanafi (ta’adduban),” tutur Gus Fahmi.
Gus Fahmi mengingatkan agar warga NU tidak sampai berkonflik hanya karena dinamika organisasi maupun lokasi pelaksanaan Muktamar.
“Itu perbedaan yang luar biasa dalam syariat. Mangkane ojo kerana beda lokasi muktamar terus geger,” imbaunya diselingi nada kelakar khas pesantren.
Berjuang Tanpa Minta Bisyaroh
Cucu KH. M. Hasyim Asy’ari ini juga mengulas sejarah awal berdirinya Nahdlatul Ulama.
Pada masa-masa awal, Muktamar NU digelar setiap tahun dan para kiai generasi awal membiayai perjuangan organisasi menggunakan dana pribadi, bukan bergantung pada proposal atau bantuan pemerintah.
Mengutip keteladanan KH. Hasan Gipo (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pertama) dan Mbah Wahab Chasbullah yang rela merelakan harta demi menghidupkan NU, Gus Fahmi menekankan modal utama dalam mengurus organisasi ini adalah keikhlasan.
“Kalau jadi pengurus NU, modalnya satu, Ikhlas. Modalnya ya satu itu, Ikhlas. Kalau nggak Ikhlas, jangan jadi pengurus NU,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa berkhidmat di NU tidak mencari bisyaroh (imbalan/materi), melainkan mengharapkan barokah dan keberkahan kumpul bersama para ulama serta muassis (pendiri) NU.
“Apa yang kita dapatkan? Barokah. Jangan berharap mendapatkan bisyaroh, tapi kita harapkan barokah kumpul dengan para ulama, para muassis. Ini sungguh sesuatu yang lebih mahal,” pungkas Gus Fahmi.

Selain berpesan soal keikhlasan, Gus Fahmi juga mengapresiasi jajaran kepengurusan PCNU Jombang yang terus kompak dan solid.
Menurutnya, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu mendelegasikan tugas kepada wakil dan jajarannya agar organisasi tetap berjalan beriringan.
Acara Lailatul Ijtima’ Zona IV ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Rois Syuriah, KH. Mustain Hasan.
Dalam pesannya, Kiai Mustain mengajak warga Nahdliyin untuk berdoa demi kelancaran Muktamar ke-35 NU, serta kelancaran seluruh ikhtiar khidmah PCNU Kabupaten Jombang.














