Menelisik Sejarah, Memetik Uswah: Dari Tambakberas Menuju Bahrul Ulum

JOMBANG, pcnujombang.or.id – Salah satu pesan singkat namun sarat makna yang terdapat dalam buku Tambakberas adalah ungkapan “Menelisik Sejarah, Memetik Uswah.” Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pesan nonverbal yang hendak disampaikan kepada setiap pembaca: bahwa sejarah tidak cukup hanya untuk diketahui, tetapi harus ditelisik untuk menemukan keteladanan.

Kehadiran buku Tambakberas menjadi suplemen penting bagi santri di tengah menurunnya minat terhadap literasi dan kajian sejarah pesantren, terutama sejarah perjuangan, kisah, serta pemikiran para muassis dan masyayikh. Karena itu, tulisan ini mencoba menelisik kembali satu bagian sederhana namun menarik dari sejarah tersebut, yakni perubahan nama pesantren menjadi Bahrul Ulum, sekaligus mencoba memetik uswah dari relasinya dengan nama Tambakberas.

Pada 1965, KH Abdul Wahab Hasbullah melakukan istikharah untuk menentukan nama pesantren. Saat itu terdapat beberapa pilihan nama, di antaranya Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mambaul Ulum. Semuanya memiliki makna yang baik. Namun, berdasarkan hasil istikharah, KH Abdul Wahab Hasbullah memilih nama Bahrul Ulum.

Buku Sejarah Tambakberas

Dalam buku tersebut, alasan pemilihan nama ini dijelaskan dengan harapan agar Pesantren Tambakberas benar-benar menjadi “lautan ilmu”. Penjelasan tersebut tentu benar. Namun, rasanya makna itu tidak harus berhenti di sana. Sebab, sebuah nama yang lahir dari proses istikharah seorang ulama tentu menyimpan kemungkinan makna yang lebih luas untuk direnungkan.

Di sinilah penulis mencoba menarik benang merah antara “Tambakberas” dan “Bahrul Ulum”.

Dari Tambak Menuju Laut

Jika mencermati pemikiran KH Abdul Wahab Hasbullah dalam buku Tambakberas, tampak bahwa beliau selalu berusaha menghubungkan persoalan agama dengan realitas sosial dan kebangsaan. Dalam menghadapi berbagai persoalan, beliau tidak hanya mengandalkan pendekatan spiritual, tetapi juga menggunakan nalar, ushul fiqh, dan qawaid fiqhiyyah sebagai pedoman dalam membaca dan menyelesaikan persoalan masyarakat maupun bangsa.

Dari cara berpikir tersebut, nama Bahrul Ulum dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memperluas cara pandang dan cakrawala berpikir. Kita diajak bergerak dari sesuatu yang kecil menuju sesuatu yang lebih luas, dari ruang yang terbatas menuju ruang yang tidak bertepi. Dari tambak menuju laut, dari beras menuju ilmu, dan dari kesederhanaan menuju keluasan serta kedalaman.

Tambak dan laut memiliki hubungan yang erat. Tambak tidak pernah benar-benar terpisah dari laut. Keduanya sama-sama menjadi ruang kehidupan bagi ikan dan berbagai sumber penghidupan masyarakat. Namun, keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Di tambak, ikan harus ditebar terlebih dahulu oleh petambak. Sementara di laut, ikan telah tersedia dan nelayan harus memiliki kemampuan untuk menemukannya dan menangkapnya. Keduanya sama-sama menyediakan hasil, tetapi hasil tersebut tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan ikhtiar, pengetahuan, pengalaman, strategi, dan kesungguhan.

Baca Juga  Lailatul Ijtima' MWC NU Peterongan Berlangsung Khidmat di PRNU Ngrandu Lor

Begitu pula dengan pesantren.

Pesantren adalah ruang pembentukan manusia. Ia menyediakan lingkungan, tradisi, guru, kitab, dan nilai-nilai. Namun, ilmu tidak otomatis masuk ke dalam diri santri hanya karena ia tinggal di pesantren. Sebagaimana ikan tidak akan berpindah dengan sendirinya ke dalam jaring, ilmu juga harus “ditangkap” melalui kesungguhan belajar, ketekunan, adab, dan pengalaman.

Dari Beras Menuju Ilmu

Relasi kedua dapat ditemukan pada kata beras dan ilmu.

Beras merupakan makanan pokok. Hampir setiap hari kita membutuhkannya sebagai sumber energi untuk menjalankan aktivitas. Tanpa asupan makanan yang baik, tubuh akan kehilangan tenaga.

Demikian pula ilmu. Jika beras menjadi makanan bagi tubuh, maka ilmu adalah salah satu makanan bagi akal dan jiwa. Dengan ilmu, manusia belajar berpikir, memahami kehidupan, membedakan yang benar dan yang salah, serta menjalankan ibadah dengan baik dan benar.

Karena itu, dalam kehidupan seorang santri, makan dan belajar bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Tubuh membutuhkan makanan agar kuat beraktivitas, sementara akal membutuhkan ilmu agar mampu mengarahkan aktivitas tersebut kepada kebaikan.

Di sinilah pesan filosofis Bahrul Ulum menjadi semakin penting. Pesantren bukan sekadar tempat untuk tinggal, makan, tidur, atau memperoleh ijazah. Pesantren adalah tempat untuk menangkap, mengolah, dan mengamalkan ilmu.

Namun, mendapatkan ilmu juga membutuhkan strategi. Sebagaimana menangkap ikan di tambak berbeda dengan menangkap ikan di laut, mencari ilmu dalam ruang kehidupan yang semakin luas juga menghadirkan tantangan yang berbeda.

Menangkap ikan di laut lepas membutuhkan keberanian, pengalaman, pengetahuan tentang arah angin, gelombang, cuaca, serta karakter ikan. Demikian pula mencari ilmu membutuhkan metode, ketekunan, kesabaran, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

Karena itu, seorang santri tidak cukup hanya memiliki semangat belajar. Ia juga harus memiliki cara belajar yang benar, guru yang tepat, adab yang baik, dan kemampuan membaca konteks zaman.

Gapura Masuk Pesantren Bahrul Ulum

Santri dan Orientasi Keilmuan

Pada titik ini, penulis teringat dawuh KH Marsikhan Mansur bahwa “santri adalah orang yang orientasinya adalah keilmuan.”

Dawuh tersebut mengandung pesan yang sangat dalam. Identitas santri pada akhirnya tidak ditentukan semata-mata oleh pakaian, tempat tinggal, atau lamanya seseorang berada di pesantren, tetapi oleh orientasi hidupnya terhadap ilmu.

Jika seseorang berada di pesantren hanya untuk makan, tidur, mencari pekerjaan, mengejar jabatan, atau mendapatkan pengakuan sosial, maka ia sedang kehilangan ruh kesantriannya.

Ilmu semestinya dicari sebagai bagian dari ibadah. Bukan semata-mata sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan atau kedudukan. Apalagi menjadikan ilmu sebagai sarana untuk menyombongkan diri, memenangkan perdebatan, atau merendahkan orang lain.

Baca Juga  Musyker PRNU Bulurejo, Perkuat Sinergi dan Inovasi Program demi Kemaslahatan Umat

Sebab, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam pula kesadarannya bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahuinya.

Di sinilah metafora padi menjadi relevan. Padi yang semakin berisi semakin merunduk. Begitu pula ilmu. Semakin berilmu seseorang, semestinya semakin tumbuh ketawadhuannya.

Jika padi harus melalui proses penggilingan untuk menjadi beras yang bersih dan siap dikonsumsi, ilmu pun membutuhkan proses penyucian hati agar benar-benar memberikan manfaat.

Ilmu tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi kesombongan. Pengetahuan tanpa adab dapat berubah menjadi alat untuk merendahkan.

Karena itu, ilmu yang diajarkan dengan hati yang bersih dan niat yang ikhlas akan jauh lebih mungkin menjadi ilmu yang manfaat.

Menghidupkan Ruh Bahrul Ulum

Pada akhirnya, Bahrul Ulum bukan sekadar nama, tetapi juga cita-cita dan cara pandang. Jika Tambakberas menggambarkan sesuatu yang dekat dan sederhana, maka Bahrul Ulum mengajak kita melihat sesuatu yang lebih luas, yaitu lautan ilmu dan samudera kehidupan. Dari tambak kita belajar tentang keterbatasan, sedangkan dari laut kita belajar tentang keluasan.

Dari beras kita belajar tentang kebutuhan hidup, sementara dari ilmu kita belajar bagaimana menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bermakna. Karena itu, ungkapan “Menelisik Sejarah, Memetik Uswah” bukan sekadar mengajak kita mengenang masa lalu, tetapi juga belajar dari masa lalu untuk menentukan arah masa depan.

Dari para muassis dan masyayikh, kita belajar bahwa ilmu harus berjalan bersama pengabdian. Dari KH Abdul Wahab Hasbullah, kita belajar bahwa agama harus mampu menjawab persoalan kehidupan. Sementara dari nama Bahrul Ulum, kita belajar bahwa pesantren harus terus menjadi lautan ilmu yang luas, dalam, dan mampu mengantarkan santri mengarungi samudera kehidupan.

Inilah makna dari “Menelisik Sejarah, Memetik Uswah”: belajar dari masa lalu untuk menemukan arah masa depan. Pesantren harus tetap menjadi lautan ilmu yang luas dan dalam, sekaligus membekali santri untuk mampu mengarungi samudera kehidupan yang terus berubah.

Dan pada akhirnya, dari Tambakberas kita belajar tentang asal-usul; melalui Bahrul Ulum kita diajak mengarungi keluasan. Dari sejarah kita memetik uswah, dan dari ilmu kita menemukan arah. (ARC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *