Meneladani Spirit Isra’ Mi’raj dalam Jejak 102 Tahun Perjalanan NU: Dari Spiritualitas ke Transformasi Sosial

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual yang sarat akan makna. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’) dan naik ke Sidratul Muntaha (Mi’raj), peristiwa ini mengajarkan pentingnya hubungan vertikal dengan Allah SWT dan hubungan horizontal dengan manusia. Nilai-nilai luhur dari Isra’ Mi’raj ini memiliki relevansi yang kuat dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang kini memasuki usia ke-102 tahun menurut kalender Hijriah.

NU, yang didirikan pada 1926, bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan juga gerakan sosial dan budaya yang terus bertahan menghadapi tantangan zaman. Dalam usia lebih dari satu abad ini, NU menunjukkan bagaimana semangat spiritual dari Isra’ Mi’raj dapat diterjemahkan menjadi kekuatan transformasi sosial yang berkelanjutan.

Spirit Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Berorganisasi di NU

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa untuk mencapai puncak spiritualitas, seseorang harus memiliki keteguhan hati, visi yang jelas, dan keberanian menghadapi rintangan. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi Muhammad SAW melewati Tahun Kesedihan, saat beliau kehilangan Khadijah RA dan Abu Thalib, sebagai support sistem dakwahnya. Meski dalam keadaan sulit, Nabi tetap menjalankan misinya dengan penuh keyakinan. karena sesungguhnya setiap kesulitan pasti akan disertai kemudahan.

NU, dalam perjalanannya, juga menghadapi tantangan besar. Mulai dari perjuangan melawan kolonialisme, mempertahankan ideologi Pancasila di tengah ancaman ekstremisme, hingga adaptasi di era digital. Namun, seperti Isra’ Mi’raj yang menjadi momentum kebangkitan dakwah Nabi, NU juga selalu berhasil menjadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh dan berinovasi. dan salah satu inovasinya adalah Platform Digdaya NU, sebagai solusi digital yang memudahkan akses dan pengelolaan informasi bagi warga Nahdliyin.

Baca Juga  Trans7 dan Cermin Buram Profesionalisme Media

Relevansi Spiritualitas dan Sosial dalam Transformasi NU

Perjalanan Mi’raj melahirkan kewajiban shalat, simbol hubungan langsung manusia dengan Tuhannya. Dalam konteks NU, ini relevan dengan peran organisasi dalam menjaga spiritualitas umat melalui penguatan amaliah seperti tahlil, yasinan, dan maulid. Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga alat untuk memperkokoh solidaritas sosial.

Perjalanan NU adalah cerminan nyata dari bagaimana nilai-nilai transendental dapat diterjemahkan ke dalam aksi sosial yang berdampak luas. Seperti Isra’ Mi’raj yang membawa Nabi Muhammad SAW menuju puncak spiritualitas, NU pun terus berproses menuju puncak kebermanfaatan bagi umat manusia.

Namun, NU tidak berhenti pada spiritualitas semata. Seperti Isra’ yang menyentuh Masjidil Aqsa, simbol pertemuan antara dimensi langit dan bumi, NU juga menjembatani kebutuhan spiritual dan sosial umat. NU aktif dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan teknologi, termasuk melalui inovasi seperti pengembangan pesantren berbasis digital dan keterlibatan dalam isu-isu lingkungan.

Era digitalisasi menuntut NU untuk lebih adaptif tanpa meninggalkan akar tradisinya. Di sinilah NU menunjukkan relevansinya, dengan memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan dakwah kepada generasi milenial dan Gen Z. Langkah ini sejalan dengan semangat Mi’raj, yaitu menjangkau dimensi yang lebih tinggi tanpa melupakan pijakan bumi.

Menjaga Persatuan dan Kepemimpinan Umat

Dalam Isra’, Nabi Muhammad SAW menjadi imam bagi para nabi di Masjidil Aqsa, simbol persatuan umat. NU mengambil peran serupa dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Di era polarisasi sosial dan politik, NU tetap menjadi jangkar moderasi yang menjembatani berbagai kepentingan. Namun, NU harus tetap waspada, karena banyak kelompok yang tidak menginginkan keberadaan NU. Maka sudah saatnya kita kembali dengan sepenuh hati, satu komando, satu gerakan dan keyakinan bersama dalam naungan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga  Aplikasi Digdaya Persuratan NU Masuk 20 Besar Ajang WSIS PBB

Penulis : Abdur Rouf H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *