Kiai Muda NU Jombang Dr. Anang Firdaus terpilih menjadi peserta Tahqiqu al Turats di Mesir

Pelatihan kepengarangan turats Mesir ini diikuti oleh 20 kiai muda yang berasal dari beberapa pesantren di Indonesia, mulai dari Aceh, Lampung, Tasikmalaya, Kendal, Kudus, Jombang, Gresik, Surabaya, Madura, Jember, Banyuwangi hingga Pontianak. Rata-rata mereka semua adalah para pengajar kitab di pesantren dan Ma’had Aly.

Pelatihan ini diadakan oleh Kementerian republik Indonesia bekerjasama dengan LPDP mengadakan program non degree kepengarangan turots di Ma’had al-Makhtutath al-‘Arabiyah Mesir selama 1 bulan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan gairah akademis para kiai muda agar dapat memberikan wawasan dan ilmu terkait makhtutath dan tahqiq kitab. Lebih dari itu, program ini juga diharapkan mampu melahirkan para muallif yang nantinya akan dapat mengenalkan pamikiran ulama nusantara ke dunia Islam secara luas.

Salah satu peserta yang ikut adalah Dr. Mohamad Anang Firdaus, M.Pd.I. dari Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, yang juga anggota LTN NU PCNU Jombang.“Alhamdulillah, mendapat kesempatan untuk ikut program ini, senang sekali rasanya dapat bertemu dengan para ulama al-Azhar dan cindekiawan Mesir. Program ini menurut saya sangat penting, dan akan bermanfaat bagi kaum pesantren.

Selain mendapatkan ilmu dan wawasan soal turats dan ilmu makhtutath, kita juga belajar bagaimana para ulama terdahulu mampu menghasilkan maka karyanya melalui beberapa metode. Selain itu, di waktu senggang, kita juga bisa napak tilas ke makam-makam para imam besar yang telah mengarang kitab-kitab kuning yang dikaji di banyak pesantren. Misalnya Imam al Syafi;i, Imam Zakariya al-Anshari, Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani, Imam al-Suyuthi, Imam Ibn ‘Athaillah al-Sakandari, Imam al-‘Izz ibn Abdissalam, Imam al-Bajuri, dan lain-lain.

Selain itu, kami juga berkesempatan mengunjungi madrasah imam al-syadzili, dan masjid tempat imam ibn Hajar mengajar dan mengarang kitab fathul bari.Setidaknya pengalaman ini akan menjadi penyemangat bagi kami kaum pesantren untuk bisa merawat turats dan mengkaji lebih mendalam karya-karya ulama salaf, serta mampu merawat dan menggubah makhtuthah peninggalan ulama nusantara. Program ini juga dapat memberikan dorongan untuk dapat berkarya seperti para ulama yang telah melahirkan ratusan kitab legendaris. ” ungkapnya.

Baca Juga  Kajian Ilmu Qirā’āt: KH. Ahmad Dzul Hilmi Ghozali Kupas Sejarah dan Hikmahnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *