Jejak Keteladanan KH. M. Roqib Abdul Wahab: Merawat Silaturahmi dan Menjaga Adab Para Santri

Jombang – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Ndalem Almarhum Almaghfurlah KH. M. Roqib Abdul Wahab. Sejak wafatnya beliau pada Selasa (29/7/2026) sampai 7 harinya pada selasa (4/8/2026).

Keluarga besar, para santri, alumni, serta masyarakat berkumpul untuk mengikuti pembacaan Yasin, Tahlil, dan doa atas wafatnya sosok kiai yang semasa hidup dikenal sederhana, disiplin, serta penuh kasih kepada sesama.

Beberapa Kiai menyampaikan isyhad atau kesaksian tentang perjalanan hidup almarhum. Dalam tradisi pesantren, isyhad tidak hanya mengenang sosok yang telah berpulang, tetapi juga menghadirkan kembali keteladanan hidupnya agar terus menginspirasi generasi berikutnya.

Suasana Khidmat Masyarakat mengikuti Tahlil dan Doa di depan Ndalem Alm Kiai Roqib

Kiai Roqib “Sosok Ahli Silaturrahim”

Dalam isyhad-nya, KH. Fatkhulloh Malik menegaskan bahwa KH. M. Roqib Abdul Wahab merupakan sosok yang sangat menjaga tali silaturahmi. Beliau tidak hanya menjalin hubungan erat dengan keluarga inti, tetapi juga aktif mendekati keluarga besar, kerabat jauh, hingga para keponakan.

Beliau senantiasa menyapa siapa pun dengan ramah dan santun. Setiap perjumpaan selalu beliau manfaatkan untuk memberikan nasihat, motivasi, serta wejangan yang menyejukkan hati. Karena itulah banyak orang merasa dekat dan nyaman berada di sekitar beliau.

KH. M. Roqib Abdul Wahab tidak sekadar membangun hubungan kekeluargaan, tetapi juga menanamkan rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama.

Hal ini senada dengan Gus Rozaq dalam isyhadnya, Menurut beliau, Gus Roqib ini ada sosok yang luar biasa dalam silaturrahim dan memiliki pribadi yang santai dan sederhana. Bahkan, beliau sosok yang sangat akrab dengan para Gawagis dan para santri Tambakberas.

Kiai Fahmi Pengasuh Pesantren Tebuireng juga dalam Isyhadnya, menyampaikan bahwa beliau adalah sosok yang humble, ahli silaturrahim, dan sederhana. Bahkan ketika bertemu beliau, Gus Roqib merangkul beliau sebagai bentuk keakraban.

Kiai Roqib “Sang Pengawas Santri”

Dalam Isyhadnya, KH. Fatkhulloh Malik juga mengaitkan nama “Roqib” dengan salah satu Asmaul Husna, Ar-Raqib, yang berarti Yang Maha Mengawasi.

Makna nama itu tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari almarhum. Setiap pagi beliau berkeliling mengawasi kawasan perempatan yayasan. Beliau memastikan lingkungan pendidikan tetap tertib serta menjaga agar laki-laki dan perempuan tidak berbaur secara bebas di area pesantren.

Baca Juga  Peringati Harlah NU ke-103, MWCNU Jogoroto Gelar Pengajian Umum

Beliau melakukan pengawasan bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menjaga marwah pesantren dan membentuk karakter santri melalui pembiasaan adab yang baik. Ketegasan beliau lahir dari rasa tanggung jawab sebagai pendidik sekaligus pengasuh.

Kiai Roqib “Tegas Menjaga Adab Santri”

Masyarakat juga masih mengingat salah satu peristiwa pada masa EBTANAS. Saat sejumlah pelajar merayakan kelulusan dengan mencoret-coret seragam menggunakan pilox, KH. M. Roqib Abdul Wahab segera menghampiri mereka.

Beliau langsung menghentikan tindakan tersebut, menasihati para pelajar, kemudian mengantarkan mereka kembali ke sekolah masing-masing agar pihak sekolah memberikan pembinaan yang semestinya.

Sikap itu menunjukkan bahwa beliau tidak pernah membiarkan penyimpangan adab terjadi di hadapannya. Beliau memilih turun langsung memberikan pendidikan, bukan sekadar teguran.

Baginya, menjaga akhlak generasi muda sama pentingnya dengan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah.

Ayah yang sabar dan sayang pada Anaknya

Dalam sambutannya, Gus Amiq mengenang ayahnya sebagai sosok yang penuh kasih sayang kepada seluruh anak-anaknya. Di lingkungan keluarga, almarhum tidak pernah menunjukkan sikap keras atau mudah marah dalam mendidik putra-putrinya. Sebaliknya, beliau membimbing dengan kelembutan, keteladanan, dan kasih sayang.

Namun, Gus Amiq mengaku terkejut ketika mendengar banyak santri di masanya mengenang ayahnya sebagai seorang kiai yang tegas. Menurut mereka, almarhum tidak pernah ragu menegur atau meluruskan siapa pun yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tata tertib maupun nilai-nilai adab di pesantren.

Pengalaman itu membuat Gus Amiq semakin menyadari bahwa mengemban amanah sebagai Kepala Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) di Pesantren Tambakberas bukanlah tugas yang ringan. Ia pun mengakui belum mampu meneladani sepenuhnya ketegasan, kedisiplinan, dan ketulusan ayahnya dalam menjaga marwah serta ketertiban pesantren.

Mewarisi Tradisi Kerekatan Keluarga

Kesaksian lain datang dari KH. Masduki Kediri yang mengenang eratnya hubungan keluarga besar Bani Wahab di Tambakberas.

Baca Juga  Forum Syuriah MWCNU dan PCNU Jombang Usulkan Kebijakan Sekolah 5 Hari Dikembalikan ke 6 Hari

Beliau menceritakan bahwa setiap kali KH. Wahab Abdul Wahab datang ke Tambakberas, beliau selalu lebih dahulu mengunjungi ndalem adiknya, KH. Hamid.

Setelah itu keduanya bersama-sama bersilaturahmi ke ndalem KH. Fattah. Ketika hendak pulang, KH. Hamid dan KH. Fattah mengantar beliau hingga kembali ke kediamannya.

Tradisi saling mengunjungi, saling mengantar, dan saling memuliakan itulah yang kemudian membentuk budaya kekeluargaan yang begitu kuat di lingkungan Bani Wahab.

Menurut KH. Masduki, besar kemungkinan KH. M. Roqib Abdul Wahab mewarisi kebiasaan tersebut dari ayahandanya.

Karena itu, beliau tumbuh sebagai pribadi yang sangat menghargai persaudaraan, mempererat hubungan keluarga, dan tidak pernah membiarkan tali silaturahmi terputus.

Keteladanan yang Terus Mengalir

Kepergian KH. M. Roqib Abdul Wahab memang meninggalkan duka mendalam. Namun, keteladanan beliau terus hidup dalam ingatan keluarga, santri, alumni, dan masyarakat.

Beliau mewariskan lebih dari sekadar kenangan. Beliau meninggalkan teladan tentang pentingnya menjaga silaturahmi, menegakkan adab, membimbing generasi muda dengan penuh tanggung jawab, serta merawat persaudaraan dalam keluarga.

Nilai-nilai itulah yang menjadikan sosok KH. M. Roqib Abdul Wahab tetap hadir di hati banyak orang. Jejak pengabdian beliau akan terus menginspirasi siapa saja untuk membangun kehidupan yang lebih berakhlak, lebih peduli, dan lebih dekat dengan nilai-nilai Islam.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Almaghfurlah KH. M. Roqib Abdul Wahab, melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya bersama para ulama dan orang-orang saleh, serta menjadikan setiap keteladanan yang beliau wariskan sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *