Dari Sakal untuk Dunia: Kaligrafer Ibnu Atoillah Raih Nominasi Lomba Internasional IRCICA di Turki

Jombang, pcnujombang.or.id – Dunia pesantren membawa kabar membanggakan lewat prestasi kaligrafer muda asal Indonesia, Ibnu Atoillah, yang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menembus nominasi dalam ajang lomba kaligrafi bergengsi tingkat internasional IRCICA (Research Centre for Islamic History, Art and Culture) di Istanbul, Turki.

Indonesia di ajang IRCICA

Kompetisi Kaligrafi Internasional IRCICA yang ke-13 ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melestarikan seni kaligrafi Islam dan mendorong generasi muda Muslim mengembangkan bakat mereka dalam bidang seni tradisional Islam. Dalam ajang ini, sebanyak 511 peserta dari 38 negara mengirimkan total 640 karya kaligrafi dari berbagai penjuru dunia

Para seniman khat terbaik dari berbagai negara menjadikan IRCICA sebagai ajang paling prestisius di bidang seni kaligrafi Islam. Dalam kompetisi ini, para kaligrafer Indonesia turut berkontribusi dan menorehkan prestasi yang sangat membanggakan. Setidaknya ada 4 perwakilan Indonesia yang meraih prestasi pada ajang tersebut, salah satunya Ibnu Atoillah.

Ibnu Atoillah : Guru Sakal Denanyar dan Alumni UNWAHA

Ibnu Atoillah adalah guru di Pesantren Sakal (Santri Kaligrafi Al-Qur’an) dan juga alumni Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tambakberas, Jombang. Kesehariannya diisi dengan mengajar kaligrafi sekaligus terus mengasah diri dalam bidang seni khat yang telah ia geluti sejak lama.

Pesantren Sakal dibawah asuhan KH. Wazir Alie ini setiap tahun selalu meraih prestasi internasional. Pesantren ini fokus pada pengajaran dan pengembangan seni kaligrafi dan zukhrufah. Meskipun begitu, di pesantren ini juga diajarkan materi-materi agama seperti fikih, bahasa arab, nahwu, shorof, imlak dan beberapa materi penunjang lainnya.

Fokus Kategori Khat Diwani dan Tantangannya

Dalam lomba tahun ini, Ibnu Atoillah awalnya memilih dua gaya kaligrafi, yaitu Naskhi dan Diwani. Namun karena keterbatasan waktu dan fokus, ia akhirnya memutuskan untuk menuntaskan satu karya saja, yaitu dalam gaya Diwani.

Baca Juga  Instruksi Pelaksanaan dan Syiar HSN 2025 PCNU Jombang

“Untuk menyelesaikan karya Diwani ini, saya membutuhkan waktu sekitar 20 hari, dari eksekusi awal hingga tahap finishing,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan utama dalam proses tersebut adalah menyempurnakan anatomi huruf, tarkib (komposisi), serta merancang layout yang seimbang secara estetika seni rupa agar dapat memikat perhatian dewan juri.

Tembus Tiga Besar Nominasi Internasional

Setelah karya rampung, ia bersama teman-teman dari Sakal mengirimkan karya mereka ke kantor pusat IRCICA di Turki melalui jalur ekspedisi. Proses penjurian dilakukan secara ketat dan profesional oleh panel juri internasional, dan hasilnya diumumkan pada tanggal 27 Mei 2025.

Hasilnya sangat membanggakan: Ibnu Atoillah berhasil masuk nominasi dalam tiga kategori untuk jenis khat Diwani, mengalahkan ratusan peserta lain dari berbagai negara.

Ibnu Atoillah mengungkapkan rasa syukur dan haru atas capaian ini. “Prestasi ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, guru-guru saya di Sakal, serta semua sahabat dan murid yang selalu mendukung. Semoga pencapaian ini menjadi berkah dan motivasi untuk terus berkarya dan belajar lebih baik lagi,” ujarnya.

Pesantren dan Potensi Global

Keberhasilan Ibnu Atoillah menjadi bukti bahwa santri dan kalangan pesantren memiliki potensi besar di kancah global, termasuk dalam seni Islam seperti kaligrafi. Dari Sakal, Jombang—melalui tangan dan ketekunan seorang guru muda—lahir karya kaligrafi yang menginspirasi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *