Dari Membaca ke Menonton: Ketika Imajinasi dan Daya Pikir Kian Tumpul

Jombang, pcnujombang.or.id – Di ruang-ruang pendidikan hari ini, sebuah pergeseran besar tengah berlangsung nyaris tanpa disadari. Anak-anak bahkan orang dewasa kian akrab dengan layar, sementara buku perlahan kehilangan tempatnya. Tradisi membaca tergeser oleh tradisi menonton.

Perubahan ini bukan semata pergantian medium belajar, melainkan menyentuh jantung pendidikan itu sendiri: cara berpikir dan daya imajinasi manusia. Ketika membaca ditinggalkan, yang terancam bukan hanya literasi, tetapi kedalaman akal dan kejernihan batin.

Ironisnya, lembaga-lembaga pendidikan kita berlomba-lomba menghadirkan perangkat digital berbasis video yang kelihatannya canggih dan menarik. Namu secara tidak langsung justru menjadikan murid mulai enggan dengan membaca buku. Padahal membaca buku mampu melatih kesabaran, ketekunan, dan kemampuan merenung, tiga hal yang kini semakin langka di tengah arus informasi yang serba cepat.

Membaca, Pintu Peradaban Islam

Membaca menuntut kerja aktif akal. Saat membaca, seseorang membangun dunia dalam pikirannya sendiri: membayangkan tokoh, menafsirkan makna, dan menghubungkan teks dengan pengalaman hidup. Proses inilah yang melatih imajinasi, daya kritis, dan empati.

Sebaliknya, menonton video sering menyajikan makna yang sudah jadi. Gambar, suara, dan efek visual membatasi ruang tafsir, sehingga imajinasi tidak benar-benar bekerja.

Dalam perspektif pendidikan Islam, membaca menempati posisi sentral. Wahyu pertama yang Allah turunkan bukan perintah menonton, melainkan “Iqra’” (Bacalah). Perintah ini menegaskan bahwa membaca merupakan fondasi peradaban Islam yakni aktivitas intelektual sekaligus spiritual.

Dari budaya baca, umat Islam membangun tradisi ilmu, kesabaran berpikir, dan kedalaman refleksi. Maka tidak heran dari tradisi membaca Al-Quran, lahirlah kitab tafsir yang berbeda-beda. Dari tradisi membaca, lahirlah para mujtahid, para fuqaha’ dan para ilmuwan.

Metode Pembelajaran Klasik melahirkan Tafakkur

Para ulama klasik tumbuh dalam lingkungan yang menekankan muthala‘ah (membaca mendalam). Imam al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu lahir dari tafakkur dan tadabbur, bukan dari konsumsi pasif.

Baca Juga  Eksistensi NU dan Makna 'Wani Ngalah' dalam Peringatan Harlah ke-102

Ibnu Khaldun bahkan mengkritik metode belajar yang serba instan karena dapat melemahkan kesiapan akal peserta didik. Dalam Muqaddimah, ia menegaskan bahwa pembelajaran yang tidak bertahap dapat “mematikan kesiapan akal peserta didik”.

Kritik ini terasa relevan di tengah maraknya video pembelajaran singkat yang menghibur, tetapi dangkal. dan anehnya, para pendidikan kita lebih senang menggunakan pembelajaran berbasis video yang sejatinya secara tidak langsung membantu peserta didik kurang berkembang dalam imajinasi dan nalar berpikirnya.

Budaya Menonton Melahirkan Pola Pikir Instan

Berbeda dengan membaca, menonton video cenderung menghadirkan pengalaman yang sudah “jadi”. Gambar bergerak, suara, dan efek visual menyodorkan tafsir tunggal kepada penonton. Imajinasi tidak lagi bekerja aktif karena semuanya telah disiapkan oleh pembuat konten.

Video tentu bukan musuh pendidikan. Dalam batas tertentu, video membantu menjelaskan konsep dan menarik minat belajar. Namun ketika pendidikan terlalu bergantung pada media visual, peserta didik terbiasa menerima tanpa mengolah dan mengalisisnya.

Pada akhirnya, Pola pikir instan pun tumbuh: mudah bosan, sulit fokus, dan enggan berhadapan dengan teks panjang. Imajinasi kehilangan ruang untuk berkembang.

Dalam konteks pendidikan Islam, kondisi ini sangat berbahaya. Akal yang tidak dibiasakan berpikir mendalam akan mudah terseret arus, kehilangan daya kritis, dan gagap menghadapi persoalan nyata yang menuntut untuk berpikir menemukan solusinya.

Menghidupkan Kembali “Budaya Membaca”

Jika dunia pendidikan terus meminggirkan buku, kita berisiko melahirkan generasi yang fasih menonton tetapi gagap membaca; kaya informasi namun miskin refleksi. Padahal imajinasi yang lahir dari membaca menjadi fondasi inovasi, kepemimpinan, dan kepekaan sosial.

Karena itu, pendidikan Islam perlu menghidupkan kembali membaca sebagai budaya yang bernilai ibadah. Membaca melatih kesabaran, kejujuran intelektual, dan ketekunan. Guru, dosen, dan kiai harus memberi teladan dengan mencintai buku, membiasakan diskusi berbasis teks, serta menanamkan keyakinan bahwa ilmu menuntut kesabaran.

Baca Juga  Lailatul Ijtima MWCNU Plandaan, Ajang Silaturahmi dan Konsolidasi Warga NU

Video tetap penting, tetapi posisinya harus jelas: sebagai wasilah, bukan ghayah. Pendidikan tidak diukur dari seberapa cepat materi diserap, melainkan dari seberapa dalam akal dan akhlaq dibentuk. Dalam keheningan membaca, imajinasi menemukan rumahnya dan dari sanalah peradaban tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *