JOMBANG, pcnujombang.or.id — Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan dikenal sebagai Rabu terakhir bulan Safar. Di sejumlah masyarakat, momentum ini diisi dengan doa, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan shalat sunnah.
Masyarakat menjalankan salah satu tradisi Rabu Wekasan dengan membaca Surat Yasin, mengulang ayat “Salāmun qaulan min rabbir rahīm” sebanyak 313 kali, serta melaksanakan shalat sunnah mutlak empat rakaat dengan bacaan tertentu. Setelah itu, mereka memanjatkan doa untuk memohon perlindungan dan keselamatan.
Tradisi semacam ini menunjukkan bagaimana masyarakat Muslim Nusantara merespons rasa takut dan ketidakpastian dengan mendekatkan diri kepada Allah. Tentu, amalan tersebut perlu ditempatkan sebagai tradisi atau amalan yang berkembang di tengah masyarakat, bukan sebagai shalat khusus Rabu Wekasan yang secara tegas ditetapkan oleh Nabi Muhammad saw.
Era digital mengajak kita membaca kembali makna Rabu Wekasan dari sudut pandang yang berbeda.
Al-Qur’an menyebut dan Firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
Artinya Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar (Q.S. Al Baqarah : 155)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketakutan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk hidup dalam ketakutan. Ketakutan justru menjadi jalan untuk melatih kesabaran dan memperkuat ketergantungan kepada Allah.
Jangan biarkan algoritma menentukan cara kita takut
Di era digital, ketakutan memiliki wajah baru. Ia tidak lagi hanya diwariskan melalui cerita, tetapi diproduksi menjadi konten. Persoalan terbesar di era digital bukan hanya banyaknya informasi, tetapi kemampuan informasi untuk membentuk kesadaran manusia. Apa yang kita lihat berulang-ulang perlahan memengaruhi apa yang kita pikirkan.
Jika setiap hari algoritma menyodorkan ketakutan, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk melihat kehidupan secara utuh. Karena itu, seorang Muslim membutuhkan tabayun, bukan hanya terhadap berita, tetapi juga terhadap pikirannya sendiri.
Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang membuat kita takut adalah ancaman. Dan tidak semua yang muncul berkali-kali di layar adalah sesuatu yang penting.
Algoritma mengetahui apa yang membuat kita berhenti menggulir layar. Konten yang menakutkan sering mendapat perhatian lebih besar. Akibatnya, semakin kita melihat ketakutan, semakin banyak pula ketakutan yang datang kepada kita.
Antara Rabu Wekasan dan Tawakal
Di sinilah Rabu Wekasan dapat menjadi ruang perenungan. Rasulullah saw bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada kesialan pada burung, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”
(HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak semestinya menggantungkan ketakutan kepada hari, bulan, tanggal, atau pertanda tertentu.
Karena itu, Rabu Wekasan tidak harus dipahami sebagai hari yang menakutkan, tetapi dapat menjadi momentum untuk memperbanyak doa, dzikir, sedekah, dan introspeksi diri.
Yang penting bukan semata-mata kapan kita berdoa, tetapi kepada siapa kita menggantungkan keselamatan.
Tradisi boleh menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah, tetapi jangan sampai tradisi membuat manusia kehilangan tawakal. Teknologi boleh membantu kita memperoleh informasi, tetapi jangan sampai algoritma menentukan apa yang harus kita takuti.
Pada akhirnya, manusia memang tidak pernah sepenuhnya bebas dari ketakutan. Tetapi ia dapat memilih bagaimana meresponsnya.
Rabu Wekasan mengajarkan kita untuk tidak takut kepada sebuah hari. Era digital mengajarkan kita untuk tidak menyerahkan ketakutan kepada algoritma. Dan Islam mengajarkan kita untuk mengembalikan segala ketakutan kepada Allah.
Karena manusia yang merdeka bukan manusia yang tidak pernah takut, melainkan manusia yang mampu mengelola ketakutannya dan tetap menempatkan Allah sebagai tempat berserah.














