Webinar Internasional “The Future of Islamic Calligraphy” menghadirkan Lima Kaligrafer Internasional

Dari Tradisi ke Inovasi, Kaligrafer Dunia Satukan Estetika dan Spiritualitas dalam Dialog Global

Jombang, pcnujombang.or.id — Seni kaligrafi Islam menorehkan babak baru dalam sejarah peradaban melalui Webinar Internasional bertajuk “The Future of Islamic Calligraphy (Tradition, Innovation, and Global Dialogue)” yang digelar secara daring via Zoom Meeting pada 25 Oktober 2025.

PC JQH NU Jombang berkolaborasi dengan Pesantren Kaligrafi Sakal menggelar webinar pada momen Hari Santri Nasional. Kegiatan ini menarik peserta dari berbagai daerah di Indonesia

Acara ini, mempertemukan lima pakar kaligrafi dari berbagai negara yang membahas arah masa depan seni khat Islam di era digital. Mereka adalah Ustadz Atoillah dan Ahmad Yasir Amrullah (Indonesia), Sahroyan (Turki), Nor Hayatee Wado (Thailand), Atiqah Suhaimi (Singapura).

Sesi I : Konsep Jamaliyyah Al-Khat dalam Golden Ratio

Acara ini, menghadirkan lima pakar narasumber yang punya pengalaman dan prestasi dalam bidang khat. Dari Indonesia ada Ustadz Atoillah dan Ustadz Yasir Amrullah. Ustadz Atoillah mengawali materi webinar dengan tema “Jamaliyyah al-Khat” (Keindahan Khat).

Ia menegaskan bahwa dalam menulis khat, para Khattath harus mengetahui kaidah-kaidah khat dan juga konsep keindahan dalam berkarya. Maka, pentingya pengetahuan tentang konsep “Golden Ratio” untuk mencapai bentuk yang seimbang, proporsi, komposisi yang harmoni.

“Dalam membuat atau mendesain tulisan arab untuk menjadi sebuah Karya Khat, maka penulis harus mengetahui konsep “Golden Ratio”. Penerapan Golden Ratio ini penting untuk menentukan proporsi bentuk dan dimensi dalam khat..” ujar Ustadz Atoillah.

Sesi II : Menghidupkan Warisan Mushaf Qur’an dalam Khat Kufi

Pada sesi dua, Ahmad Yasir Amrullah mengulas tentang pengenalan tanda baca dan struktur huruf dalam Khat Khufi Mushafi. Ia mengajak peserta untuk memahami sejarah perkembangan khat kufi bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari aspek perubahan bentuk huruf, dan tanda baca.

Baca Juga  MWC NU Bandar Kedungmulyo Terima Wakaf 20 Bidang Tanah yang Diserahkan untuk Kepentingan Umat

Ia memaparkan evolusi tulisan Arab dari masa awal hingga kini, termasuk perubahan tanda baca, mulai dari harakat berupa titik oleh Abu Aswad ad-Du’ali, menjadi garis-garis tambahan, hingga akhirnya disempurnakan oleh Al-Farahidi dengan harakat berbentuk garis dan titik sebagai pembeda huruf.

“Generasi sekarang harus tahu bagaimana proses panjang perubahan tanda baca pada tulisan arab, agar mereka mau memahami bagaimana pentingnya tulisan al-Quran. Khat Naskhi pada Al-Quran tidaklah lepas dari perubahan tulisan arab yang menggunakan khat Kufi.” jelasnya.

Sesi 3 : Rahasia Keindahan Khat Farisi

Pada sesi berikutnya, Nor Hayatee Wado memukau peserta dengan penjelasan tentang rahasia keindahan khat Farisi. Ia mengungkap bahwa selain teknik penulisan, kunci utamanya terletak pada penggunaan pena khat dengan ukuran yang berbeda-beda.

Rahasia lainnya terletak pada penggunaan tinta. Ia sering mencampurkan air zam-zam ke dalam tintanya, karena menurut pengalamannya, campuran itu membuat goresan khat Farisi terasa lebih lancar, dinamis, dan tidak terputus.

Sesi 4 : “Tahdzirul Lauhah” Rahasia Keindahan Khat

Dalam pemaparannya, Syahroyan menghadirkan sesi inspiratif tentang Tahdzirul Lauhah (finishing karya). Ia menunjukkan proses penyempurnaan desain ayat, mulai dari pemilihan bahan, persiapan penulisan, hingga tahap tartis yang menjadikan khat bernilai seni tinggi.

Selain itu, Penyikapan dalam proses menulis di atas kertas muqohhar juga menjadi kunci keindahan tulisan. Seorang khattat harus mampu menyikapi kualitas kertas, kelancaran tinta, hingga cara membersihkan coretan dengan teknik yang tepat agar menghasilkan karya terbaik.

“Finishing bukan sekadar tahap akhir, tetapi latihan kesabaran untuk menghadirkan keindahan. Sebab Allah Swt. Maha Indah dan mencintai keindahan. Inilah hakikat khat,” ujarnya.

Sesi 4 : Teknik Pembelajaran Khat di Era Digital

Sebagai penutup, Atiqah Suhaimi dari Singapura menyampaikan materi “Pembelajaran Khat di Era Digital”. Ia menunjukkan bagaimana teknologi membuka ruang baru bagi pelajar dan seniman kaligrafi di seluruh dunia untuk berinteraksi, belajar, dan berkarya bersama.

Baca Juga  RMI PCNU Jombang, Silaturahmi Dengan Pengasuh Pesantren Zona 1

Proses desain dan pembuatan karya kaligrafi klasik kini semakin mudah berkat teknologi. Beragam aplikasi digital membantu para khattat beradaptasi dan belajar khat dengan lebih praktis dan interaktif.

“Dalam belajar khat, kita perlu adaptasi dengan teknologi digital. Berbagai fitur bisa kita manfaatkan untuk menunjang proses pembelajaran.” ujarnya

Menjembatani Tradisi dan Inovasi

Webinar ini membuktikan bahwa kaligrafi Islam tetap hidup dan relevan di tengah modernitas. Tradisi yang lahir dari tinta dan pena kini bertransformasi melalui layar digital tanpa kehilangan makna spiritualnya.

Meskipun begitu, Tradisi sanad dalam belajar khat klasik harus tetap berjalan sampai kapanpun. sebagaimana maqolah “Al-Muhafadhatu ala al-Qadim al-Shalih, Wa al-Akhdzu bi al-Jadidi al-Aslah.

Melalui forum lintas negara ini, para peserta menyadari bahwa seni khat adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara estetika dan spiritualitas, antara tradisi dan inovasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *