Ribuan Nahdliyin Shalawatan Bersama JASNU Diwek, Gus Muzaki Tekankan Makna Ruwah

Acara inti diisi dengan mauidhoh hasanah oleh Gus Ahmad Muzaki. Dalam ceramahnya, ia mengupas makna bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa sering dikenal sebagai bulan Ruwah.

Diwek, pcnujombang.or.id – Sekitar seribu jamaah menghadiri kegiatan Jam’iyah Shalawat Nahdlatul Ulama (JASNU). Mereka memadati halaman Masjid Ar-Rahman, Desa Balongbesuk, Kecamatan Diwek, pada Sabtu (24/1/2026) malam.

Antusiasme terlihat tinggi hingga sebagian besar jamaah meluber ke jalanan desa di sekitar masjid. Hadirin terdiri dari pengurus ranting NU, lembaga, badan otonom (banom), serta masyarakat setempat.

Turut hadir sebagai tamu undangan dalam acara tersebut Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Diwek, KH Hamdi Sholeh, serta Katib Syuriah MWCNU, Gus Muhammad Sobby.

Kepala Desa Balongbesuk, Mochammad Syaifur, mengaku bangga wilayahnya kembali dijadikan lokasi malam shalawat oleh JASNU. “Ini yang kedua kalinya, tapi masyarakat Desa Balongbesuk tetap antusias menyambut jamaah JASNU,” ujarnya.

Persiapan panitia, lanjutnya, telah dilakukan sejak jauh-jauh hari demi kelancaran acara. “Bahkan anggota Fatayat dan Muslimat NU sudah latihan dua bulan lalu untuk tim paduan suara,” imbuhnya.

Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Sholeh, turut mengapresiasi kekompakan panitia dan para jamaah. Ia menyadari bahwa kegiatan akbar seperti ini tentu membutuhkan biaya dan dukungan yang tidak sedikit.

“Semoga dengan perantara acara ini, semua rezeki dibuka oleh Allah,” harapnya mendoakan para donatur dan jamaah yang hadir.

Kiai Hamdi juga menekankan pentingnya kebersamaan tanpa memandang status sosial ketika berada di dalam majelis tersebut. “Kalau sudah kumpul seperti ini, semua sama,” tambahnya.

Acara inti diisi dengan mauidhoh hasanah oleh Gus Ahmad Muzaki. Dalam ceramahnya, ia mengupas makna bulan Sya’ban atau yang dalam tradisi masyarakat Jawa sering dikenal sebagai bulan Ruwah.

Baca Juga  Mulai Pudarnya Enam Syarat Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim al-Muta‘allim

“Ruwah artine ngruwat arwah. Kirim dungo kanggo sing sampun sedo,” terangnya.

Menjelang datangnya bulan suci Ramadlan, Gus Muzaki mengingatkan jamaah untuk saling memaafkan, utamanya kepada orang tua dan saudara.

Ia menyayangkan adanya fenomena hubungan kekerabatan yang mulai renggang. “Zaman sekarang banyak yang tidak kenal dengan paman, bibi, bahkan kakaknya,” tegasnya.

Karena itu, ia mengimbau jamaah untuk menyambung kembali tali silaturahmi. Saudara atau kerabat yang selama ini tidak pernah saling kontak atau terputus komunikasinya, agar segera dihubungi kembali.

Selain menjaga hubungan sesama manusia, ia juga mengajak jamaah untuk membenahi kualitas ibadah sebelum memasuki bulan puasa.

“Shalat lima waktu itu wajib. Kalau tidak bisa berdiri, ya duduk. Kalau tidak bisa duduk, ya berbaring,” pungkasnya.

Kontribusi dari Hari Prasetia, pengurus LTN MWCNU Diwek

Editor: Moh. Syafi'i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *