Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Meneguhkan Jihad Ilmu, Membangun Generasi NU untuk Dunia

Oleh: Dr. Mamik Rosita, M.Pd.I (Ketua LP Ma’arif NU Jombang)

​Setiap kali tanggal 28 Oktober tiba, kita seakan diajak menundukkan kepala di hadapan sejarah. Tanggal itu bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penyala semangat yang melahirkan bangsa besar bernama Indonesia. 

Sumpah Pemuda 1928 adalah momen krusial ketika anak-anak muda dari berbagai penjuru Nusantara menanggalkan segala sekat suku, bahasa, dan budaya untuk menyatukan cita-cita luhur: Indonesia yang merdeka, bermartabat, dan berdaulat.

​Namun, bagi kita, keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), Sumpah Pemuda memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam. Ia bukan hanya tentang persatuan bangsa, melainkan juga tentang konsep jihad kebangsaan dan khidmah kemanusiaan. 

Sejak awal berdirinya, NU telah memaknai cinta tanah air (hubbul wathan minal iman) sebagai bagian dari iman. Nasionalisme dalam pandangan NU adalah pengejawantahan dari tauhid sosial; keyakinan bahwa mencintai sesama manusia dan membangun peradaban adalah bentuk nyata pengabdian kepada Allah Swt.

​Kini, hampir seabad kemudian, kita hidup di zaman yang jauh berbeda. Tidak ada lagi kolonialisme dalam bentuk fisik, tetapi ada penjajahan dalam bentuk lain yang tak kalah berbahaya: penjajahan pikiran, budaya, dan moral. 

Di tengah gempuran digitalisasi, derasnya informasi, serta krisis karakter, bangsa ini kembali membutuhkan anak-anak muda yang siap berjuang—bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan karya.

​Inilah jihad baru yang harus kita menangkan. Bagi LP Ma’arif NU Jombang, jihad itu berarti menjadikan pendidikan sebagai poros perubahan. Guru, kepala sekolah, dan para siswa tidak lagi hanya menjadi pelaku pendidikan, tetapi juga penggerak peradaban. 

Di tangan merekalah nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah harus terwujud dalam karakter, etika, dan karya nyata.

Baca Juga  Kebahagiaan Mudik Lebaran: Gambaran Pertemuan Keluarga di Surga

​Guru bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan penyalur cahaya kebijaksanaan. 

Kepala sekolah bukan sekadar pengelola lembaga, tetapi penjaga marwah peradaban. Dan siswa-siswi Ma’arif bukan sekadar peserta didik, melainkan calon pemimpin umat dan bangsa yang berjiwa santri, berpikir global, dan berhati rahmah.

​Sumpah Pemuda hari ini harus kita maknai ulang. Ia bukan hanya seruan untuk bersatu, tetapi ajakan untuk berjuang bersama meneguhkan martabat bangsa melalui ilmu dan akhlak. 

Jika pemuda 1928 berjuang mengusir penjajahan, maka pemuda 2025 harus berjuang mengusir kebodohan, intoleransi, dan ketidakadilan sosial.

​Generasi muda NU hari ini harus berani memimpin perubahan. Berani berpikir maju tanpa meninggalkan tradisi. Berani menguasai teknologi tanpa kehilangan spiritualitas. Berani menjadi ilmuwan, pengusaha, pejabat, dan pendidik, tetapi tetap menjadikan agama sebagai cahaya penuntun langkah.

​Dari ruang-ruang kelas Ma’arif, dari pesantren dan madrasah, dari desa-desa kecil hingga kota besar, kita ingin melahirkan generasi NU yang cerdas, moderat, dan berakhlak mulia. 

Generasi yang akan membawa NU bukan hanya menjadi kekuatan moral bangsa, tetapi juga kekuatan intelektual dunia.

​Cermin Perjuangan

​Refleksi Sumpah Pemuda hari ini juga menjadi cermin bagi kita semua: ​Apakah semangat perjuangan masih menyala dalam dada kita? ​Apakah kita masih mengajar dengan cinta, memimpin dengan ketulusan, dan belajar dengan niat ibadah?

​Sebab, jihad kita kini bukan lagi soal darah dan nyawa, tetapi tentang konsistensi, integritas, dan keteguhan menanam nilai-nilai kebaikan di hati generasi muda.

​LP Ma’arif NU Jombang harus terus berdiri di garda depan dalam menyalakan api pendidikan yang berkarakter. Kita harus memastikan bahwa setiap lembaga Ma’arif tidak hanya melahirkan lulusan yang pintar, tetapi juga berjiwa pejuang. 

Baca Juga  Merefleksikan Tawadhu' di Tengah Kehidupan Pesantren

Lulusan yang tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman. Lulusan yang mampu berdiri tegak sebagai pemimpin umat, pembawa perubahan, dan penjaga moral bangsa.

​Dari bumi Jombang—tempat lahirnya ulama besar, tempat berpijaknya sejarah NU, tempat menyala api cinta ilmu—kita teguhkan kembali semangat itu. 

Kita satukan langkah dalam jihad keilmuan, kita kuatkan tekad dalam khidmah untuk umat, dan kita nyalakan visi besar untuk melahirkan generasi NU yang siap menatap dunia. 

Karena bagi kita, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi panggilan ruhani untuk terus ber-khidmah.

​Cinta tanah air adalah ibadah. Mengajar adalah jihad. Dan mendidik generasi adalah sedekah abadi bagi bangsa dan agama.

​Maka, hari ini, kita perbarui sumpah kita, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk peradaban dunia. 

Bangkitkan Jihad Ilmu. Teguhkan Khidmah untuk Umat. Jayakan NU untuk Dunia. Dari Jombang, semangat itu kita kobarkan untuk Indonesia yang beriman, berilmu, dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *