Menghidupkan Spirit Maulid: Meneladani Akhlak Rasulullah Saw di Tengah Riuh Demokrasi

Jombang, pcnujombang.or.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk merenungkan kembali nilai perjuangan, kepemimpinan, dan akhlak Rasulullah. Maulid tidak sekadar perayaan seremonial, tetapi cahaya yang menuntun umat menuju kehidupan yang lebih adil, bermoral, dan penuh kasih sayang.

Di tengah dinamika bangsa Indonesia hari ini—dari demonstrasi di Gedung DPR, protes kenaikan pajak di Pati, hingga maraknya kasus korupsi pejabat—spirit Maulid semakin relevan. Kita harus menghidupkan akhlak Rasulullah SAW agar demokrasi tidak sekadar berjalan secara prosedural, tetapi benar-benar beradab dan berpihak pada rakyat.

Spirit Maulid dan Gelombang Demo di DPR

Gelombang aksi demonstrasi kembali menjadikan Gedung DPR sorotan publik. Massa turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan terhadap kebijakan yang mereka anggap tidak berpihak pada rakyat. Tragisnya, aksi itu menyisakan cerita pilu karena salah seorang warga sipil Affan Kurniawan menjadi korban akibat tindakan mobil aparat polisi yang menabraknya.

Aksi ini menunjukkan vitalitas demokrasi, namun juga menyingkap jurang antara rakyat dan penguasa. Banyak pejabat lupa pada amanah, sementara sebagian masyarakat juga mudah terprovokasi dalam menyampaikan aspirasi di setiap aksi demonstrasi.

Dalam perspektif Maulid, suara rakyat ini mencerminkan amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks sosial-politik: menyeru kepada kebaikan dan menolak kebijakan yang dinilai tidak adil. Namun, perlu untuk melihat bagaimana cara terbaik dalam mencegah kemungkaran.

Dalam konteks mencegah kemungkaran, Rosulullah sudah memberikan cara yang terbaik :

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ingkarilah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49] (Hadits Arbain Nawawiyah no 34)

Maka, perlu kita mengetahui langkah yang tepat bagi rakyat untuk menyuarakan aspirasinya. Aksi demonstrasi ini merupakan suara rakyat yang seharusnya dibaca sebagai panggilan moral yakni seruan kebaikan sekaligus penolakan terhadap kebijakan yang dianggap zalim.

Baca Juga  Beliau Berpulang Saat Memimpin Tahlil

Bagaimana Seharusnya Sikap Pejabat dan Rakyat?

Rasulullah SAW telah memberi teladan kepemimpinan yang baik dengan mendengar dan menampung aspirasi rakyatnya. Karena pemimpin sejati bukan menutup telinga, apalagi menjadikan kekuasaan sebagai alat kepentingan pribadi.

Sebagai rakyat, dituntut menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun. Amar ma’ruf bil ma’ruf: menyeru kebaikan dengan kebaikan. Sehingga aspirasi bisa tersalurkan dengan baik tanpa ada kekerasan dan penghinaan yang seringkali memicu tindakan kekerasan.

Sebagai pejabat, pemerintah dan aparat juga harus menegakkan nahi munkar bil ma’ruf: mencegah kemungkaran dengan cara yang adil dan beradab. Hal ini agar tidak ada tindakan sewenang-wenang dari aparat kepada rakyat. Jadi keduanya harus mampu menahan egonya masing-masing.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata:

لاَ يَأْمُرُ بِالمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ إِلاَّ مَنْ كَانَ فِيْهِ خِصَالٌ ثَلاَثٌ : رَفِيقٌ بِمَا يَأْمُرُ ، رَفِيْقٌ بِمَا يَنْهَى ، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ ، عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى ، عَالِمٌ بِماَ يَأْمُرُ ، عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى

“Hendaklah memerintah yang makruf dan melarang dari kemungkaran dengan tiga hal: lemah lembut ketika memerintah dan melarang, adil dalam perintah dan larangan, serta berilmu pada apa yang diperintahkan dan dilarang.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:256)

Pesan itu seharusnya menjadi dasar relasi antara rakyat, aparat, dan pejabat negara agar saling memahami tugas dan perannya masing-masing. Bukan saling menyalahkan, apalagi bertindak sewenang-wenang.

Jalan Tengah: Menghidupkan Akhlak Rasulullah Saw dalam Demokrasi

Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, tetapi sering kehilangan teladan. Demokrasi kita gaduh, namun miskin akhlak. Spirit Maulid mengingatkan: akhlak adalah fondasi peradaban.

Ketika pemimpin jujur, adil, dan berpihak pada yang lemah, rakyat tidak perlu turun ke jalan untuk menuntut haknya. Sebaliknya, rakyat pun harus bersabar, dewasa, dan santun dalam menyampaikan aspirasi.

Baca Juga  Sekolah Rakyat dan Tantangan Sosial-Budaya: Menakar Jejaknya di Tanah Pesantren Jombang

Spirit Maulid mengajarkan bahwa demokrasi tanpa akhlak hanyalah panggung gaduh, tetapi demokrasi dengan akhlak Rasul akan melahirkan keadilan dan kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *