Buku yang mengulas tentang kisah dan teladan dari KH Ahmad Wahid Hasyim serta perjuangan istrinya, Bu Nyai Solichah, dalam mendidik putra-putrinya ini menjadi simbol akan pentingnya peran pendidikan karakter dalam keluarga untuk mewujudkan generasi yang unggul.
Jombang, pcnujombang.or.id – Giat literasi di dunia pesantren seakan tak ada habisnya. Salah satunya terwujud dalam kegiatan Bedah Buku berjudul Teladan dari Rumah Ulama , karya KH. dr. Umar Wahid, yang diselenggarakan di Gedung A Yusuf Hasyim, Pondok Pesantren Tebuireng, pada Sabtu (22/11/2025).
Buku yang mengulas tentang kisah dan teladan dari KH Ahmad Wahid Hasyim serta perjuangan istrinya, Bu Nyai Solichah, dalam mendidik putra-putrinya ini menjadi simbol akan pentingnya peran pendidikan karakter dalam keluarga untuk mewujudkan generasi yang unggul.
KH. dr. Umar Wahid, penulis buku yang juga putra ke-4 dari pasangan tersebut mengungkapkan, teladan dari kedua orangtuanya benar-benar dicontohkan dalam sikap dan keseharian. Nilai-nilai keteladanan KH Wahid Hasyim yang merupakan cerminan dari KH Hasyim Asy’ari diimplementasikan dalam mendidik putra-putrinya.
KH Wahid Hasyim, lanjutnya, pada masanya banyak memegang peran penting di Indonesia. Pada usia 31 tahun, beliau menjadi salah satu dari panitia perumusan dasar negara. Ia juga diangkat menjadi Menteri Agama pertama kali di usia 32, serta menjadi ketua Tanfidziyah PBNU di usia 37 tahun.
“Meskipun wafat di usia 39 tahun, dan kami tidak menghabiskan banyak waktu bersama beliau, namun keteladanannya masih terus ada,” ujarnya.
Peran Bu Nyai Solichah dalam mendidik putra-putrinya sepeninggal KH Wahid Hasyim juga perlu diperhitungkan. Didikannya yang tegas menjadi cambuk bagi anak-anaknya agar sukses di masa depan.
“Beliau mendidik kami dengan keras tapi lembut, keras dalam artian tegas, dan beliau juga menanamkan pada anak-anaknya apabila melakukan sesuatu harus disertai niat yang sungguh-sungguh,” ujar Gus Umar.

Ketika ditinggal wafat suaminya, Bu Nyai Solichah saat itu masih berusia 31 tahun dengan 5 orang anak yang masih kecil dan 1 anak dalam kandungan. Dengan segala perjuangan, Bu Nyai Solichah membuktikan bahwa dirinya mampu merawat dan mendidik anak-anaknya hingga menjadi ahli di bidang-bidang tertentu.
“Bu Nyai Solichah, leadership -nya kuat dan pribadinya lembut, Bu Nyai juga berpesan kepada anak-anaknya bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus membawa manfaat kepada masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, KH Abdul Hakim Mahfudz, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, mengapresiasi tentang isi buku Teladan dari Rumah Ulama tersebut.
Gus Kikin menuturkan bahwa buku itu adalah cerminan dari pola pengajaran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari kepada putra-putri dan para santrinya yang tertuang dalam kitabnya Adabul ‘Alim wal Muta’allim .
“Buku ini sangat menarik karena mengandung cerminan pengajaran Hadratussyaikh kepada putra-putrinya,” ujar Ketua PWNU Jawa Timur tersebut.
Gus Kikin juga mengaku kagum dengan sosok Bu Nyai Solichah. Bu Nyai Solichah dianggapnya mampu mengemban dan mengajarkan nilai-nilai luhur keluarga pesantren.
“Yang menarik lagi dari buku ini adalah dijelaskan bahwa apa yang didapat dan diajarkan Bu Nyai Solichah adalah apa yang ia dapat dari suaminya,” tambahnya.
Perihal sosok Bu Nyai Solichah juga dituturkan oleh Hj Lathifah Sohib. Ia menyebutkan bahwa Bu Nyai Solichah adalah sosok yang riyadhohnya luar biasa sama seperti ibunya, yakni Bu Nyai Chodijah.
“Semoga bisa diteladani oleh kita semua,” tutur Wakil Bupati Malang yang juga kerabat dan saksi hidup KH Wahid Hasyim dan Bu Nyai Solichah.
Acara yang dihadiri oleh dzuriyah Pondok Pesantren Tebuireng dan Mamba’ul Ma’arif Denanyar serta dimeriahkan oleh ratusan peserta tersebut berjalan dengan penuh antusias.
Di akhir acara dibuka sesi tanya jawab interaktif yang dijawab langsung oleh ketiga narasumber, yakni Gus Umar, Gus Kikin, dan Hj Lathifah Sohib.














