Lailatul Ijtima’ MWCNU Peterongan: Khidmah Pada NU Harus Ikhlas Agar Berkah

Jombang, pcnujombang.or.id – Terlihat nahdliyin memenuhi Masjid Baiturrahman mengikuti rangkain kegiatan Lailatul Ijtima’ MWCNU Peterongan di dusun Bantengan Tanjung Gunung 27/04/2025.

Setelah dilaksankan sholat sunnah taubah, hajat, tasbih, dan sujud syukur bersama, acara lailatul ijtima’ dilanjutkan dengan sambutan sambutan.

Pada sambutan pertama ketua ranting Tanjung Gunung, Syafiuddin menyampaikan terimakasih atas kehadiran jamaah pada kegiatan ini.

Ia juga berterimakasih atas support warga dan takmir Masjid Baiturrohman sehingga acara lailatil ijtima bisa terlaksana dengna baik.

Syafa Efendi selaku ketua tanfidziah MWCNU Peterongan menyampaikan permohonan maaf pada sambutannya dikarenakan kegiatan ini masih berada dibulan syawal. 

“Berhubung masih bulan syawal, saya mewakili pengurus MWC memohon maaf barangkali selama ini ada kata atau laku yang kurang tepat” ucapnya.

Ia juga meneruskan amanah program dari PCNU mengenai percepatan sertifikasi masjid, musholla atau sekolah yang bernadir NU. Oleh lembaga wakaf dan pertanahan PCNU Jombang

“Kalau ada masjid, musholla ditempat njenengan yang perlu diperbarui sertifikat waqafnya, maka silahkan dilaporkan ke pengurus MWCNU Peterongan, kekurangan dan kelemahannya bagaimana? Maka nanti MWC akan mendampingi prosesnya.” Ujarnya.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh pengurus ranting se-kecamatan Peterongan ini, Gus Labib Izzulloh, pengasuh pesantren Jannatur Rayhan mengisi mauidho hasanah.

Dalam mauidohnya Gus Labib menyampaikan bahwa siapapun yang berkhidmat pada NU, harus ikhlas tanpa mengharap apapun dari NU selain keberkahan.

Ia menceritakan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, dijelaskan bahwa amal itu muncul karena ilmu dan hal. Ilmu itu adalah kita harus tahu dahulu apa itu NU. 

NU itu suatu organisasi yang menyatukan ulama dan bertujuan agar hal yang tidak bisa dicapai sendirian bisa dicapai secara bersama.

Baca Juga  Pembinaan Tahap III Calon Kafilah Jombang : Siap Meraih Prestasi Juara Umum pada MTQ XXXI Provinsi Jawa Timur

Kedua adalah haal, yaitu tingkah hati atau rasa. Rasa kita pada NU itu adalah harus cinta dengan sungguh. Baru setelah itu akan muncul yang namanya amal berupa khidmah yang ikhlas.

Ia juga menyampaikan bila cinta pada NU maka sudah seharusnya cinta pada ilmu, karena NU itu lahirnya dari lingkungan pesantren dan dipesantren dikaji banyak ilmu.

“NU itu yang mendirikan adalah mbahyai Hasyim Asyari, beliau adalah pengasuh pesantren, dan beliau mengkaji banyak disiplin ilmu agama di pesantren, maka seyogyanya nahdliyin juga cinta dalam mengkaji Ilmu agam” tuturnya.

Gus Labib Juga menjelaskan mengenai mbahyai Hasyim yang menulis dalam kitab Qonun Asasi mengenai manfaat  sebuah pertemuan atau perkumpulan.

“Dikitab beliau tertulis sesungguhnya pertemuan dan saling mengenal persatuan dan kekompakan adalah hal yang tiada seorangpun yang tidak tahu manfaatnya dan Rosullah bersabda  yang artinya tangan Allah bersama jamaah” pungkasnya.

Kegiatan lailatul ijtima’ ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Arwani, rais syuriah MWCNU Peterongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *