Lailatul Ijtima MWCNU Megaluh: Konsolidasi Kemandirian Jam’iyyah Berbasis Masjid

Megaluh, pcnujombang.or.id – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Megaluh kembali menggelar agenda rutin Lailatul Ijtima’ tingkat MWCNU pada hari Ahad (15/06/2025). Lailatul Ijtima, sebuah forum penguatan spiritual dan organisasi bagi segenap jajaran pengurus, kader, dan warga nahdliyin dari berbagai ranting se-Kecamatan Megaluh.

Acara ini bukan semata kegiatan rutin semata, tetapi juga momentum strategis untuk menyampaikan arah gerak perjuangan NU di tingkat lokal. Kegiatan Sholat Isyak berjamaah, dan sholat-sholat sunnah menjadi pembuka acara ini. Selanjutnya, pembacaan Istighosah oleh Kiai Sahroni dan Taujihat dari Rois Syuriah KH. Aziz.

Konsolidasi Jam’iyyah: Menguatkan Barisan, Menyatukan Gerakan

Dalam sambutan Rois Syuriah KH. Aziz menyampaikan pentingnya konsolidasi jam’iyyah sebagai langkah menyatukan gerak langkah seluruh elemen NU, dari tingkat MWC, ranting, hingga lembaga-lembaga otonom. Konsolidasi ini dimaknai bukan hanya dari sisi administratif dan struktural, tetapi juga ideologis dan kultural.

“Kita harus menjaga marwah NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Andai tidak ada Ranting NU dan MWC NU, Lembaga NU dan Banomnya, lantas bagaimana masyarakat kita ? maka, Lailatul Ijtima’ ini penting untuk menjalin konsolidasi menghadapi tantangan zaman, khususnya dalam merespons isu-isu keagamaan dan kebangsaan,” ungkapnya

Oleh karena itu, Forum ini juga menekankan pentingnya sinergi antar ranting serta penyelarasan program antara MWC dan badan otonom, agar program-program NU tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terkoneksi dalam satu gerak dakwah dan penguatan sosial.

Lailatul Ijtima kedepan akan terbagi menjadi 3 zonasi dari 13 desa. 1. Utara (Megaluh, Turipinggir, Gongseng, Balongsari). 2. Tengah (Sumberagung, Ngogri, Sudimoro, Sumbersari). 3. Selatan (Kedungrejo, Pacarpeluk, Balonggemek, Dukuharum, Sidomulyo).

Zainal Abidin, selaku Ketua Tanfidziyah memulai dengan memberikan laporan kegiatan yang sudah berjalan. Sekaligus memaparkan berbagai program-program kegiatan yang mungkin menjadi fokus pada kegitan ini yakni konsolidasi jam’iyyah dan penguatan kemandirian jam’iyyah berbasis Masjid.

Baca Juga  Diikuti 55 Calon Kader NU, PD PKPNU Angkatan 5 Jombang Digelar MWCNU Sumobito

Kemandirian Jam’iyyah Berbasis Tempat Ibadah: Dari Masjid, NU Bangkit

Fokus kedua dalam Lailatul Ijtima kali ini adalah upaya mendorong kemandirian jam’iyyah melalui pemanfaatan dan pemberdayaan tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan musholla. Melalui gerakan ini, MWCNU Megaluh mendorong pengurus NU di tingkat ranting untuk mulai menginisiasi kegiatan pemberdayaan umat berbasis masjid, seperti koperasi jamaah, pendidikan nonformal, pengelolaan zakat-infak-sedekah secara transparan, hingga pelatihan ekonomi umat.

Kemandirian tidak akan terwujud jika kita masih bergantung pada BMT dan LAZISNU. Namun, memulai menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, namun juga pada sektor pendidikan, ekonomi dan pusat kaderisasi NU yang visioner merupakan langkah strategis untuk mewujudkan NU Megaluh lebih maju. Harapannya, mampu menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat peradaban Islam, selaras dengan cita-cita besar NU dalam membangun peradaban dan merawat jagat.

Mengurai Problem Berbasis Data Masjid dan Musholla

Langkah awal yakni menginventarisir masjid dan musholla se-kecamatan Megaluh. Pendataan ini menjadi penting sebagai langkah untuk membuat berbagai program di tingkatan MWC NU yang berkaitan dengan program LTM, LDNU, LFNU, LAZISNU, LKKNU, LWPNU dan beberapa program lainnya.

Jangka dekat ini adalah bagaimana mengatasi problem sertifikasi wakaf di masjid dan musholla. Peran MWC, Ranting, KUA, Pemerintah desa, Kemenag dan BPN harus bisa sinergi bersama untuk membantu penyelesaikan problem wakaf dan sertifikasi lahan di setiap daerahnya masing-masing.

Setiap problem pasti ada solusinya. Momen lailatul Ijtima kali ini menjadi bukti bahwa NU Megaluh tidak berhenti hanya dalam aktivitas seremonial. Dua fokus yang diangkat menunjukkan komitmen kuat dalam mengokohkan organisasi dan menumbuhkan kemandirian umat berbasis akar rumput. Utamanya, dari Masjid untuk Ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *