Ditulis oleh: KH. Ahmad Ghozali Fadli (rais syuriah MWCNU Wonosalam)
“Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati.” Itulah yel-yel yang menggema dari mulut para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) saat melakukan pemberontakan di Madiun pada tahun 1948. Bukan hanya aparat negara, para ulama, kyai, dan santri pun menjadi sasaran kekejaman mereka.
Laporan sejarah mencatat, sejak Muso memproklamirkan berdirinya Negara Soviet Indonesia pada 18 September 1948, kekuatan PKI mulai bergerak ke wilayah sekitar, termasuk Magetan, Ponorogo, Pacitan, hingga Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo.
Masjid, madrasah, rumah warga dibakar. Ulama-ulama dibunuh, bahkan beberapa di antaranya dipancung di alun-alun kota hanya karena memegang teguh ajaran Islam. Parit-parit pun dipenuhi darah umat Islam yang tak bersalah.
Gontor Jadi Target PKI
Setelah membantai kyai dan warga di Takeran, Magetan, PKI menjadikan Gontor sebagai sasaran selanjutnya. KH. Imam Zarkasyi dan KH. Ahmad Sahal bersama kakak tertua mereka, KH. Rahmat Soekarto, segera bermusyawarah menyusun langkah penyelamatan.
Dalam suasana mencekam, mereka berembuk penuh haru. KH. Ahmad Sahal bersikeras agar KH. Imam Zarkasyi mengungsi bersama para santri karena keilmuan dan masa depannya yang masih panjang.
“Kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh. Pondok iki butuh kowe,” ujarnya dengan penuh keikhlasan.
Akhirnya, keputusan diambil. Para kyai dan santri pun mengungsi ke arah timur melalui Gunung Bayangkaki hingga ke Gua Kusumo, yang kini dikenal sebagai Gua Sahal. Sementara itu, KH. Rahmat Soekarto memilih bertahan menjaga pondok.
Gontor Diserbu dan Dibakar
Keesokan harinya, sekitar 400 anggota PKI menyerbu Gontor. Mereka menggeledah setiap sudut pondok, membakar kitab dan pakaian santri, bahkan menginjak-injak mushaf Al-Qur’an.
“Endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene!” teriak mereka mencari para pimpinan pesantren.
Namun, sebelum berhasil membunuh KH. Rahmat Soekarto, pasukan Hizbullah dan Divisi Siliwangi yang dipimpin KH. Yusuf Hasyim tiba. Pertempuran pun pecah, dan pasukan PKI dipukul mundur, meninggalkan pondok dalam keadaan porak poranda.
Dikepung dan Disiksa Saat Mengungsi
Perjalanan rombongan pengungsi tidak berjalan mulus. Di Dukuh Gurik, Trenggalek, mereka dikepung kelompok bersenjata tajam yang ternyata simpatisan PKI. Para santri disiksa dan diinterogasi, dituduh sebagai tentara Hizbullah.
KH. Ahmad Sahal kembali menunjukkan keteladanan dan pengorbanannya. “Ben aku wae sing mati. Kowe isih enom, pondok iki butuh kowe,” ujarnya kepada KH. Imam Zarkasyi.
Mereka kemudian ditahan berpindah-pindah tempat dengan kondisi yang sangat tidak manusiawi. Hingga akhirnya, para tahanan – termasuk santri Gontor – dikumpulkan di sebuah masjid Muhammadiyah yang telah dipasangi bom. Rencananya, mereka akan dipancung dan masjid akan diledakkan.
Diselamatkan dan PKI Dipukul Mundur
Namun, Allah berkehendak lain. Di bawah komando KH. Abdul Choliq Hasyim, pasukan tentara berhasil mengepung lokasi dan menyelamatkan para tahanan. Pemberontakan PKI pun berhasil dipadamkan di Ponorogo.
Kisah kelam ini menjadi bukti nyata perjuangan para kyai dan santri dalam mempertahankan agama, pesantren, bangsa, dan negara dari ancaman ideologi ateis yang ingin menghapus jejak Islam dari bumi Indonesia.
Peristiwa Gontor 1948 bukan sekadar catatan sejarah kelam, tetapi juga potret keteguhan iman dan pengorbanan luar biasa. Dari sana kita belajar bahwa pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga benteng pertahanan akidah dan identitas bangsa.
Keterangan foto: Sambutan KH. Yusuf Hasyim (ayahanda KH. Irfan Yusuf) saat pemakaman KH. Imam Zarkasyi














