Jombang, pcnujombang.or.id – Tradisi mudik merupakan sebuah selebrasi khas umat Islam Indonesia dalam menyambut berakhirnya bulan suci Ramadan. Umat Islam mengekspresikan rasa syukur atas keberhasilan menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh melalui budaya ini, sambil membawa kerinduan untuk kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
Kebahagiaan Mudik Bersama Keluarga
Mudik saat Idulfitri adalah momen untuk merasakan kembali kehangatan keluarga, terutama dengan orang tua dan sanak saudara yang tinggal berjauhan. Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin yang penuh makna.
Tak terhitung betapa banyak pengorbanan para pemudik yang rela berdesakan dalam kemacetan, berganti-ganti moda transportasi, demi satu tujuan mulia: bertemu dan bersimpuh di hadapan orang tua tercinta.
Semua kelelahan itu seolah sirna begitu tiba di rumah. Pelukan hangat, senyum bahagia, dan air mata haru menjadi bukti bahwa kebahagiaan sejati tak tergantikan dengan materi. Mereka merasakan Idulfitri bersama keluarga sebagai pengalaman emosional yang sangat dalam, yang sulit mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Kebahagiaan Abadi
Namun, tahukah kamu bahwa Allah SWT menjanjikan pertemuan yang jauh lebih indah di akhirat kelak? Setelah proses hisab yang memisahkan manusia satu per satu, Allah SWT menjanjikan pertemuan kembali antara orang tua dan anak cucunya di surga, jika mereka semua termasuk golongan orang-orang beriman.
Betapa bahagianya, jika momen indah seperti mudik ini terulang kembali di surga, tempat kebahagiaan abadi. Dalam Surah At-Thur ayat 21, Allah SWT berfirman :
وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ كُلُّ امْرِئٍ ۢ بِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
“Orang-orang yang beriman dan anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami akan mengumpulkan anak cucunya itu dengan mereka (di dalam surga). Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
Allah menegaskan dalam ayat tersebut bahwa Dia akan mengumpulkan kembali orang-orang beriman bersama anak cucu mereka yang mengikuti jejak keimanan, meskipun tingkat amal mereka berbeda-beda. Allah mempertemukan mereka tanpa mengurangi pahala masing-masing, sebagai bentuk karunia dan pelengkap nikmat surga.
Rasulullah SAW juga meriwayatkan (HR. Ibnu Mardawaih dan At-Tabrani dari Ibnu Abbas), bahwa ketika seseorang masuk surga, ia akan mencari orang tua, istri, dan anak-anaknya. Ketika malaikat memberitahunya bahwa keluarganya berada di tingkat surga yang berbeda, ia pun memohon kepada Allah agar bisa bertemu kembali dengan mereka. Allah mengabulkan doanya karena keluarganya telah menjadi inspirasi bagi amal kebaikan yang ia lakukan.
Kebahagiaan, Keimanan dan Ketakwaan
Oleh karena itu, kebahagiaan berkumpul di hari raya seharusnya menjadi momentum untuk saling mengingatkan dalam menjaga iman dan meningkatkan ketakwaan. Agar kelak, setelah kita menjalani proses ba’ats (kebangkitan), hisab (perhitungan amal), dan jaza’ (pembalasan) secara individu, kita bisa kembali berkumpul bersama keluarga di surga.
Syaratnya satu yakni memiliki keimanan yang sama, yakni menyembah dan beribadah hanya kepada Allah SWT. Semoga suasana mudik yang hangat dan penuh cinta ini menjadi cerminan kecil dari kebahagiaan kekal yang Allah janjikan kepada keluarga-keluarga beriman. (wf)














