Islah NU dan Etika Mengelola Perbedaan: Ikhtiar Fiqh Sosial Nahdlatul Ulama

Jombang, pcnujombang.or.id – Konflik yang sempat mencuat di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadi ujian penting bagi NU. Peristiwa ini tidak hanya menguji soliditas organisasi, tetapi juga menguji kedewasaan warga nahdliyin dalam menyikapi perbedaan, terutama di tengah derasnya arus media sosial yang kerap memperkeruh suasana.

NU sejatinya telah lama hidup dalam tradisi menerima perbedaan. Namun, konflik kali ini terasa berbeda karena perbedaan tidak berhenti di ruang musyawarah, melainkan melebar ke ruang publik dan dunia maya. Kritik berubah menjadi caci, nasihat bergeser menjadi perundungan, bahkan tidak sedikit yang menyeret kiai ke ranah penghinaan personal.

Keputusan para masyayikh dan pimpinan NU untuk menempuh jalan islah di Pesantren Lirboyo pada Kamis (25/12/2025) patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Islah ini bukan sekadar meredakan ketegangan di level elite, tetapi menjadi ikhtiar fiqh sosial NU untuk menjaga ukhuwah nahdliyyah dan mencegah kerusakan yang lebih luas.

Media Sosial dan Krisis Adab

Media sosial kerap mendorong diskusi berubah menjadi perdebatan emosional. Banyak pihak mengubah kritik menjadi caci maki, menggeser nasihat menjadi perundungan, serta memakai kecintaan terhadap NU untuk membenarkan ujaran kebencian. Akibatnya, sebagian warga nahdliyin saling mencaci, baik kepada pihak yang mereka sebut “Sultan” maupun “Keramat”. Bahkan, tidak sedikit yang secara terang-terangan menyeret kiai ke dalam penghinaan personal.

Dalam perspektif fiqh sosial, kondisi ini menunjukkan krisis adab, bukan krisis pemahaman. KH. Hasyim Asy’ari sejak lama mengingatkan bahwa ilmu dan kebenaran hanya akan melahirkan maslahat jika manusia membingkainya dengan adab. Tanpa adab, kebenaran justru melahirkan perpecahan.

Warga Nahdliyin di Tengah Fragmentasi Sikap

Konflik PBNU juga memunculkan beragam sikap warga nahdliyin. Ada yang tampil sebagai loyalis, ada yang meluapkan kekecewaan secara berlebihan, dan ada pula mayoritas yang memilih tetap diam sambil terus berkhidmah. Tidak sedikit pula pihak oportunistik yang memanfaatkan konflik ini untuk kepentingan di luar khidmah jam’iyyah.

Baca Juga  Pendidikan yang Tak Pernah Tuntas: Ketika Anak Didik Jadi Kelinci Percobaan

Meskipun ada pula pihak-pihak yang memanfaatkan konflik ini untuk kepentingan di luar khidmah NU. Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik organisasi telah bergeser menjadi persoalan sosial dan psikologis yang dampaknya terasa hingga ke akar rumput.

Angin segar mulai terasa sejak adanya Musyawarah Kubro di Lirboyo pada Ahad (21/12/2025). Seruan islah menggema dari berbagai daerah, termasuk PCNU Jombang yang secara tegas mendukung hasil musyawarah dan mengajak seluruh warga NU kembali merajut persaudaraan.

Ikhtiar tersebut akhirnya menemukan titik temu melalui rapat konsultasi Syuriah yang diprakarsai para masyayikh dan mustasyar Pondok Pesantren Lirboyo. Dari forum inilah, kesepakatan islah lahir dan warga nahdliyin sangat bersyukur dan menyambutnya dengan iringan sholawat nabi.

Islah sebagai Jalan Fiqh Sosial

Memang, residu konflik masih tampak di dunia maya. Namun, kita wajib bersyukur atas Islah atau rekonsiliasi ini. Ruang digital perlahan mulai membaik, narasi yang lebih sejuk, tulisan-tulisan optimistis, serta ungkapan syukur warga nahdliyin yang berharap NU kembali teduh dan rukun.

Dalam perspektif fiqh sosial ala KH. MA. Sahal Mahfudh, hukum Islam harus hadir untuk menjawab problem nyata umat. Islah Lirboyo mencerminkan prinsip tersebut: memilih jalan yang paling kecil mudaratnya dan paling besar maslahatnya bagi jamaah.

Prinsip ini sejalan dengan kaidah fiqh:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Menolak kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan.

Kaidah lain yang relevan adalah:

ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
(Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib).

Jika menjaga persatuan NU merupakan kewajiban, maka mediasi dan islah menjadi wasilah sangat baik untuk menjadi NU satu.

Konflik yang berlarut-larut hanya akan melahirkan kerusakan: ukhuwah yang retak, wibawa ulama yang menurun, dan kepercayaan jamaah yang tergerus. Karena itu, menahan ego dan membuka ruang damai menjadi pilihan yang bijak dan bertanggung jawab.

Baca Juga  Istiqamah Membaca Shalawat, Jalan Menuju Rahmat dan Surga

Tantangan Pasca-Islah: Memulihkan Etika Jamaah

Islah di tingkat pimpinan tidak otomatis menyembuhkan luka di akar rumput. Tantangan terbesar NU pasca-Lirboyo adalah menghidupkan kembali adab dalam menyikapi perbedaan di tengah warga nahdliyin.

Islah di Lirboyo justru memberi pelajaran berharga yakni NU kembali pada karakteristiknya. NU memilih tabayyun daripada prasangka, musyawarah daripada amarah, serta menghormati kiai sebagai penuntun moral, bukan sasaran hujatan. Sebab dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, menjaga persaudaraan selalu lebih utama daripada memenangkan perdebatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *