Secara umum, manusia sering merasa bahwa puasa itu berat. Ini wajar, karena puasa memang menargetkan aspek mendasar dari keinginan manusia: makan, minum, dan hubungan suami-istri. Hal ini masuk kategori Hawa Nafsu.
Puasa: Menahan Syahwat, Menutup Jalan Setan
Salah satu tujuan utama puasa adalah agar manusia mengambil jarak dari syahwatnya. Biasanya, manusia memiliki kecenderungan untuk selalu memenuhi keinginan makan dan berhubungan suami-istri, tetapi dalam puasa, keduanya harus berusaha meminimalisirnya.
Lebih jauh, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din menjelaskan bahwa setan menguasai manusia melalui syahwatnya, dan syahwat menjadi kuat karena banyak makan dan minum. Oleh karena itu, menahan lapar dan dahaga dalam puasa adalah cara efektif untuk mempersempit akses setan dalam diri manusia.
Imam Al-Ghazali mengutip hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Maka, persempitlah aliran darah itu dengan lapar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa menahan makan dan minum berperan penting dalam menekan pengaruh setan. Sebaliknya, semakin seseorang memenuhi syahwatnya, semakin hawa nafsu mengendalikannya.
Puasa: Momen Menjernihkan Hubungan dengan Allah
Banyak orang tidak menyadari bahwa syahwat yang berlebihan dapat menjadi penghalang dalam hubungan antara hamba dengan Allah SWT. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. Quraish Shihab mendefinisikan abdun (hamba) sebagai pihak yang tidak memiliki kuasa apa pun kecuali menuruti perintah Tuannya.
Oleh karena itu, pertanyaannya adalah: kehendak siapakah yang kita ikuti? Jika yang menguasai hati kita adalah Allah, maka kita adalah hamba-Nya. Tetapi jika materi, jabatan, dan tahta sudah menguasai hati kita, maka kita menjadi “hamba” dari hal-hal tersebut
Allah SWT berfirman: “Apakah engkau tidak melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jasiyah: 23)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa jika hawa nafsu lebih kita ikuti daripada perintah Allah, maka hakikatnya kita telah “menyembah” hawa nafsu tersebut.
Menjauhi Tiga Sifat : Hasad, Riya’ dan Ujub
Dalam kitab Maraqil ‘Ubudiyyah, Imam Al-Ghazali menyebutkan tiga sifat destruktif (muhlikat) : hasad, riya’, dan ujub. Jika seseorang dapat menghilangkan tiga sifat ini, maka sifat-sifat buruk lainnya pun akan ikut tersingkir.
1. Hasad (Dengki) dan Bakhil (Pelit)
Hasad adalah tidak rela melihat orang lain mendapatkan sesuatu, sedangkan bakhil adalah enggan berbagi dengan orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud). Dari sini, Hasad dapat menghancurkan amal ibadah seseorang, karena orang yang hasad tidak akan pernah merasa cukup dengan ketentuan Allah.
2. Riya’ (Pamer Amal)
Riya’ adalah melakukan amal ibadah bukan karena Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian dari manusia. Dalam hadits, bahwa riya’ adalah syirik kecil. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan (balasan) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Riya’ sering kali muncul pada orang yang memiliki ilmu, harta, atau ibadah yang merasa lebih tinggi. Bahkan, dalam sebuah hadits, Allah memasukkan ke neraka seorang yang mati syahid, seorang alim, dan seorang dermawan—karena mereka melakukan amal bukan untuk Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian manusia.
3. Ujub (Merasa Diri Lebih Baik)
Ujub adalah sifat sombong yang muncul dari dalam diri sendiri. Sifat ini sangat dekat dengan takabur, sebagaimana sikap Iblis yang berkata: “Aku lebih baik darinya (Adam).” (QS. Al-A’raf: 12)
Salah satu cara untuk mencegah ujub adalah dengan selalu melihat sisi baik orang lain. Jika bertemu dengan anak kecil, kita katakan: “Dia belum banyak berbuat dosa seperti saya.” Sementara, ketika bertemu orang tua, kita berpikir: “Ibadahnya pasti lebih banyak daripada saya.” dan apabila bertemu orang alim, kita sadari: “Ilmunya lebih luas dari saya.”
Dengan cara ini, kita bisa merendahkan hati dan menjauhi ujub.Membersihkan Hati di Bulan RamadhanSalah satu maqolah Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam menyebutkan:
كيف يشرق القلب صور الاكوان منطبعة فى مراته
“Bagaimana mungkin hati bisa bersinar, sementara bayangan alam semesta masih melekat di cerminnya?”
Menarik ketika Ibnu Athoilah menggunakan diksi الاكوان yang artinya alam semesta. Karenana kata ini bisa mencakup segala sesuatu yang bersifat materiil dan non materiil. Bisa harta, jabatan, anak-istri, angan-angan, rasa khawatir, obsesi, dan seterusnya. Pendek kata segala sesuatu selain Allah.Dalam maqolah ini, alam semesta bukan hanya berarti benda fisik, tetapi juga hal-hal yang bersifat duniawi seperti harta, jabatan, dan angan-angan. Jika dunia sudah menguasai hati kita, maka cahaya keimanan tidak akan bersinar dengan sempurna.
Ramadhan adalah momentum terbaik untuk membersihkan hati dari segala keterikatan duniawi. Dengan berpuasa, kita berusaha mengendalikan syahwat agar hati kita lebih dekat kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak membutuhkan harta atau jabatan. Sebagaimana Gus Baha’ pernah menjelaskan, kita hanya perlu memindahkan harta dari hati ke tangan.
Semoga kita di momentum Ramadhan kali ini bisa menata ulang hati kita. Sehingga pada akhirnya bisa kembali ke fitrah kita sebagai abdu-Allah, bukan abdu harta, abdu nafsu, abdu manusia, abdu pekerjaan, dan lain-lain.














