Jombang, pcnujombang.or.id – Dalam budaya Jawa dan tradisi Islam di Nusantara, Masyarakat Jawa dan umat Islam di Nusantara merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri. Biasanya, ada sajian makanan khas yakni ketupat dan lepet. Kedua makanan ini bukan sekadar makanan khas saat Lebaran, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam.
Asal Usul Tradisi Kupatan
Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Jawa, beliau sebagai tokoh yang memperkenalkan tradisi Kupatan. Ia mengenalkan konsep Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Umat merayakan Bakda Lebaran pada 1 Syawal sebagai hari Idulfitri, sementara mereka merayakan Bakda Kupat sepekan setelahnya sebagai tanda penyempurnaan ibadah puasa Syawal selama enam hari.
Di Indonesia, tradisi Kupatan tidak hanya ada di Jawa, namun juga di berbagai daerah seperti di Madura dengan tradisi Tellasan Topak, di Lombok dengan istilah Lebaran Topat, dan beberap daerah lainnya dengan istilahnya masing-masing.
Filosofi dalam “Ketupat”
Dalam membuat ketupat, biasanya masyarakat membungkus beras dengan janur (daun kelapa muda) dan merebusnya hingga menjadi ketupat. Ketupat yang menjadi simbol utama dalam perayaan ini ternyata menyimpan banyak makna filosofis, antara lain:
- Anyaman janur (daun kelapa muda) melambangkan kesucian dan ketulusan hati. Janur sendiri dalam bahasa Jawa srtinya “jatining nur”, yang berarti “cahaya sejati” atau hati yang bersih. Sementara, Janur dalam Bahasa arab berarti Jaa a Nuurun (Datangnya Cahaya) yang masuk kepada Kalbu seseorang yang beriman.
- Ketupat yang dalam proses perebusan melambangkan perjalanan spiritual manusia yang telah melalui proses penyucian diri setelah berpuasa Ramadan.
- Bentuk ketupat yang segi empat melambangkan kesempurnaan dan keseimbangan hidup. Bentuk flsik kupat yang segi empat juga ibarat hati manusia. Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki karena hatinya sudah dibungkus cahaya (jaa a nur).
- Dalam bahasa Jawa, ketupat berarti “kupat”, yang merupakan singkatan dari “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya meminta maaf dan memaafkan antar sesama. Islam mengajarkan pentingnya taubat dan meminta maaf kepada Allah dan sesama manusia setelah Ramadan.
- Anyaman ketupat yang rumit mencerminkan keterjalinan hubungan sosial dalam masyarakat. Seperti halnya anyaman yang saling berkait, manusia juga harus hidup berdampingan, saling mendukung, dan menjaga hubungan baik.
- Bentuk ketupat yang berisi nasi menggambarkan simbol kesejahteraan dan keberkahan. Masyarakat juga sering merayakan acara ini dengan berbagi ketupat kepada tetangga dan kerabat, yang mencerminkan semangat berbagi rezeki.
Makna Kupat (Laku Papat) : Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan
Kata ketupat atau kupat berasal dari istilah bahasa Jawa yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Sunan Kalijogo menggunakan empat kata atau istilah yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.
- Lebaran berarti akhir atau usainya waktu bulan puasa ramadhan dan bersiap menyongsong hari kemenangan Idul Fitri (kembali suci).
- Luberan bermakna melebur atau melimpah. Maknanya, ajakan bersedekah kepada fakir dan miskin dengan mengeluarkan zakat fitrah.
- Leburan bermakna habis atau menyatu. Artinya momen lebaran itu untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain, karena Islam mengajarkan untuk saling memaafkan satu sama lain.
- Laburan dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang berguna untuk menjernihkan benda cair. Dari Laburan, maknanya bahwa hari seorang muslim harus bisa kembali jernih nan putih. Maksudnya, supaya manusia selalu menjaga kesucian baik lahir maupun batin.
Filosofi dalam “Lepet”
Lepet adalah makanan berbahan dasar ketan yang dicampur dengan kelapa dan kacang tanah, kemudian dibungkus daun kelapa atau janur dan diikat dengan tali. Berbeda dengan ketupat, lepet memiliki makna yang sedikit berbeda dalam tradisi Islam dan Jawa.

- Kata lepet berasa dari Bahasa jawa “lepat” yang berarti kesalahan. Artinya setiap insan pasti tidak lepas dari melakukan kesalahan. Hal ini berkaitan dengan tradisi lebaran, di mana saling meminta maaf dan memaafkan menjadi bagian penting dari perayaan tersebut
- Kata lepet berasal dari bahasa Jawa “lepetan”, yang juga berarti “lekat” atau “erat”. Ini melambangkan hubungan yang kuat dalam keluarga dan masyarakat.
- Lepet dari kata “silep kang rapet” (kubur atau tutup yang rapat). Jadi setelah mengakui kesalahan (lepat), kemudian meminta maaf, maka kesalahan tersebut jangan pernah terulang kembali, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet
- Lepet yang berisi Beras ketan dengan sifatnya yang melekat erat satu sama lain, mencerminkan kekuatan persahabatan dan ikatan yang tidak terpisahkan antar manusia.
- Kelapa parut dengan tekstur Lembut dan halus, merefleksikan kelembutan hati serta tata krama yang sejati, nilai yang sangat penting selama perayaan Idul Fitri.
- Sedikit Garam dalam lepet, meskipun hanya sejumput, mampu memberikan keseimbangan rasa, serupa dengan pentingnya keseimbangan dalam hubungan sosial yang harmonis dalam komunitas.
- Daun kelapa muda (janur) yang kata asalnya ‘jatining nur’ artinya cahaya hakiki, melambangkan kondisi spiritual manusia yang bersih usai melalui bulan suci Ramadhan. Proses memetik janur yang tidak mudah, melambangkan jerih payah dan dedikasi dalam mencapai kesucian.
- Tali bambu sebagai pengikat lepet, mengingatkan kita pada kekuatan komunitas. Seperti bambu yang tumbuh bersama dan kuat, tali ini mengikat kita dalam solidaritas dan persahabatan.
Dengan demikian, Filosofi kupat dan lepet ini mengajarkan kita untuk menghargai dan memelihara nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan, kebersamaan, serta kemurahan hati. Di tengah perubahan zaman, kupat dan lepet tetap menjadi simbol yang kuat dari nilai-nilai tradisional yang tidak lekang oleh waktu.














