Jombang, pcnujombang.or.id – Kemajuan maupun kemunduran peradaban suatu negara, termasuk Indonesia, tidak hanya bertumpu pada pola pikir masyarakatnya, tetapi juga pada kualitas mental setiap individunya.
Saat ini, kita menghadapi sebuah krisis mental yang merasuk hampir ke seluruh lembaga. Salah satu yang paling menonjol adalah penyakit crab mentality. Fenomena crab mentality—sikap saling menjatuhkan agar tidak ada yang lebih unggul—bukan sekadar masalah psikologis, tetapi juga persoalan budaya, sosial, dan moral keagamaan.
Di berbagai ruang kehidupan, mulai dari lingkungan kerja, komunitas, hingga lembaga pendidikan, mentalitas ini sering muncul dalam bentuk sindiran, penjegalan, dan kebahagiaan ketika orang lain gagal. Padahal, budaya seperti ini justru membuat masyarakat jalan di tempat dan kehilangan energi untuk maju.
Budaya Saling Jatuhkan: Warisan Tak Tertulis yang Menghambat Peradaban
Dalam konteks budaya, crab mentality hadir karena manusia lebih memilih menyeret orang lain ke bawah daripada mengembangkan potensi diri. Alih-alih meneladani budaya gotong royong yang menjadi ciri bangsa, sebagian orang justru membangun tradisi saling curiga, saling sikut, dan saling meremehkan.
Ketika seseorang menonjol, sebagian kelompok menganggapnya ancaman, bukan inspirasi. Sikap seperti ini membuat budaya kehilangan pembaruan. Padahal, peradaban hanya tumbuh ketika manusia menghargai pencapaian orang lain dan menjadikannya motivasi.
Tanda-Tanda Crab Mentality dalam Kehidupan Sosial Kita
Dalam kehidupan sosial, crab mentality sering merusak harmoni. Di tempat kerja, sekolah, kampus, organisasi, bahkan ruang dakwah, kita sering melihat bagaimana orang lebih sibuk mengawasi siapa yang naik daripada memikirkan bagaimana maju bersama.
Senior menjegal junior, junior ingin menggulingkan senior, rekan sejawat memberikan cibiran, dan masyarakat di media sosial berlomba-lomba menyindir mereka yang sedang berkembang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian dari kita lebih menikmati kejatuhan daripada keberhasilan orang lain. Jika dibiarkan, kita sebenarnya sedang merusak bangunan sosial yang kita bentuk bersama.
Perspektif Keislaman: Mengikis Penyakit Hati, Menguatkan Ukhuwah
Dalam Islam, crab mentality bukan sekadar perilaku negatif, tetapi termasuk penyakit hati yang berbahaya. Akar utamanya adalah hasad (iri), yaitu tidak rela melihat orang lain mendapatkan nikmat.
Rasulullah Saw bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – ﷺ -: «إيَّاكُمْ والحَسَدَ، فَإنَّ الحَسَدَ يَأْكُلُ الحَسَناتِ، كَما تَأْكُلُ النّارُ الحَطَبَ». أخْرَجَهُ أبُو داوُدَ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda : “Jauhilah sifat hasad! Karena hasad memakan kebaikan seperti api yang melahap kayu bakar.” H.R. Abu Dawud [4903].
Ketika seseorang tidak suka terhadap kesuksesan saudaranya, ia bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga membakar pahala yang telah ia kumpulkan.
Secara fikih sosial, crab mentality masuk dalam kategori perilaku yang menimbulkan kerusakan (mafsadah). Sikap saling menjatuhkan jelas menciptakan kerusakan: memecah ukhuwah, menghambat kemajuan, dan mematikan potensi.
Crab mentality jelas termasuk mudharat sosial yang harus kita bersihkan. Maka menahan diri dari komentar sinis, hasad, atau menjegal orang lain merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan bersama.
Karena itu, Islam mendorong umat menjaga harmoni, memajukan kebaikan bersama, dan menghilangkan segala bentuk sikap yang menimbulkan permusuhan.
Jika masyarakat membiasakan budaya saling dukung dan saling menguatkan, maka nilai-nilai itu akan tertanam sebagai norma luhur dan menjadi fondasi kebaikan dalam kehidupan bersama.
Saatnya Kita Naik Bersama, Bukan Saling Menarik ke Dasar
Crab mentality tidak pernah mengantarkan siapa pun pada kejayaan. Dalam budaya Nusantara yang menjunjung gotong royong, dalam norma sosial yang mengutamakan kebersamaan, dan dalam ajaran Islam yang memerintahkan kejujuran hati dan penghargaan kepada sesama—mentalitas saling menjatuhkan jelas bertentangan.
Kita tidak perlu menjadi kepiting dalam ember yang saling tarik. Kita perlu menjadi manusia yang tumbuh bersama, maju bersama, dan saling menopang hingga mencapai keberkahan hidup. Disinilah, awal dari kemajuan suat bangsa.














