Jombang, pcnujombang.or.id – Transformasi pendidikan tinggi dan pesantren di era digital membuat Generasi Z sering dipotret sebagai generasi kritis, sadar kualitas, dan berani menyuarakan aspirasi. Namun di balik kesadaran itu, ruang akademik justru memperlihatkan sebuah paradoks: mahasiswa Gen Z memahami standar ideal pendidikan, tetapi mulai meninggalkan budaya membaca buku.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kampus umum, tetapi juga terasa di perguruan tinggi keagamaan dan pesantren yang tengah berbenah menjadi pusat keilmuan modern.
Kesadaran Akademik yang Cukup Kuat
Penulis tertarik untuk melakukan survey dengan menyebarkan angket di salah satu Fakultas di PTKIN. Ada 78 responden yang mengisi angket tentang persepsi mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai kualitas dosen, lingkungan akademik, dan fasilitas pembelajaran berada pada kategori baik. Mahasiswa memandang kampus cukup kondusif, dosen relatif profesional, dan sistem pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya.
Temuan ini menandakan bahwa mahasiswa Gen Z memiliki kesadaran akademik yang cukup kuat. Mereka tahu bagaimana dosen ideal mengajar, fasilitas yang ideal, memahami fungsi kampus, dan menyadari pentingnya lingkungan belajar yang mendukung. Namun, kesadaran tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam kebiasaan belajar yang konsisten.
Budaya Membaca yang Melemah
Ketika ditanya tentang kebiasaan membaca, jawabannya justru berbanding terbalik. Sebagian besar mahasiswa mengaku jarang membaca buku, sementara hanya sebagian kecil yang menjadikan membaca sebagai rutinitas. Buku teks, kitab rujukan, dan bacaan ilmiah sering kalah oleh ringkasan instan, video pendek, dan konten digital cepat saji.
Di sinilah paradoks itu tampak jelas: mahasiswa sadar pentingnya kualitas akademik, tetapi enggan menempuh jalur keilmuan yang penuh kesabaran yakni membaca secara mendalam. Padahal, baik dalam tradisi akademik modern maupun pesantren klasik, membaca selalu menjadi pintu utama ilmu.
Sekuat apapun dan sehebat apapun program akademik kampus, jika tidak ada orientasi untuk mengembalikan Reading Habit (kebiasaan dan tradisi membaca), maka bangunan keilmuan akan runtuh. maka ini menjadi tugas bersama untuk mengembalikan dan membumikan tradisi membaca di lingkungan kampus.
Kesadaran Tanpa Kebiasaan
Fenomena ini dapat dipahami melalui konsep “habitus” Pierre Bourdieu. Kesadaran saja tidak cukup untuk membentuk praktik. Tanpa pembiasaan yang berulang, kesadaran hanya berhenti sebagai wacana.
Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang cepat dan visual. Pola ini membentuk kebiasaan belajar yang kurang ramah terhadap aktivitas membaca buku atau kitab yang menuntut konsentrasi panjang. Akibatnya, lahir apa yang oleh Paulo Freire disebut sebagai “kesadaran semu” yakni merasa tahu tanpa proses pendalaman melalui teks. Kondisi ini patut menjadi refleksi bersama.
Membaca sebagai Fondasi Ilmu dalam Islam
Padahal, Islam menempatkan membaca sebagai dasar peradaban ilmu. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca :
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”(QS. al-‘Alaq: 1)
Perintah ini bukan sekadar simbol, tetapi penegasan bahwa ilmu lahir dari proses membaca, memahami, dan merenung. Imam Az Zarnuji dalam Kitabnya Ta’lim Mutaallim juga menegaskan bahwa “ilmu tidak akan diraih secara instan dan bersantai-santai”
Tradisi pesantren menghidupi pesan ini melalui muthala‘ah dan pengajian kitab. Ulama besar seperti Imam Nawawi dikenal hampir tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca dan menelaah. Dari kedisiplinan itulah lahir karya-karya besar yang terus hidup hingga kini.
Tanggung Jawab Bersama Kampus dan Pesantren
Rendahnya budaya membaca tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa atau santri. Kampus dan pesantren memikul tanggung jawab bersama. Dosen dan kiai perlu tampil sebagai teladan yang akrab dengan buku dan kitab.
Sistem pembelajaran juga perlu dirancang agar mendorong mahasiswa dan santri membaca, berdiskusi, dan menelaah teks secara serius. Perpustakaan baik fisik maupun digital harus dihidupkan sebagai ruang belajar, bukan sekadar pelengkap administrasi. Bahkan kalau perlu ada program wajib magang di perpustakaan dengan pemberian tugas untuk meresum atau mereview beberapa buku.
Menjembatani Paradoks
Paradoks Gen Z—kesadaran akademik tinggi tetapi budaya membaca rendah ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Transformasi digital tanpa penguatan literasi berisiko melahirkan generasi yang pandai menilai, tetapi miskin kedalaman.
Tradisi ilmu tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari kesabaran membaca dan ketekunan menelaah. Jika perintah iqra’ kembali dihidupkan sebagai budaya, bukan sekadar slogan, kampus dan pesantren dapat menjembatani paradoks ini.
Sebab pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh mereka yang paling cepat mengakses informasi, tetapi oleh mereka yang setia membaca, tekun belajar, dan rendah hati di hadapan ilmu.














