Bulan Sya‘ban: Membersihkan Hati dan Merawat Tradisi Menyambut Ramadhan

Jombang. pcnujombang.or.id – Bulan Sya‘ban menempati posisi penting dalam kalender spiritual Islam. Ia berada di antara Rajab dan Ramadhan, namun justru sering terlewatkan. Padahal, Rasulullah SAW menyebut Sya‘ban sebagai bulan ketika Allah mengangkat amal-amal manusia. Karena itu, beliau secara sadar memperbanyak puasa sunnah sebagai persiapan batin menyambut Ramadan.

Makna dan Keutamaan Bulan Sya’ban

Secara bahasa, Sya‘ban berasal dari kata sya‘aba yang berarti bercabang atau terpisah. Para ulama tafsir isyari memaknai bulan ini sebagai waktu ketika amal-amal manusia bercabang dan diangkat kepada Allah, sementara Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba sesuai kesiapan spiritual mereka. Mereka juga menafsirkan makna “terpisah” sebagai periode jeda antara dua bulan suci: Rajab yang penuh berkah dan Ramadan yang sangat istimewa.

Bulan Sya’ban memang bukan bulan dengan kewajiban ibadah khusus, namun memiliki keutamaan strategis sebagai masa persiapan menuju Ramadan. Rasulullah SAW memberi perhatian besar pada bulan ini dengan memperbanyak puasa sunnah.

Diriwayatkan oleh Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Huzaimah :

عَنْ أُسَامَة بْن زَيْدٍ قَالَ : ( قُلْت : يَا رَسُول اللَّه لَمْ أَرَك تَصُومُ مِنْ شَهْر مِنْ الشُّهُور مَا تَصُوم مِنْ شَعْبَان. قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاس عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَان. وَهُوَ شَهْر تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلَى رَبّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ)

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau (sering) berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”. Beliau bersabda: “Itu adalah bulan yang kebanyakan orang melalaikannya yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Yaitu bulan yang di dalamnya di angkat amalan-amalan kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Maka aku ingin amalanku di angkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (Dinyatakan hasan  oleh Al-Albany dalam Shahih An-Nasa’i, no. 2221)

Dalam banyak riwayat lain, oleh Ahmad, 26022. Abu Daud, 2336. Nasa’i, 2175. Ibnu Majah, 1648

Baca Juga  Tiga Wajah Orang NU: Formalistik, Semi Formalistik, dan Non Formalistik

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها قَالَتْ : مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلا أَنَّهُ كَانَ يَصِلُ شَعْبَانَ بِرَمَضَانَ .

Dari Ummu Salamah radhiallahu anha berkata: ”Aku tidak melihat Rasulullah sallahu’alaihi wa sallam berpuasa dua bulan secara berurutan kecuali beliau melanjutkan bulan Sya’ban dengan Ramadhan.”

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan dalam Lathā’if al-Ma‘ārif bahwa ketika manusia lalai terhadap Sya‘ban. Hal itu justru menunjukkan tingginya nilai spiritual bulan ini. Pernyataan beliau menegaskan bahwa Sya‘ban menjadi momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan menata hati agar lebih siap menyambut Ramadan

Tradisi Orang Jawa Menyambut Bulan Sya‘ban

Di kalangan masyarakat Jawa, khususnya warga Nahdlatul Ulama, masyarakat mengenal bulan Sya‘ban sebagai bulan Ruwah. Istilah ruwah berasal dari kata arwāḥ (ruh). Biasanya masyarakat memaknainya sebagai waktu untuk mendoakan orang tua serta para leluhur yang telah wafat.

Tradisi yang berkembang antara lain Nyadran atau ziarah kubur. Ada juga Kenduri atau selametan, sebagai media sedekah dan penguatan ukhuwah sosial. Ada juga Tahlilan dan istighatsah, memohon ampunan dan kesiapan menghadapi Ramadhan.

Tradisi semacam ini termasuk dalam praktik al-muhāfazah ‘alā al-qadīm aṣ-ṣāliḥ. Hal ini menunjukkan bahwa kita boleh menjaga tradisi lama yang baik selama tidak bertentangan dengan syariat.

Bulan Sya‘ban mengajarkan umat Islam untuk membangun kesiapan menuju Ramadhan tidak hanya melalui ibadah personal, namun juga penguatan solidaritas sosial. Perpaduan amalan sunnah dan tradisi kultural membentuk Sya‘ban sebagai bulan yang kaya makna. Sekaligus menjadi jembatan spiritual dan sosial menuju Ramadhan yang penuh berkah.

Marhaban Syahra Sya’ban 1447 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *