Jombang, pcnujombang.or.id – Langit malam Pacarpeluk tampak tenang, seolah ikut mengantarkan langkah warga NU yang perlahan memenuhi Masjid Baitul Muslimin, Dusun Peluk. Jumat malam itu, 7 Desember 2025, bukan sekadar malam rutin Lailatul Ijtima’. Ada kepedulian yang tumbuh, ada doa yang dipanjatkan, dan ada harapan yang dikirim jauh ke pelosok negeri, tempat saudara-saudara sebangsa sedang berjuang melawan ujian bencana.
Malam penuh Khidmat dan Kekhusyuan
Di dalam masjid, suasana hening menyelimuti. Jamaah duduk rapi, sebagian memegang tasbih, sebagian menyimak lantunan tahlil. Jamaah memulai rangkaian ibadah dengan salat sunnah, kemudian melaksanakan salat Isya berjamaah, dan meneruskannya dengan tahlil serta doa.
Malam itu terasa hangat, bukan karena lampu masjid yang menerangi, tetapi karena hati-hati yang berkumpul dengan tujuan yang sama: mendoakan keselamatan mereka yang tengah tertimpa musibah.

Ajakan Menghidupkan Jam’iyah dari Ketua Ranting NU
Dalam suasana khidmat itu, Ketua Ranting NU Pacarpeluk, Fauzan Hasan, berdiri menyampaikan amanahnya.
Ia mengajak warga NU kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan jam’iyyah yang selama ini menjadi ruh pengabdian warga Nahdliyin.
“Kemandirian organisasi ini harus kita perkuat. UPZIS jangan hanya aktif saat Idul Fitri,” tegasnya.
Ucapannya terasa seperti dorongan lembut namun kuat—bahwa gerakan sosial tidak boleh hanya hadir musiman.

Kiai Latifi : Kebaikan Kecil yang Bernilai Besar
Ketika Rois Syuriyah, Kiai Lathifi, menyampaikan nasihatnya, jamaah menyimak dengan penuh perhatian.
“Kebaikan itu tidak harus besar. Bahkan yang kecil, jika tulus, Allah akan membalasnya dengan balasan terbaik,” ujarnya pelan namun menyentuh.
Kata-kata itu seolah mengingatkan bahwa perjuangan masyarakat Pacarpeluk, sekecil apa pun, tetap berarti bagi mereka yang membutuhkan.
Gus Nine Adien: Lailatul Ijtima’ sebagai Wasilah Penguat Organisasi
Mustasyar Ranting NU, Gus Nini Adien Maulana, mengingatkan bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi wasilah untuk memperkuat organisasi.
Ia mendorong PRNU Pacarpeluk membangun kembali jaringan kader, terutama di lingkup UPZIS.
“Kita cari siapa yang siap menjadi munfiq atau donatur tetap, supaya roda organisasi ini bergerak dengan maksimal,” tekannya.
Nada suaranya mengandung optimisme, bahwa perubahan besar selalu bermula dari keberanian kecil dan tekad kuat.

“Wani Ngalah”: Pesan untuk Menjaga Harmoni
Katib Syuriyah PRNU Pacarpeluk, Abdur Rouf Hasbullah, menutup rangkaian amanah malam itu dengan pesan yang menyentuh ranah paling dalam dalam organisasi: hati dan ego. Dalam filosofi jawa ada istilah “Wani Ngalah” yang memiliki makna mendalam untuk memajukan sebuah organisasi khususnya NU.
“Wani Ngalah itu punya makna 2 yakni wani ngalah untuk keharmonisan, dan wani ngalahi dalam arti aktif untuk kemajuan. Dalam organisasi apa pun, kalau tidak ada yang mau ngalah, harmoni tidak akan tercapai. Dan jika tidak ada yang “Wani ngalahi” berarti siap ngopeni NU, siap untuk diajak tandang gawe, maka organisasi tidak akan bergerak.” katanya.
Sebuah pesan yang sederhana, namun justru itulah pondasi yang sering warga nahdliyin lupa.


Doa yang Mengalir hingga Pelosok Negeri
Para jamaah menutup acara Lailatul Ijtima’ dengan memanjatkan doa bersama, membawa harapan agar para korban musibah memperoleh kekuatan dan keselamatan. Setiap kalimat doa mengalir seperti cahaya kecil yang mereka kirimkan kepada saudara-saudara di berbagai wilayah Indonesia yang sedang terkena musibah.
Ketika jamaah mulai meninggalkan masjid, mereka membawa pulang bukan hanya pahalanya—tetapi juga tekad baru untuk terus berkhidmat melalui NU di Pacarpeluk.
Di Masjid Baitul Muslimin malam itu, Lailatul Ijtima’ bukan sekadar tradisi. Ia menjadi ruang untuk peduli, ruang untuk membangun kembali semangat jam’iyah, dan ruang untuk meneguhkan bahwa doa dan kepedulian selalu menemukan jalannya.














